Desain Grafis Indonesia
Desain Grafis pada Kemasan
drs. AD Pirous MA
APA ITU DESAIN GRAFIS
Desain merupakan seluruh proses pemikiran dan perasaan yang akan menciptakan sesuatu, dengan menggabungkan fakta, konstruksl, fungsi dan estetika, untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Desain adalah suatu konsep pemecahan masalah rupa, warna, bahan, teknik, biaya, guna dan pemakaian yanq diungkapkan dalam gambar dan bentuk.
Kegiatan desain mencakup berbagai bidang, seperti bidang produksi, tekstil, interior, mebel, benda-benda pakai dan segala macam penciptaan benda yang membutuhkan paduan artistik fungsionil dan ekonomis dari yang mempergunakan teknologi rendah sampai dengan yang mempergunakan teknologi tinggi.
Demikian pula dalam bidang desain grafis masalahnya akan menyangkut teknik perencanaan gambar, bentuk, simbol, huruf, fotografi dan proses percetakan, yang disertai pula dengan pengertian tentang bahan dan biaya.
Tujuan utama desain grafis, tidak saja menciptakan desain atau perencanaan fungsional estetis, tetapi juga yang informatif dan komunikatif dengan masyarakat. Bila dilengkapi dengan pengertian psikologi massa, dan teori-teori pemasaran (ekonomi), maka karya-karya desain grafis ini dapat merupakan alat promosi dengan yang sangat ampuh.
Sekarang apa yang kita kenal sebagai dunia desain grafis mencakup bidang kegiatan yang semakin luas, mencakup semua aspek komunikasi melalui bentuk visual mulai dari penciptaan logo (trade mark), perencanaan dan pembuatan buku berikut wajah kulit, ilustrasi dan tipografinya, perencanaan wajah kalender, grafis untuk segala bentuk kemas, desain huruf untuk arsitektur, semua keperluan barang cetakan untuk sebuah hotel, tata huruf judul film dan TV, poster, film kartun, animasi untuk film iklan, grafik-komputer, barang cetakan untuk pelayanan masyarakat lewat benda pos, surat kabar, majalah, sampai dengan rambu lalu-lintas dan sebagainya. Tegasnya semua kebutuhan informasi visuil, yang perlu dikomunikasikan dari seseorang kepada yang lain atau bahkan yang dikomunikasikan secara massal, menjadi bidang kegiatan perencanaan grafis. Hal ini sesuai dengan tuntutan hidup effektif yang selalu membutuhkan informasi yang cukup dan baik.
PERENCANAAN SEBUAH KEMASAN
Kemasan adalah pelindung dari suatu barang, baik barang biasa mau pun barang-barang hasil produksi industri. Dalam dunia industri kemasan merupakan pemenuhan suatu kebutuhan akibat adanya hubungan antara penghasil barang dengan masyarakat pembeli. Untuk keperluan ini kemasan harus dapat menyandang beberapa fungsi yang harus dimilikinya seperti:
- tempat atau wadah dalam bentuk tertentu dan dapat melindungi barang dari kemungkinan rusak, sejak keluar dari pabrik sampai ke tangan pembeli, bahkan masih dapat digunakan sebagai wadah setelah isi barang habis terpakai, (dalam hal ini wadah tersebut masih menyandang fungsi iklannya).
Kemasan bukan hanya sebuah bungkus, tapi juga pelengkap rumah tangga; sebush botol kecap bagus dengan etiketnya yang menarik dapat menyemarakkan suasana tertentu di meja makan atau lemari di dapur; sebuah tempat kertas lap “Klenex” yang didesain menarik dapat memperindah kamar mandi dan botol parfum yang cantik memberikan kekhasan meja berhias seorang gadis.
- mutu kemasan dapat menumbuhkan kepercayaan dan pelengkap citradiri dan mempengaruhi calon pembeli untuk menjatuhkan pilihan terhadap barang yang dikemasnya (bungkus rokok yang berwibawa).
- kemasan mempunyai kemudahan dalam pemakaiannya (buka, tutup, pegang, bawa) tanpa mengurangi mutu ketahanannya dalam melindungi barang.
- rupa luar kemasan harus sesegera mungkin menimbulkan kesan yang benar tentang jenis isi barang yang dikemas.
- perencanaan yang baik dalam hal ukuran dan bentuk, sehingga efisien dan tidak sulit dalam hal pengepakan, pengiriman serta penempatan, demikian pula penyusunan dalam lemari pajang.
- melalui bentuk dan tata rupa yang dimilikinya kemasan berfungsi sebagai alat pemasar untuk mempertinggi daya jual barang. Dalam fungsi ini desain bentuk-kemasan harus mendapat dukungan penuh dari unsur desain-grafisnya, sehingga bentuk kemasan selain menarik harus dapat menyampaikan keterangan dan pesan-pesannya sendiri.
Mengingat konsumen Indonesia yang sebagian besar masih terbatas kemampuan melek hurufnya, maka sampai dengan pertengahan abad ini kita masih melihat bahasa gambar sangat banyak dipergunakan di samping bahasa warna dan huruf. Hal ini, dibuktikan dalam desain-desain merek-dagang, etiket kemasan, serta penggunaan warna untuk memperkuat identitas produk tersebut.
Di samping itu sejalan dengan keterbatasan kemampuan visual dan logika, lahir pula gambar-gambar dan nama-nama sederhana dari benda yang sangat dikenal dalam kehidupan kita sehari-hari, yang oleh industri rokok yang dipilihkan seperti: Djambu Bol, Djeruk, Sapi, Carok, Upet, Pompa, Sugu, Tang, Djarum, Gudang Garam dan sebagainya.
Suatu waktu pabrik rokok kretek Djarum, pernah memproduksi rokok kretek dengan beberapa jenis rasa yang dibedakan dari warna bungkus. Djarum Coklat, Djarum Merah, Djarum Kuning (antara tahun 1950-1960). Semua desain, tipe huruf, dan ukuran sama, kecuali warna dasarnya yang berbeda; jadi di sini ditekankan penggunaan warna. Kemudian, nama-nama aneh muncul dalam gaya seperti ini, sekadar untuk menghindarkan persamaan nama di Lembaga Pencatatan Paten.
Sebuah contoh: Gambar buaya sudah ada pada Lembaga Pencatatan Paten, maka seseorang tidak dapat mempergunakan logo yang sama untuk keperluan desain logo baru. Lalu jalan keluarnya, dia menambahkan kata baru di samping kata buaya, lalu mendaftarkan diri dengan merek “Buaya Gunung”; gambarnya adalah buaya dan gunung (Penelitian Wiyanto, skripsi merek Dagang di Indonesia tahun 1961-1962). Kesederhanaan cara melihat yang berasal dari logika bentuk sering terjadi, karena itu tidak mengherankan bila korek api Jonko ping Tandstick Fabriek, yang bergambar medali atau mata uang di pasar lebih dikenal dan dinamakan “Korek api cap Balon”; apa yang paling segera terlintas difikirkan dan mudah diingat.
Keberhasilan pemasaran suatu barang, tidak hanya ditentukan oleh mutu barang serta usaha promosi yang dilakukan, tetapi juga dalam upaya yang sama oleh mutu dan penampilan kemasan itu sendiri. -
Untuk kenyataan ini kita kenal filsafat pemasaran yang sudah lazim sejak abad ke 19 di Inggris “the product is the package”, barang produk ditentukan oleh kemasannya sendiri. Kesadaran akan kemasan adalah bahagian yang tak terpisah dari barang produk, sehingga tidak mengherankan bila sebuah biro perencanaan grafis bersikap “Kami tak dapat menaikkan mutu barang produk, karena itu kami tingkatan kemasannya”.
Karena itu mutu lain dari sebuah kemasan dinilai dari kemampuannya dalam memenuhi fungsi, di mana kemasan dituntut untuk memiliki daya tarik yang lebih besar daripada barang yang dibungkus di dalamnya. Keberhasilan daya tarik kemasan ditentukan oleh estetik yang menjadi bahan pertimbangan sejak awal perencanaan bentuk kemasan, karena pada dasarnya nilai estetik harus terkandung dalam keserasian antara bentuk dan penataan desain grafis tanpa melupakan kesan jenis, ciri dan sifat barang yang diproduksi.
UNSUR DESAIN GRAFIS
Bahasa desain grafis adalah bahasa visual, bahasa simbol yang diungkapkan melalui gambar, bentuk, warna dan aksara. Grafis harus dapat mengantarkan pesan yang ingin disampaikan oleh produsen barang lewat kemasan yang diciptakan; baik informasi mengenai isi maupun penjelasan mengenai cara pemakaian produk tersebut. Pemilihan tipe huruf yang berkarakter sesuai dengan jenis barang, dipadu saling menunjang dengan gambar ilustrasi yang tepat dan dicetak dengan teknik percetakan yang baik, akan membawakan pesan yang langsung ataupun yang tidak langsung dari barang tersebut terhadap kualitas dan nilainya. Gambar dan tulisan (teks), tidak saja penting sebagai daya tarik tetapi terutama cergas untuk berkomunikasi dengan konsumen tentang keterangan-keterangan yang diinginkan. Teks haruslah jelas, singkat, benar, mudah terbaca dan menyatu dengan desain keseluruhan.
Mempertimbangkan tata tertib desain sangat membantu untuk menghindarkan kesan desain yang kacau balau. Ketiga unsur grafis, gambar, huruf dan warna haruslah dapat menampilkan dirinya secara saling tenggang dan saling tunjang. Bentuk huruf nama produk yang seharusnya tampil utama, tidaklah layak diganggu oleh penggunaan warna-warna kontras yang menyilaukan, sebab warna yang keras hanya dapat berteriak, tapi tidak menyampaikan pesan. Gambar ilustrasi yang berkelebihan akan menenggelamkan pesan informasi tertulis yang juatru lebih penting. Teks yang dicetak dengan warna kuning atas dasar hitam akan sangat jelas terbaca, sebaliknya tulisan biru atas dasar merah akan bergerak memusingkan mata, dan warna kuning muda atas putih akan tidak terbaca. Demikian pula penggunaan bentuk huruf kecil akan lebih mudah dan enak dibaca dari pada huruf besar, dan pemilihan tipe huruf yang sederhana akan lebih menguntungkan dari pemakaian huruf yang dekoratif yang mungkin akan lebih indah tapi sukar terbaca.
Memperhitungkan tinggi dan tebal huruf yang seimbang, dan jarak spasi antara huruf lebih besar dari tebal huruf itu sendiri, sehingga semua pesan yang tertulis sangat mudah terbaca. Hindarkanlah kesan pada konsumen, sehingga seakan-akan kemasan itu berusaha menyembunyikan sesuatu. Dalam pemakaian teks, gunakanlah kata-kata yang mudah dimengerti, tidak terlalu panjang, tidak berarti ganda, karena kecenderungan konsumen adalah selalu mencari produk yang praktis dan bermanfaat yang kemudian baru mempertimbangkan soal harga.
Mengenai gambar atau ilustrasi dapat diungkapkan melalui gambar tangan ataupun melalui fotografi atau keduanya. Fungsi utama dari ilustrasi ini adalah untuk informasi visual tentang produk, pendukung teks, tentang penekanan suatu kesan tertentu atau sebagai penangkap mata untuk menarik calon pembeli untuk membaca teks. Berdasarkan kegunaannya, ilustrasi dengan gambar pada kemas dapat ditampilkan berupa barang produknya secara penuh atau gambar detailnya ataupun gambar yang berupa hiasan, atau ornamen yang simbolis saja.
Ilustrasi melalui gambar fotografi sering digunakan untuk meyakinkan kualitas isi barang; karena lebih menampilkan kenyataan benda tersebut. Hal ini terutama sering dipakai pada kemasan barang makanan. Dengan fotografi lebih mampu menggambarkan bahan dasar alami dari isi produk tersebut (sayur segar, buah-buahan, daging, ikan dan lain-lain).
Demikian pula dapat menunjukkan hasil yang bisa diperoleh dengan menggunakan produk tersebut (sop dengan kuah yang lezat, nasi goreng, kueh yang merangsang selera).
Cara yang sama dapat digunakan untak bidang kosmetik yang menampilkan wajah cantik, paras ayu dengan kulit halus yang lembut; atau rambut rapih yang anggun.
Bahkan lebih jauh dalam bungkus jamu Cap Djago, dipasang tokoh terkenal seperti Titik Puspa dan Mus Mualim, atau bintang terkenal lainnya. Hal ini semata dengan upaya untuk mencitrakan diri terhadap sesuatu yang membanggakan.
Warna adalah hal yang sangat penting dalam komunikasi dengan konsumen. Sehubungan dengan warna pada perencanaan grafis kemasan dapat dirasakan kegunaannya dalam beberapa sudut yang saling berkaitan. Yang sudah jelas kita mengenal 2 penggolongan warna, yaitu warna panas (merah, jingga, kuning) dan warna dingin (hijau, biru dan ungu).
Dari sudut kejiwaan warna panas dihubungkan dengan sikap spontan, meriah, terbuka, memacu gerak dan menggelisahkan, yang disebut “extroverted colour”, sedang warna dingin dihubungkan dengan sikap tertutup sejuk, santai, penuh pertimbangan dan disebut “introverted colours”. Kalau warna merah dianggap warna jantan, lambang darah yang mengalir di dalam tubuh, warna jingga mengesankan bersih, membangkitkan selera, ramah dan hangat. Kuning penuh gairah, ceria dan terang, merah jambu mengesankan kewanitaan dan warna hijau melambangkan suatu yang tumbuh dan harapan, sedangkan warna biru memberikan rasa tenang. Bila hijau membangkitkan ketenangan di bumi, maka biru memberikan kesunyian di langit.
Kecenderungan potensi dari warna ini tentunya dapat diterapkan dengan baik dalam pembuatan kemasan. Untuk menjelaskan kekuatan warna, pandangan dari segi psikologi mengemukakan, bahwa warna lebih dekat hubungan kepada emosi daripada kepada bentuk, sehingga pada sebuah kemasan warna tampil lebih awal dibandingkan dengan bentuk kemasannya dan untuk ini tidak begitu diperlukan pertimbangan-pertimbangan pengamatan.
Dapat kita bayangkan persaingan ketat yang akan dihadapi oleh sebuah produk dengan kemasnya pada sebuah rak pemajangan produk sejenis lainnya yang berpuluh-puluh jumlahnya. Bagi kemasan yang mempergunakan unsur grafis dan warna dengan lebih seksama tentu akan tampil sebagai pemikat utama bagi calon pembeli. Apalagi bila disadari bahwa daya ingat manusia terhadap bentuk lebih lamban dibanding terhadap warna dan orang dapat lupa terhadap nama sebuah produk tapi sukar lupa terhadap warna kemasnya. Sebagai contoh hal ini jelas terlihat pada kemasan film, Kodak (kuning), Fuji Color (hijau), Corned beef Cip/Pronas dan sardencis (merah), Sari Ayu (coklat tua), Mustika Ratu (merah tua).
Penerapan warna terhadap kemasan dapat pula dipertimbangkan dari sudut cerapan warna terhadap cerapan cecap. Dari sebuah angket terbatas mengenai pengaruh warna terhadap cecap (taste) yang dilakukan di antara ibu rumah tangga di Bandung, dapat diambil kesimpulan, bahwa warna merah memberikan cecap manis yang tertinggi, warna kuning memberikan cecap asam yang tertinggi warna biru terang dengan putih memberikan cecap asin dan warna merah-gelap dan hitam memberikan cecap pahit (penelitian Baby Ahnan, Skripsi “Sebuah Penelitian Jelajah Mengenai: Kemungkinan Timbulnya Cerapan Cecap/Akibat Cerapan Warna” Tahun 1983. Kesimpulan ini tentu dapat dipakai sebagai titik tolak pewarnaan kemasan khusus untuk makanan dan minuman di Indonesia.
Seterusnya mengenai masalah warna dalam kaitan selera publik konsumen dapat pula kita catat beberapa hal seperti :
- Warna anggun, canggih (sophisticated), kurang cocok untuk warna kosmetik yang dipasarkan di golongan masyarakat menengah ke bawah. Yang lebih disukai adalah warna cerah, yang agak meriah.
Menjua1 radio dengan warna merah, hijau, atau biru muda akan lebih mudah di daerah pedesaan.
Demikian pula warna bungkus rokok untuk masyarakat menengah ke bawah sebaiknya dengan warna lebih ceria. Sedangkan warna untuk bungkus rokok kretek Filtra yang kemasan cocok untuk kalangan orang bisnis, atau mencerminkan tingkatan sosial tertentu, dan rokok Djarum Super merah-hitam sesuai untuk golongan pemuda yang berjiwa muda atau romantis; apalagi bila didukung oleh kampanye iklan yang agak berbau erotis. Demikian pula untuk beberapa rokok cap tertentu di Indonesia yang pemasarannya di antara konsumen kelas bawah, terdapat keserasian tertentu dalam warna yang dipakai sesuai dengan daerah khas tertentu.
Untuk daerah Sumatera Utara disukai warna kuning pinang masak (chrome) atau warna merah; dan di daerah Jawa dengan warna merah, kuning lemon dan biru tua. Sebagai contoh, rokok Commodore berwarna bungkus merah dipasarkan di Medan dan sekitarnya; demikian pula rokok cap Galan dan Panamas yang konsumen terbesarnya di Sumatera.
Sehubungan dengan warna, dapat pula ditelusuri bahwa suatu jaman kadang-kadang mempunyai satu kecenderungan selera. Untuk generasi yang dibesarkan di sekitar Perang Dunia II, selera warnanya lebih tenang, mengungkapkan warna teduh, nyaris muram. Karena itu lahir satu gerakan kelompok pelukis yang tampil dengan warna-warna cemerlang di Eropah sebagai reaksi terhadap situasi tadi, di antaranya pelukis Josef Albers, Vasarely.
Selera lesu dari era ini diungkapkan dalam cita rasa warna berpakaian dan interior ruang dengan warna pastel abu-abu, kuning gading pucat, atau oker pudar.
Tapi pada generasi berikutnya yang dibesarkan pada masa kebudayaan Pop (Pop Culture), mereka lebih gandrung terhadap warna ceria, kontras, riang dan meriah. Secara psikologis dapat dihubungkan dengan masa “pembangunan” yang kurang mengalami kesukaran, suasana dunia yang lebih damai, terbuka; optimistis. Karena itu warna kemas saat ini umumnya lebih terang dan gembira.
KEMASAN UNTUK EKSPOR
Pada umumnya di Indonesia sampai dengan saat ini masih hidup dengan baik desain kemasan yang tradisionil (baik desain grafisnya maupun bahan yang dipergunakan) di samping desain kemas yang modern, yang pembuatannya didasarkan kepada konsep pemikiran yang modern juga. Bila kita masuk ke sebuah toko barang makanan kecil yang menjual makanan kering seperti jenis krupuk, kacang-kacangan, dodol, kueh kering, tauco, oncom, seperti toko-toko yang terdapat di jalan raya bypass kota Cianjur, maka kita akan temukan sebagian besar barang makanan itu dikemas dalam keadaan sederhana, baik bentak maupun grafisnya. Kemasan yang sebagian besar untuk hasil industri rumah ini, rupanya masih punya tempat dan akrab dengan konsumennya.
Di samping itu di kota-kota besar, terlihat suatu keadaan lain, sebagai hasil perkembangan pasar dan toko setelah tahun 1986 (era orde baru). Seperti kita ketahui roda ekonomi Indonesia mulai bergerak setelah tahun 1966, di mana penanaman modal asing di berbagai bidang, seperti pendirian industri/pabrik, makanan, obat-obatan, pakaian, elektronik, sampai kepada perakitan kendaraan. Pusat-pusat perbelanjaan makin banyak, di samping toko serba ada dan supermaket yang mewah.
Kehadiran toko-toko mewah ini merangsang lahirnya bentuk kemasan baru dari barang produksi dalam negeri. Sifat penjajaan barang di supermaket yang di antaranya setiap barang harus melayani dan menual dirinya sendiri, mendorong para produsen untuk menciptakan produk dengan kemasan yang sesuai. Barang-barang yang dijajakan di sebuah pasar syawalan akan diletakkan sesuai kelompok jenisnya. Sehingga kita akan mudah mendapat jenis barang tersebut sekaligus dengan berbagai ragam, merek, harga, tanda-niaga, isi, penjelasan dan tawaran cita rasanya. Barang produk tersebut tiba-tiba tenggelam ke dalam satu pertarungan yang sengit untuk dapat memenangkan perhatian pembeli. Pertarungan barang tersebut, adalah pertarungan perancangan bungkusnya, karena itu ini adalah pertarungan ilmu merancang kemasan. Untuk menentukan pilihan konsumen harus aktif. Suasana akan berlainan sekali, bila anda berbelanja di satu warung di pasar Inpres di mana pelayan warung akan mengejar anda dengan berbagai informasi dan menggoda anda untuk membeli barang tersebut; dan anda cukup dengan sikap pasif saja.
Seiring dengan derap kemajuan ekonomi kita, telah pula dimulai menggiatkan ekspor barang-barang produksi dalam negeri ke berbagai negara. Upaya ini tentunya harus didukung oleh mutu barang dan sekaligus mutu kemasannya yang berwibawa dan berdaya jual. Mengenai perencanaan kemasan ekspor ini dapatlah dicatat beberapa yang seyogyanya layak menjadi bahan pertimbangan bagi para produsen dan perencana grafis Indonesia.
- Beberapa bentuk kemasan berikut grafisnya dari sebuah barang yang diproduksi untuk pasar luar negeri sebaiknya tidak dibuat sama seperti yang dipasarkan untuk dalam negeri.
- Peka dan faham terhadap berbagai ragam kebudayaan dunia sangat penting dalam memperhitungkan desain kemas untuk ekspor. Hal ini didasari oleh adanya faktor lingkungan setempat yang harus dipertimbangkan. Sebagai contoh dapat diteliti apa yang dilakukan oleh sebuah perusahaan perencanaan dan konsultan untuk marketing dan komunikasi di San Francisco USA “Walter Landor Asoociates. Perusahaan ini telah mempekerjakan desainer dari berbagai bangsa, sesuai dengan kepentingan perencanaan barang untuk berbagai negara yang dituju seperti Jepang, Itali, Jerman, bahkan Inggris. Kemasan untuk ekspor adalah hal yang sangat khas karena itu sebaiknya ditangani oleh desainer dari negara tujuan ekspor yang bersangkutan dan bekerjasama dengan perencana Indonesia.
- Lazimnya kemasan yang akan dipasarkan telah melalui hasil riset di atas dan uji lapangan yang mendalam, baik dalam bentuk dan bahan kemasan maupun desain grafisnya, mengingat tingginya fakta perbedaan iklim, bahasa, kemampuan membaca, syarat perdagangan, pajak, lalu lintas pengiriman dan lain-lain.
- Setiap barang produk yang akan diekspor, haruslah juga melengkapi desain kemasannya dengan persyaratan kode komputerisasi yang telah dipakai di mana-mana, untuk memudahkan penghitungan harga.
- Harus pula mempertimbangkan penggunaan unsur simbolisme yang diucapkan melalui bentuk dan warna. Dapat dibayangkan kebijaksanaan bagaimana yang akan diambil, bila akan merencanakan kemasan kita untuk diekspor, muncul masalah warna dan gambar sebagai berikut:
- Warna “merah”, sangat disukai di Itali, Singapura, Yugoslavia, Meksiko, dan bagi orang Amerika merah adalah warna yang bersih, sedang bagi bangsa Inggris, Chili, Guatemala, Belanda, Venezuela dan Swedia termasuk warna yang kurang disukai.
- Warna “biru” disukai di Inggris, dianggap warna maskulin di Swedia, tapi feminin di Belanda.
- Warna “kuning” dan “emas”, disukai sekali oleh negara-negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Filipina, Burma, Ceylon, Singapura dan Hongkong.
- Warna “hijau”, dianggap sebagai warna yang serasi dan sejuk oleh bangsa Amerika, Iran, Irak, Sudan, Jordania, India, Pakistan, dan bagi bangsa Arab malah dianggap sebagai warna suci yang kurang bijaksana untuk dipakai sebagai warna kemas.
- Warna “hitam”, hampir semua bangsa seperti Amerika, Afrika Selatan, Tunisia, Afganistan, India, Saudi Arabia, Vietnam, Hongkong, Perancis, Jerman, Denmark, dan Australia merasa kurang cocok, tetapi di Spanyol malah banyak dipakai untuk kemasan makanan.
Demikian pula mengenai masalah “gambar”,
- Gambar Harimau, Singa, Naga dan Gajah, disenangi di RRC, Taiwan, dan Hongkong, sedang gambar gajah tidak disukai di Tahiti
- Bagi Singapura dan Malaysia, mereka kurang dapat menerima gambar ular, babi, sapi dan kura-kura.
- India anti terhadap gambar sapi dan anjing, tapi suka kepada gambar monyet.
- Swiss akan peka sekali terhadap bentuk palang merah atau palang putih atas dasar merah.
- Saran khusus yang penting dihayati oleh para produsen dan pendesain kemasan Indonesia adalah agar menempatkan persoalan pengemasan ini, tidak saja sebagai faktor ekonomis yang berhubungan dengan peningkatan pemasaran barang saja, tetapi juga sebagai faktor kulturil yang membawa citra wibawa bangsa. Suatu contoh yang dapat kita tiru adalah apa yang telah dilakukan oleh Jepang terhadap seni pengemasan barang produk mereka. Seluruh nafas keseni-rupaan Jepang dapat terpancar pada rancangan grafis kemasan barangnya; sebagai sebuah tontonan kesenian. Apakah kita layak mempunyai optimisme ke arah demikian, memang sangat tergantung kepada sikap dan keinginan kita sendiri.
Demikianlah secara singkat yang dapat disampaikan dalam kesempatan pembicaraan mengenai peranan desain grafis pada kemasan dan pada akhirnya ingin saya tekankan “Bila bentuk kemas itu hanya dapat melindungi isi barang yang dikemas, tapi desain grafisnya akan menjual barang tersebut kepada pembeli”
Sumber: Buku ”Simposium Disain Grafis” Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia- Yogyakarta, dalam rangka Purna Bakti drs. R. Soetopo sebagai tenaga pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, yang diselenggarakan pada tanggal 4 April 1989.
comment (10) // trackback June 25th, 2007
Masalah Profesi Perancang Grafis di Indonesia
drs. Wagiono
Kegiatan menciptakan rancangan benda cetak untuk tujuan komunikasi grafis telah dilakukan di daratan Cina dan di Eropa lama sebelum abad ke 15. Waktu yang persis tidak ada seorangpun yang yakin, namun contoh-contoh cetakan kuno yang digarap dengan indah cukup banyak ditemukan. Menciptakan hasil cetak yang indah dan komunikatif ternyata sudah menjadi budaya yang punya sejarah panjang. Pekerjaan yang dilakukan para seniman dan artisan pada waktu itu antara lain meliputi persiapan teknik dan artistik untuk memperbanyak gambar dan huruf yang berbentuk poster, pamflet, uang, kartu, buku, dokumen berharga dan benda cetak lain. Teknik yang dipakai telah berkembang dari teknik cetak paling primitif, yaitu cukil kayu (wood cut) dan kemudian disempurnakan dengan ukir kayu (wood engraving), ukir tembaga, etsa, litho, cetak saring dan offset. Setiap penemuan teknik memberi keleluasaan pada seniman untuk mengekspresikan gagasannya secara maksimal. Pada waktu itu, hubungan antara pekerjaan seni (visual) dengan teknik (cetak) terjadi dalam satu bengkel atau gilda cetak yang akrab.
Dengan meningkatnya kebutuhan komunikasi grafis, seiring dengan kemajuan dan penemuan-penemuan dalam bidang teknologi cetak terjadi juga penemuan-penemuan dalam pengaturan pembagian kerja. Salah satu produk modernisasi adalah lahirnya spesialis-spesialis, yang juga terjadi di dalam kegiatan komunikasi grafis. Mula-mula aspek teknik terpisah dari aspek seni atau aspek visualnya. Kemudian terjadi pemisahan-pemisahan lanjut baik dalam bidang teknologi cetaknya maupun dalam bidang perencanaan visual. Lalu, muncul profesi-profesi baru, sehingga seni grafis terpisah dari desain grafis dan selanjutnya dalam bidang desain grafis kita mengenal tipografer, illustrator, art director, creative director, kaligrafer, type designer, graphic artist dan graphic desainer atau perancang grafis, yang masing-masing punya keahlian sendiri. Kalau lingkup kegiatan perancang grafis kita luaskan, pada induk usahanya, yaitu penerbitan, periklanan, pemasaran hubungan masyarakat dan program-program kampanye massal, maka rangkaian daftar spesifikasi spesialis ini akan bertambah panjang. Uraian di atas menggambarkan bahwa profesi perancang grafis adalah profesi yang batas-batasnya luas dan kerap bergeser ke berbagai bidang lain.
Uraian di atas juga menyiratkan bahwa profesi perancang grafis sangat dipengaruhi oleh perkembangan dan keadaan lingkungan sosial, budaya dan ekonomi. Pemahaman akan peranan profesi ini mudah berubah karena ada perbedaan tempat dan waktu. Kalau dulunya profesi perancang grafis ada dalam daerah kerja percetakan, maka sekarang ia sudah jauh dari percetakan. Masalah yang dihadapi adalah komunikasi, yang bisa diartikan secara luas. Karena luasnya peranan ini, maka sangat wajar kalau banyak yang belum mengerti betul tugas perancang grafis. Dan pada akhirnya, citra yang tetap kuat pada perancang grafis di Indonesia adalah di sekitar ilustrasi dan iklan. Pada kesempatan ini baiklah kita membahas masalah profesi ini di Indonesia.
LATAR BELAKANG
Seperti telah kita ketahui, profesi perancang grafis seperti yang kita kenal dewasa ini, adalah profesi yang berkembang pesat sejak masuknya industri periklanan modern di Indonesia segera setelah pemerintah membuka kesempatan bagi masuknya modal asing di awal tahun 70-an. Industri periklanan yang besar umumnya adalah bagian dari suatu mata rantai internasional, sehingga pada waktu itu banyak art director atau creative director asing bekerja di Indonesia. Banyak perancang grafis Indonesia yang memulai kariernya di perusahann-perusahaan ini, setelah melalui studi formal di lembaga pendidikan seni rupa seperti ASRI dan ITB. Pada perusahaan periklanan, pekerjaan perancang grafis mempunyai kendala khusus yaitu ‘pemasaran’. Maka pada tempat seperti ini, perancang yang bekerja biasanya punya tugas menciptakan desain yang ‘menjual’ menurut visi para pemasar. Daerah lain adalah penerbitan jurnalistik dan penerbitan buku, yang juga mengalami boom di tahun 70-an. Dalam hal ini, kita juga melihat kemajuan mencolok dalam tata muka buku, majalah dan surat kabar, bila dibandingkan dengan pada tahun 60-an. Di samping itu, juga terasa suatu kebutuhan komunikasi grafis yang meningkat pada bidang kemasan, hubungan masyarakat, pameran internasional dan sebagainya. Fenomena terakhir yang menarik, adalah munculnya studio-studio desain grafis independen pada akhir tahun 70-an, yang memisahkan diri dari perusahaan periklanan atau penerbitan dan berorientasi pada kebutuhan komunikasi grafis berbagai badan dan lembaga pemerintah maupun swasta. Dengan latar belakang keadaan seperti diuraikan di atas kita dapat melihat masalah-masalah yang dihadapi dalam profesi perancang grafis.
ANTARA PENCIPTA DAN TEKNISI
Perancang grafis, atau desainer grafis, terbiasa bekerja dalam suatu kelompok kerja yang multi disiplin. Ia diharuskan melihat masalah dari berbagai sudut pandang, mengikuti cara melihat para ahli komunikasi dan pemasaran. Sedikit banyak terjadi berbagai kendala yang membatasi kebebasan imajinasinya, karena ia sudah tidak bicara untuk dirinya, tetapi untuk memecahkan suatu masalah komunal. Maka sering terjadi suatu dilema yang menjadi masalah abadi.
Sebagai seorang yang punya latar belakang kesan rupaan, maka seorang perancang masih sering didorong oleh keinginan ‘mencipta’ suatu karya. Semangat ini tidak selalu mendapat tempat dalam kenyataan, di mana sering ia harus berperan sebagai teknisi yang melakukan pekerjaan ‘reka-jasa’ visual menuju terciptanya suatu komunikasi yang ditargetkan, dalam hal ini dibutuhkan suatu keseimbangan sikap. Suatu semangat inovasi dan kebebasan imajinasi tetap penting dan perlu mendapat tempat dalam rangkaian proses penciptaan pesan komunikasi grafis. Di lain pihak, kebutuhan komunikasi itu sendiri sering tidak memberi tempat hagi keinginan mencipta seperti itu. Kerap kita lihat hasil rancangan yang sangat standard, komersial, dan tanpa imajinasi. Banyak rancangan grafis yang diciptakon untuk suatu pemasaran komersial yang tidak punya selera baik dan sekedar memenuhi permintaan pasar saja.
Masalah utama bagi perancang, adalah bawa bila ia sudah dikuasai oleh mekanisme ini, akan terjadi suatu erosi dalam daya cipta dan seleranya, yang akan cenderung terus menurun.
MASALAH EKONOMI
Ternyata daya cipta dan kreativitas ada hubungannya dengan masalah rupiah. Ini bukan suatu ‘excuse’, namun kenyataan sehari-hari yang terjadi di sekitar kita, walaupun tidak berarti bahwa suatu bayaran tinggi menjamin rnutu desain yang prima. Masalah ekonomi selalu menjadi hal penting dalam setiap profesi. Bagi seorang desainer ‘free lance’ atau suatu biro desain masalah ini punya hubungan langsung dengan kegiatan profesionalnya. Berapa besar biaya desain untuk suatu pekerjaan tertentu adalah pertanyaan yang sulit dijawab dengan tepat pada profesi perancang grafis. Seorang dokter atau arsitek lebih mudah menetapkan taripnya karena mereka telah punya standar yang walaupun bervariasi tetapi masih tetap ada dalam batas tertentu. Dalam dunia perancang grafis di Indonesia hal ini sangat tidak seragam dan bergantung pada situasi atau kasus tertentu yang berbeda pada setiap kesempatan.
Bagi desainer yang bekerja pada suatu perusahaan, persoalannya juga sama. Besarnya penghasilan sangat beragam dan bergantung pada situasi tempat dia bekerja. ‘Art Director’ di sebuah biro periklanan terkemuka yang punya ruang lingkup internasional punya penghasilan yang jauh berbeda dengan seorang perancang yang bekerja pada biro iklan lokal di daerah. Tentunya ada tuntutan kerja dan tanggung jawab yang juga berbeda, namun ini memperlihatkan bahwa ada kesukaran untuk membuat suatu standar imbalan jasa yang merata. Bila desainer grafis kita bekerja pada instansi pemerintah, maka yang berlaku adalah peraturan gaji pegawai negeri yang mengikuti suatu pola jenjang tertentu.
PERATURAN PEMERINTAH
Dewasa ini di dalam peraturan pemerintah, peraturan pembayaran jasa yang diizinkan bagi konsultan telah dituangkan dalam suatu petunjuk oleh BAPPENAS, di mana diuraikan keahlian dan golongan serta persyaratan pengalaman kerja dan pendidikan setiap golongan. Tabel BAPPENAS ini dipakai oleh berbagai pihak yang dapat berperan sebagai konsultan dalam berbagai bidang keahlian. Tabel BAPPENAS ini memang merupakan suatu pegangan yang berguna terutama dalam masalah ‘menghitung’ proyek pemerintah, namun masih ada ketimpangan-ketimpangan dalam jumlah yang dasarnya adalah karena tabel ini diciptakan terutama untak pekerjaan konsultasi dalam bidang konstroksi. Dalam dunia komunikasi grafis, tidak sepenuhnya aturan ini bisa dipakai.
Peraturan lain yang tidak mendukung adalah kebutuhan mempunyai Daftar Rekanan Mampu bagi perusahaan yang bekerja untuk pemerintah dimana tidak bisa ditemukan tempat yang tepat bagi perancang grafis. Di dalam peraturan itu ada 3 golongan usaha, yaitu jasa, konsultan, dan fabrikan dan pekerjaan desain grafis paling dekat dengan jasa iklan dan perfilman. Penggolongan ini tidak sesuai dengan alam kerja desainer dan kiranya perlu ditata kembali.
Dalam hal ini, memang perancang grafis tidak berdiri sendiri. Ikatan profesi lain seperti IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) juga mengalami masalah yang sama. Kebijakan yang tepat dalam bidang desain akan merangsang industri jasa konsultali desainer secara tepat. Dewasa ini banyak terjadi kasus di mana terjadi penghargaan yang berlebihan pada konsultan asing dalam transaksi-transaksi desain oleh badan pemerintah maupun BUMN. Hal ini juga perlu mendapat perhatian.
Penanganan masalah desain grafis memang menjadi masalah karena departemen yang membina tidak terlalu jelas. Profesi desainer grafis ada di sekitar wawasan Departemen Perdagangan, Penerangan, Depdikbud, dan mungkin BAPPENAS.
PENDIDIKAN DE5AIN
Perancang grafis yang bekerja di Indonesia mempunyai latar belakang pendidikan yang sangat beragam. Selain pendidikan tinggi pemerintah dan swasta, banyak desainer yang tidak dari jalur desain dan banyak lagi yang mengandalkan pengalaman kerja. Memang, di lapangan terlihat bahwa pendidikan yang tinggi bukan merupakan jaminan mutu desainer. Sebaliknya, banyak desainer yang datang dari pendidikan lain yang bisa berhasil.
Masalahnya, adalah bila diperlukan suatu standar profesi yang baku seperti yang ada pada dokter atau insinyur, maka latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja merupakan suatu tolok ukur yang harus ditata jelas.
Di beberapa negara standar profesi terjadi melalui suatu hukum ekonomi yaitu desainer atau illustrator yang sedang laris boleh menentukan standar. Perangkat tata aturan hubungan kerja yang ada hanya memformalkan hukum ini dan bukan sebaliknya.
Masalah lain dari pendidikan desain tentunya ada kaitannya dengan kebijakan pendidikan nasional kita yang kiranya telah dibahas dalam kesempatan lain.
PROFESIONALISME
Profesionalisme adalah istilah hebat yang sering dituntut dari para perancang grafis. Artinya kira-kira adalah suatu sikap kerja yang bertanggung jawab, efisien, rasional, efektif, jelas prosedur dan tata aturan kerjanya dan melalui suatu proses yang terencana dan matang. Arti yang lain sering dikaitkan dengan bisnis yang menjual layanan keahlian dengan mutu tinggi dan sering dengan bayaran tinggi. Mungkin masih banyak arti lain lagi, namun sebagai catatan semua ini tidak mudah dicapai karena beberapa hal antara lain:
- Suatu profesionalisme hanya bisa terjadi pada suatu iklim kerja umum yang juga profesional. Profesionalisme hanya berkembang di tempat yang siap dan punya standar kerja yang tinggi.
- Profesionalisme juga perlu sarana-lunak, yaitu manajemen atau kiat yang punya standar tinggi. Dengan kata lain, mulai ada suatu perbedaan antara mempunyai keahlian dan menjual atau mengelola keahlian. Ini adalah masalah umum desainer dan seniman di Indonesia. Di satu pihak, suatu pengelolaan yang berlebihan akan berorientasi pada ‘usaha’ akan cenderung mengurangi ‘mutu desain’ atau ’seni’nya. Sebaliknya suatu keahlian seni atau desain yang tidak dikelola akan cenderung tidak terurus dan tanpa orientasi.
PENUTUP
Ini hanya beberapa masalah umum dan khusus yang ada dalam dunia perancang grafis di Indonesia. Masalah ini banyak dan saling terkait, dan tidak bisa diatasi oleh hanya satu pihak.
IPGI, Ikatan Perancang Grafis Indonesia yang didirikan tahun 1980, lahir pada waktu profesi ini juga masih belum memasyarakat. Karena itu pada waktu itu tekanan programnya adalah ‘memasyarakatkan perlunya apresiasi rancangan grafis yang baik’. Kini, profesi ini telah lebih dikenal, walaupun oleh kalangan terbatas dan masalah profesi perancang grafis telah berkembang ke daerah-daerah lain seperti yang telah diuraikan.
Setiap masalah di atas perlu dikaji dan dibahas oleh berbagai pihak yang berkepentingan dan tidak bisa diatasi oleh IPGI sendiri. Dewasa ini, masalah yang dihadapi IPGI cukup banyak dan ada keterbatasan kemampuan pengelolaan. Di samping masalah mutu desain kita yang perlu terus ditingkatkan kita menghadapi masalah profesi yang punya segi banyak. Mudah-mudahan di masa datang IPGI dapat menjadi organisasi yang efektif di dalam menghadapi berbagai permasalahan desain dan penghargaan pada desain serta desainer grafis di Indonesia. Cita-cita para pendiri dan anggota senior IPGI sama dengan aspirasi kita semua, yaitu bahwa pada suatu saat kita bisa mengangkat wajah desain Indonesia menjadi salah satu kekuatan yang perlu disimak di dunia internasional. Saya kira jalannya masih agak jauh.
Terima kasih.
Sumber: Buku ”Simposium Disain Grafis” Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia- Yogyakarta, dalam rangka Purna Bakti drs. R. Soetopo sebagai tenaga pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, yang diselenggarakan pada tanggal 4 April 1989.
comment (4) // trackback June 19th, 2007
Menggairahkan Pertumbuhan Adgi Secara Nasional
Program Lokomotif Adgi 2007-2010
Oleh Danton Sihombing, MFA
Ketua Umum Adgi 2007-2010
Visi bicara uang, semakin besar visi yang kita canangkan semakin besar uang yang kita butuhkan. Dengan skema Program Lokomotif Adgi 2007-2010, diharapkan terbangun kerjasama yang baik dengan pihak ke tiga dalam membangun business model yang dapat menguntungkan bagi ke dua belah pihak. Adgi memerlukan peningkatan modal finansial, untuk itu diperlukan lebih dari satu sumber pendapatan untuk mendanai berbagai program yang mana kini tidak dapat lagi hanya bergantung kepada 1 kantong pendapatan membership fee saja.
Dengan memunculkan 3 sumber pendapatan yang baru akan memberikan dampak positif terhadap keringanan beban membership fee. Sebelumnya membership fee untuk kategori profesional sebesar Rp. 900.000,- per tahun ditambah dengan biaya administrasi sebesar Rp. 50.000,- kini menjadi Rp. 450.000,- per tahun ditambah dengan biaya administrasi sebesar Rp. 50.000,- Sedangkan untuk kategori mahasiswa menjadi Rp. 250.000,- per tahun ditambah dengan biaya administrasi sebesar Rp. 50.000,-. Penetapan membership fee baru ini akan berlaku per 1 Juni 2007 bagi seluruh Adgi Chapters di seluruh Indonesia. Sedangkan kategori korporasi akan diredefinisikan hingga 1 tahun ke depan.
Peringanan beban membership fee ini secara drastis ditujukan untuk meningkatkan volume anggota Adgi di seluruh Indonesia. Dengan meningkatnya volume anggota maka akan lebih mudah bagi Adgi untuk melakukan deal dengan pihak-pihak ke tiga. Saat ini berdasarkan data yang ada Adgi memiliki minimum 150 captive audience untuk kategori profesional dan mahasiswa. Berdasarkan perhitungan konservatif hingga tahun 2010 diharapkan jumlah anggota Adgi dapat mencapai angka 300 hingga 500 anggota.
Program-program yang akan dibangun dalam agenda Program Lokomotif Adgi 2007-2010 terbagi menjadi 3 basis utama, yaitu program-program upstream, midstream dan downstream. Pembiayaan terbesar berada dalam pos analisa industri (upstream), mengingat pelaksana analisa ini harus dilakukan oleh konsultan yang berpengalaman.
Tujuan analisa industri ini untuk memberikan gambaran yang jelas secara kualitatif dan kuantitatif terhadap dinamika industri Desain Grafis di Indonesia, tercakup di dalamnya seperti statistik industri, karakteristik pasar, segmentasi, kondisi industri, faktor sensitif industri hingga faktor sukses industri yang kesemuanya kelak dapat dijadikan sebagai acuan dalam membangun regulasi-regulasi yang berkaitan dengan industri Desain Grafis di Indonesia.
Bila meninjau jumlah sisi mahasiswa yang belajar di jurusan Desain Komunikasi Visual, biro Desain Grafis di Indonesia dan biro desain/branding kepemilikan asing di Indonesia yang pertumbuhannya meningkat setiap tahun, maka idealnya analisa industri ini dilaksanakan paling tidak dalam kurun waktu 3 tahun sekali.
Guna mengoptimalkan program-program yang dapat meningkatkan sisi finansial Adgi maka ditugaskan Irvan N. Suryanto sebagai Direktur Pengembangan Program Adgi 2007-2010. Peran besar dari Direktur Pengembangan Program Adgi 2007-2010 adalah membangun dan mengimplementasikan program-program kategori midstream dan downstream dalam rangka merangkul dua tujuan sekaligus, yaitu untuk meningkatkan modal finansial Adgi dan memberikan benefit kepada para anggota Adgi. Sedangkan untuk program kategori upstream Irvan akan membentuk gugus tugas khusus yang dikonsentrasikan sebagai pendamping konsultan dalam melaksanakan analisa industri.
Fungsi nasional Adgi akan dilaksanakan dengan sesungguhnya lewat pemberdayaan chapters di seluruh Indonesia, yang saat ini terdiri dari Adgi-Jakarta-chapter, Surabaya-chapter, Bali-chapter, Bandung-chapter (dalam pembentukan) dan Jogjakarta-chapter (dalam pembentukan). Untuk mempergiat aktivitas chapters diharapkan para Ketua Adgi-chapters untuk proaktif dalam melaksanakan program dan berlomba kreativitas dalam menciptakan program-program terutama untuk kategori downstream.
Semoga apa yang sudah kita capai bersama hari ini mendorong pencapaian yang lebih besar di hari esok, dan memberikan manfaat yang juga besar buat kita semua. Harapan kita semua agar Program Lokomotif Adgi 2007-2010 dapat berjalan dengan baik. Optimis, mari kita bangun bersama Adgi kita! Salam.
•••
comment (1) // trackback June 12th, 2007
Perkembangan Biro Iklan di Indonesia
Iwan Ramelan
Sehubungan dengan judul makalah yang sudah dijatahkan kepada saya maka dengan izin anda semua saya ingin menambahkan kata ‘dewasa ini’. Penambahan ini banyak disebabkan oleh sempitnya waktu dan keterbatasan sumber dalam meneliti perkembangan biro iklan yang telah berlangsung selama ini.
Selain itu maka perlu saya jelaskan kepada hadirin sekalian bahwa saya merupakan seorang praktisi di bidang periklanan sehingga posisi ini tidak cukup jauh dari obyek amatan untuk bisa disebut netral. Oleh karena itu apa yang saya sampaikan hari ini tidak lebih dari sekedar pengamatan sepintas apa yang terjadi di lingkungan kerja saya yang terdekat.
Banyak definisi diberikan bagi kata ‘periklanan’, akan tetapi pagi ini saya sebutkan salah satu yang paling sederhana dengan harapan agar kita tidak berdebat soal ini. Periklanan adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan pembuat barang, atau pemasok jasa dengan masyarakat banyak atau sekelompok orang tertentu yang bertujuan untuk menunjang upaya pemasaran. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan gambar, suara atau kata-kata, gerak atau bau yang disalurkan melalui media atau secara langsung. Berdasarkan pengertian ini maka ‘Biro Iklan’ adalah lembaga usaha yang memberikan jasa periklanan bagi siapa yang membutuhkan baik perorangan, perusahaan pembuat barang atau pemasok jasa bahkan pemerintah. Oleh karena bentuk pelayanan periklanan meliputi berbagai jenis kegiatan maka dilihat dari skala usahanya ada berbagai ukuran sebuah biro iklan.
Ada kiosk berukuran 1×1m yang menawarkan jasa pembuatan cap dan papan nama toko, di luar kiosknya terpampang ‘Biro Iklan’. Ada rumah kecil yang memberikan pelayanan fotokopi dan agen langganan surat kabar dan majalah. Semangat wiraswasta telah mengembangkan pemiliknya untuk menerima pesanan pemasangan iklan dengan harga resmi. Di bawah tulisan terima Fotokopi kini tertulis ‘Biro Iklan’. Ada sekelompok seniman yang pintar menggambar wanita cantik dan membuat huruf yang rapih dan artistik. Di muka studionya dipasang tulisan ‘Biro Iklan’. Ada gedung berlantai banyak, berkarpet tebal, pegawainya berdasi corak mutakhir, setiap ruangan disejukkan oleh AC dan di luar ada prasasti kuningan yang dietsa ‘Advertising Agency’. Agar pembicaraan kita hari ini dapat mencakup sebanyak mungkin kegiatan yang berlangsung di sebuah biro iklan maka anda semua akan saya ajak untuk berkunjung pada sebuah ‘Full Service Advertising Agency’.
Sebuah biro iklan yang mendukung predikat ini adalah biro yang mempunyai kapasitas untuk memberi pelayanan di tiga bidang yaitu, pertama, konsultasi komunikasi pemasaran, kedua pelayanan perencanaan dan pemesanan media, dan ketiga pelayanan kreatif.
Pelayanan konsultasi pemasaran merupakan barisan terdepan yang berhadapan langsung dengan fihak pemakai jasa periklanan. Minat yang disampaikan oleh sebuah perusahaan atau perorangan pada sebuah biro iklan akan diterima oleh para pakar pemasaran yang mampu berdialog dengan manajer pemasaran dari perusahaan yang membutuhkan jasa iklan.
Kegiatan awal sebuah proses beriklan lebih sering merupakan peristiwa ekonomi. Strategi pemasaran, kebijaksanaan harga, pangsa pasar strategi distribusi, trade relations merupakan pokok-pokok pembicaraan yang paling hangat pada stadium ini.
Semakin besar skala usaha sebuah biro iklan semakin besar pula kemampuannya untuk mempekerjakan ahli-ahli dan pakar-pakar pemasaran yang akan menentukan kualitas hubungan awal dengan para calon pemakai jasa.
Berkembangnya pendidikan ilmu ekonomi telah banyak memberi dorongan bagi pertumbuhan kualitas perusahaan periklanan di Indonesia. Kehadiran modal asing dan kegiatan memproduksi barang-barang yang berasal dari luar negeri telah menghadirkan kegiatan pemasaran global yang dampaknya sangat menentukan kemampuan para pakar pemasaran di sebuah biro iklan dalam berbicara pada tingkat pengetahuan pemasaran yang bersifat internasional.
Sektor kedua yang menunjang predikat ‘full service’ adalah Media. Seperti hadirnya para pakar pemasaran maka perkembangan biro iklan di Indonesia juga sangat ditentukan oleh meningkatnya kualitas pelayanan perencanaan dan pemesanan Media.
Peningkatan ini tidak lepas dari perkembangan industri media yang telah berlangsung sejak dua dekade ini. Tumbuhnya pemancar komersial di segenap penjuru tanah air, masing-masing dengan gaya dan cara pendekatan yang berbeda. Terbitnya puluhan majalah-majalah baru mulai dari yang bersifat umum hingga majalah yang khusus bicara soal rambut, mobil, konstruksi dan komputer. Terbitnya surat kabar yang berdomisili di ibu kota negara, ibu kota propinsi atau ibu kota kabupaten, masing-masing dengan garapan berita yang beda ruang lingkupnya.
Adanya pilihan yang diberikan oleh industri media dan tantangan untuk menemukan rancangan media yang efektif dan terjangkau oleh biaya periklanan yang disediakan oleh perusahaan pemakai jasa iklan, serta riset dan penelitian yang dilakukan oleh perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang jasa riset telah ikut memberikan masukan yang sangat menunjang kualitas pelayanan jasa perencanaan media. Fakta ini telah memberi warna khusus bagi kegiatan periklanan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan secara tepat arah dan terukur.
Sektor ketiga yang juga ikut mendukung predikat Full Service adalah pelayanan jasa kresatif.
Pelayanan jasa kreatif merupakan bagian akhir dari mata rantai proses terciptanya sebuah iklan sebelum disalurkan ke Media. Karena kegiatan dan proses kreatif memberikan wujud bagi sebuah iklan atau pesan maka sering orang mengira bahwa lahirnya iklan ada di tangan seniman. Pandangan keliru ini telah banyak mendorong banyak seniman yang mendirikan biro iklan dan dalam perkembangan selanjutnya lebih sering mengalami kegagalan.
Dibandingkan dengan peran sektor pemasaran dan sektor media, maka peran sektor kreatif masih jauh tertinggal. Sikap dan wawasan yang berkembang di antara para praktisi di sektor kreatif bila kita amati secara objektif masih terpaku pada kaidah-kaidah atau aturan-aturan yang sederhana dan sempit. Sebagian besar dari iklan-iklan yang kita temui di media masih berputar-putar di sekitar penonjolan ‘Product/Consumer benefit’ yang ditampilkan apa adanya. Cara lain yang paling mudah dilakukan adalah dengan menciptakan iklan dengan memanfaatkan strategi Before-After, Sebelum makan obat dan sesudah makan obat. Sikap bangsa Indonesia yang paternalistik sering disalahartikan dengan menerapkan strategi testimonial orang-orang yang terkenal. Kehadiran perusahaan periklanan Internasional di Indonesia sedikit banyak telah memperkenalkan praktek-praktek kreatif yar.g sedikit lebih maju. Format-format pengembangan kreatif yang telah teruji mulai diperkenalkan kepada para pakar bidang kreatif.
Perusahaan iklan internasional seperti J. Walter Thompson, Dentsu, BBDO, Ted Bates, O &M, Saatchi & Saatchi telah mempertemukan cara-cara bekerja mereka dan pemikiran yang berkembang di sini. Sudah barang tentu hal ini tidak selalu mampu memberikan kemajuan yang berarti. Salah satu hambatan yang paling besar adalah keterbatasan bahasa Indonesia untuk mendukung ungkapan-ungkapan yang menarik. Salah satu manfaat yang paling berarti dengan kehadiran perusahaan Internasional adalah format yang mampu mempertemukan orang kreatif dan orang pemasaran dan orang-orang Media dalam satu meja yang membicarakan pemecahan-pemecahan terbaik dalam penyampaian pesan iklan. Oleh karena itu kami, orang-orang yang bekerja di sektor kreatif kini harus memahami makna strategi pemasaran, pangsa pasar, membaca hasil riset kualitatif dan mempelajari demografi. Dengan modal pengetahuan di bidang pemasaran dan prinsip-prinsip Media maka sebelum kita mampu menciptakan iklan yang menarik perhatian khalayak pengamat maka setidak-tidaknya kita sudah menciptakan iklan yang benar dan terarah. Bila pintu Creative Department sebuah biro iklan dibukakan bagi anda maka di sana kita akan bertemu dengan banyak orang yang menyandang berbagai fungsi yang berbeda. Ada Creative Director yang menggariskan konsep isi pesan dan strategi penyampaiannya. Ada Art Director yang menggariskan konsep visual dan naskah, ada visualiser yang mengungkapkan gagasan terwujud berbentuk visual, ada copy writer yang menyusun naskah, ada paste up artist yang merampungkan gambar kerja siap cetak/separasi, ada photographer, ada typographer, ada jingle writer/composer/arranger. Semua orang-orang ini memberikan sumbangannya bagi terciptanya sebuah iklan.
Skenario yang berkembang di sebuah Creative Department pada saat ini menunjukkan kuatnya posisi Creative dan Art Director. Situasi ini banyak disebabkan adanya kesenjangan antara tokoh yang menduduki kedua jabatan itu dan tokoh-tokoh lain yang melanjutkan pekerjaan mereka.
Kurang tingginya kualitas tenaga kreatif di bidang periklanan dewasa ini banyak disebabkan oleh tidak adanya pendidikan khusus yang menghasilkan tenaga spesialis periklanan. Pendidikan Commercial Art yang diselenggarakan di luar negeri merupakan tempat ditempanya para tenaga kreatif yang akan bekerja di bidang periklanan.
Sedangkan pendidikan di sini lebih mengarah kepada pendidikan desain grafis yang lebih menekankan faktor estetik atau pendidikan komunikasi visual yang mempelajari secara luas pemecahan visual masalah komunikasi.
Masih rendahnya kualitas tenaga kreatif dalam biro iklan di Indonesia dewasa ini telah membawa pada praktek pembuatan iklan yang melanggar kode etik maupun standar nilai yang dihormati masyarakat.
Salah satu perkembangan yang menarik akhir-akhir ini adalah keterlibatan biro iklan pada perencanaan kampanye non-komersial. Program keluarga berencana kini diselenggarakan dengan pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada marketing.
Istilah ‘Social Marketing’ kini menjadi kawasan baru para pakar periklanan yang menerjuni kegiatan periklanan non-komersial yang tidak kurang pentingnya bagi Indonesia dewasa ini.
Kalau saya bisa menyimpulkan pembicaraan kita hari ini maka ada satu kata yang sangat sering disebutkan yaitu ‘marketing’. Mulai dari standard marketing, global marketing dan social marketing.
Sehingga kalau kita ingin melihat wajah biro iklan di Indonesia maka salah satu ukuran yang bisa kita pakai adalah sampai di mana mereka terlibat atau berkemampuan dalam memecahkan problem komunikasi dalam kegiatan ‘marketing-marketing’ tadi.
Ada yang terlibat dalam kegiatan menunjang marketing produk-produk yang distribusinya sangat terbatas, akan tetapi ada yang terlibat dengan kegiatan marketing produk yang tersebar luas dan dikonsumir oleh orang yang lebih banyak.
Kualitas dari performance-nya akan terbaca dari citra produk dan tercapai tidaknya tujuan-tujuan marketing yang telah digariskan. Dari catatan yang saya ketahui maka hanya ada biro iklan yang masuk dalam kategori Full Service Advertising Agency. Dari sebanyak ini sebagian besar berada di Jakarta.
Posisi sebuah biro iklan yang sangat terlibat dengan strategi periklanan sebuah produk tertentu telah sangat menutup pintu mereka terhadap orang luar sehingga agak sukar untuk bisa mengintai secara langsung proses yang berlangsung di dalamnya.
Apa yang bisa kita bahas dari tulisan ini barangkali hanyalah membicarakan apa yang, menjadi hasil akhirnya yang muncul di surat-surat kabar atau terdengar di radio, atau yang terpampang di tepi jalan raya.
Semoga pertemuan hari ini bisa mengungkap lebih jauh dengan memadukan pemikiran-pemikiran yang ada di kepala kita masing-masing dan pengalaman-pengalaman berharga yang kita miliki.
Sumber: Buku ”Simposium Disain Grafis” Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia- Yogyakarta, dalam rangka Purna Bakti drs. R. Soetopo sebagai tenaga pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, yang diselenggarakan pada tanggal 4 April 1989.
comment (14) // trackback June 12th, 2007
Sekilas Gambaran Periklanan Tiga Zaman di Indonesia Antara Tahun 1942-1952 (Suatu Rekaman Pengalaman)
drs. R. Soetopo
JENIS PENERBITAN
Pada ketiga zaman, Zaman Penjajahan Belanda, Zaman Pendudukan Jepang, dan Zaman Revolusi Kemerdekaan Indonesia, jenis penerbitan yang umum dapat memuat adpertensi di dalamnya adalah harian, majalah, mingguan, tengah bulanan, bulanan, juga majalah khusus yang terbit tengah tahunan atau terbit secara insidentil. Penerbitan seperti Buku Petunjuk Telepon, Buku Petunjuk Perjalanan Kereta Api (Reisgids), Buku Alamat, Buku Alamat Dagang, Buku Almanak, Penanggalan, Buku-buku, Buku Tulis (Schrift=sekrip) dan lain sebagainya, tidak luput dari pemuatan adpertensi.
Sebagai pimpinan dari KORRA cabang Yogyakarta, penulis telah melaksanakan tiga kali terbitnya Buku Petunjuk Telepon Yogyakarta dan satu kali Buku Petunjuk Perjalanan Kereta Api dan Buku Alamat Dagang Yogyakarta pada Zaman Revolusi Kemerdekaan Indonesia, khususnya pada penerbitan surat kabar.
Baik untuk adpertensi lepas, kontrak jangka pendek maupun jangka panjang (biasanya per tahun), adpertensi usaha, keluarga, pengumuman, dan lain sebagainya ditentukan harganya dengan per “baris”/kolom satu kali muat yang pada tiap-tiap harian lebar kolomnya tidak selalu persis sama. Untuk itu tiap-tiap surat kabar dan biro-biro reklame dan adpertensi selalu memiliki dan memakai alat ukuran tersebut untuk menentukan biaya pemasangan; jadi bukan dengan sistim metriek stelsel seperti sekarang.
Pemuatan dan letak adpertensi lepas tidak selalu dapat dipenuhi sepenuhnya, mengingat waktu memasukkan, besar/kecilnya adpertensi, dengan atau tidak dengan gambar, sifat jenisnya dan lain sebagainya, kecuali apabila adpertensi itu adalah adpertensi kontrak/langganan yang telah menentukan hari serta tempat pemasangannya secara terus-menerus setiap waktu tertentu.
Untuk adpertensi dari Badan-badan Pemerintah yang bersifat sangat penting bagi masyarakat dan adpertensi Kematian diadakan suatu perkecualian.
Pada zaman 1, 2 dan 3 waktu itu, adpertensi yang berwarna di harian agak jarang dilaksanakan, kecuali untuk menyambut atau turut memeriahkan adanya suatu peristiwa (peringatan) yang akbar; dan tentang harga adpertensinya ditentukan tidak lagi dengan “baris”, tetapi dengan sistim “ruang” yang secara graduil dijabarkan dengan bentuk kotak-kotak berukuran cor. Sistim ini untuk memudahkan pelaksanaan operasionalnya baik bagi si pemasang maupun bagi surat kabar ataupun biro-biro.
Untuk di majalah, adpertensi berwarna hanya tersedia di halaman kulit 2, 3 dan 4 saja, sedangkan halaman dalam hanya hitam/putih.
ISI DAN PERANCANGAN ADPERTENSI
Pada umumnya fihak penerbit itu menjual ruang adpertensi dalam penerbitannya, tetapi tidaklah seperti apa yang pernah dilakukan di Amerika tahun 1841 oleh organisasi VOLNEY B. PALMER yang semata-mata hanya menjual ruang adpertensinya kepada biro-biro iklan dan yang tersebut terakhir inipun tidak menunjukkan usaha pelayanan yang baik terhadap pemasang dengan jalan mengarahkan susunan kata-katanya ataupun lay-outnya (C.H. Sandage, 1945).
Biro-biro adpertensi di Indonesia pada zaman 1, 2 dan 3 justru berlomba-lomba menunjukkan itikat baiknya untuk memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada para pemasangnya. Bagaimanapun juga, biro adpertensi adalah suatu usaha jasa.
Di zaman 2 dan 3 khususnya, sebagian besar isi adpertensi di harian berupa penawaran ataupun permintaan barang/bahan perdagangan dari atau oleh Kongsi/N.V./P.T/maatschappy seperti: BORSU MIJ (Borneo-Sumatra Handels Maatschappy), LINDETEVES STOKVIS, DASAAD MUSIN CONCERN, MITSUBISHI, UNILEVER, B.P.M. dan lain sebagainya dalam usaha mereka untuk meng-aruskan barang/bahan dagangannya. Ini memang sesuai dengan situasi dan kondisi pada waktu itu, di mana komoditi itu hanya berputar-putar saja, karena adanya blokade yang ketat. Dengan demikian, maka prinsip dagangnya adalah “makelaarschap”. Iklim semacam ini melanda sebagian besar para pedagang besar dan kecil, sehingga lahirlah istilah “Pedagang Aktentas”, yang mondar-mandir ke sana-kemari dengan membawa tas centengan mencari order pesanan, tetapi tidak memiliki komoditinya.
Sebagian besar perancangan adpertensi produk (dalam negeri) bersifat “anjuran memakai” yang terasa sangat monoton dan akhirnya memuakkan, sekaligus menggambarkan miskinnya kreatifitas bidang “copy-writing” pada masa itu.
Di mana-mana kita dihadapkan pada kata-kata: “PAKAILAH SELALU …” Bagi perusahaan-perusahaan besar dan bonafide, temanya biasanya adalah “mengingatkan kembali” akan nama dan sedikit kata-kata. Penetrasinya difokuskan pada LOGO TYPE-nya.
Pada produk-produk baru dalam negeri kebanyakan produsen tidak mau mengikuti tataran thema yang sesuai dengan teori reklame, tetapi menggunakan trobosan-trobosan langsung ke sasaran, ialah penjualan, sehingga masyarakat sukar mengetahui apakah produk itu lama atau baru saja muncul…
Oleh karena itu, dampak yang kemudian timbul dari usaha trobosan tersebut antara lain dengan dimuatnya adpertensi tentang adanya pengkaburan merk yang mirip; apalagi kalau kedua-duanya belum mempunyai nomor deponir (gedeponeerd, terdaftar, registered).
Dengan sering adanya adpertensi yang bernada pengaduan itu, maka biro-biro reklame dan adpertensi dibebani pekerjaan lagi, ialah jasa penyiapan dan pengurusan pendaftaran merk dagang pada “Kantor Pendaftaran Merk Dagang” yang terletak di Jalan Pool 10 (dulu), (sebelah Barat Istana Negara-Jakarta).
BAHASA
Bahasa yang masih mewarnai kehidupan masyarakat maupun bidang reklame dan adpertensi adalah bahasa bekas penjajah terlama: Belanda. Kata-kata seperti: RECLAME/REKLAME (iklan), AVERTENTIE/ADVERTENSI (iklan di surat kabar/Press Ad), RESTAURANT, BARBIER (Pencukur rambut), TEHUUR (disewakan), TE KOOP (dijual), TANTE, dan lain sebagainya, masih kita jumpai baik secara terucapkan maupun tertulis di mass media. Dalam bentuk secara visual pengaruh “Hollandsch denken en Hollandsch inzicht” (berfikir dan berpandangan ala Belanda) terealisir misalnya dalam adpertensi sebuah RESTAURANT atau HOTEL, di mana selalu tergambar seorang yang berpakaian jas dan celana panjang putih, memakai peci dan… tidak lupa, sebuah serbet yang tersampir di pundak kirinya dalam posisi siap menerima instruksi dari Tuan Belanda! -
Atau visualisasi alam kebudayean Barat lainnya, seperti penggunaan tokoh-tokoh dari Cartoonist Walt Disney dengan Micky Mouse, Donald Duck, Cinderella, Putri Salju dan lain sebagainya, atau adpertensi keluarga tentang kelahiran bayi dengan gambaran seekor burung bangau terbang dengan membawa bayi.
PENGGUNAAN SLOGAN
Penggunaannya pada bidang reklame maupun adpertensi pada 3 zaman itu masih belum banyak, disebabkan jenis produk masih relatif sedikit, terutama pada zaman 2 dan 3, di mana produk baru praktis tidak ada karena situasi dan kondisi pada masa itu kurang memungkinkan. Di antara produk-produk yang ada terutama produk lama yang telah dikenal masyarakat dari zaman 1, yang menggunakan slogannya antara lain dari:
a. Sabun mandi LUX: “9 dari 10 bintang film memakai sabun mandi LUX”
b. Margarine BLUE BAND: “Giman selalu berhasil”
c. Sabun mandi LIFEBUOY: “Awas B.O.” (di Indonesia)
Sabun mandi REXONA: “Behoed U voor B.O.” (di Eropa)
B.O. = Body Odeur (Bau Badan)
Demikian pula penggunaan tokoh-tokoh terkenal baik yang nyata maupun fiktif seperti :
d. Salah satu Bintang Film Barat untuk sabun LUX
e. Si kembar DIONNE dari Canada untuk sabun PALMOLIVE
f. Tokoh GIMAN untuk Margarine BLUE BAND
g. Kera Raksasa KING KONG
h. Salah satu tokoh dari WALT DISNEY
i. Tokoh FLASH GORDON yang spektakuler, dan lain sebagainya
MERK TERKENAL IDENTIK NAMA BENDA
Mungkin dikarenakan sedikitnya barang produk yang sejenis, maka di antara produk yang ada dan yang dipandang paling baik kualitasnya, menyebabkan masyarakat cenderung untuk memandang dan menganggap produk dengan merk yang melekat pada produk itu sebagai NAMA BARANG. Contoh nyata dalam kehidupan masa itu:
a. ODOL untuk pasta gigi (tandpasta)
b. ASPIRIN untuk obat influenza
c. KININE pil untuk penyakit MALARIA; harganya sangat murah dan mudah didapat
d. VIETSIN untuk bumbu masak
e. SILET (King C GILLETTE) untuk pisau cukur
f. BRASSO bahan untuk mengkilapkan barang-barang dari logam
g. KODAK untuk alat memotret (foto-toestel)
Kadang-kadang diasosiasikan pada gambar yang terdapat pada merk barang, seperti:
h. Tjap MATA untuk barang-barang dari logam seperti pisau, gunting, penmes, pisau cukur dengan tangkai dan lain sebagainya
i. Wol tjap KAMBING pengertian untuk jenis textiel dari wol buatan Engeland (Inggris)
PENGGUNAAN HURUF DAN GAMBAR DALAM ADPERTENSI
Hampir semua media cetak dalam tiga zaman itu menggunakan teknik cetak tinggi (hoogdruk), kecuali cetakan untuk benda-benda cetakan yang spesifik mempunyai bobot nilai tersendiri, seperti kertas-kertas berharga, uang kertas, perangko, dan lain sebagainya. Penerbitan yang dikeluarkan oleh fihak Penguasa (Pemerintah), terutama di Zaman Pendudukan Jepang, satu-satunya majalah bulanan yang paling bagus cetakannya (pada waktu itu) adalah majalah “DJAWA BAROE”. DJAWA BAROE adalah suatu majalah berwarna dengan cetakan teknik “cetak dalam” (diepdruk) yang berisi propaganda DAI NIPPON dalam usaha mereka untuk merangkul rakyat Indonesia.
Pemakaian huruf-huruf khususnya untuk harian berukuran paling kecil 5 punt untuk berita dan 6 punt untuk teks di adpertensi, sedangkan untuk kalimat utama (kopregel, headline) dan lain sebagainya, lebih besar sampai mencapai beberapa kali cicero/agustijn sesuai ukuran handzet (zet tangan) yang tersedia dalam percetakan.
Jenis huruf yang dipakai dalam adpertensi pada umumnya bentuk kapital “sanserif” (huruf tanpa sepatu) untuk kop dari keluarga “ANTIEKE” atau “GROTESKE”, termasuk FUTURA, NOBEL, KABEL, sedangkan dari bentuk “serif” banyak dipakai “GARAMONT”, “MEDIAEVAL”, “BODONI”. Penggunaan huruf yang lebih gemuk dari keluarga “COOPER”, “ATLAS” dan untuk khusus kapital dari “FIGARO” (Karel Sartory, 1947).
Apabila dibutuhkan huruf berukuran lebih kecil atau lebih besar dari yang tersedia dalam box percetakan, maka perlu ditempuh jalan dengan teknik “clichering” (dibuat cliche terlebih dahulu); dan ini memerlukan tambahan biaya dan waktu.
Untuk hiasan pinggir dan sudut (rand-en hoekversiering) diperlukan seorang zetter (tukang penyusun huruf) yang kreatif guna membuat adpertensi di penerbitannya menjadi menarik dan akan menyenangkan pemasang atau biro adpertensi. Dalam keperluan yang sangat mendadak di mana tidak mungkin membuatkan huruf, kata ataupun suatu nama dengan huruf yang besar dan terbuat dari bahan zinco, maka jalan keluarnya ialah dibuat dari bahan kayu sawo kecik atau jati. Ini sering dilaksanakan di KORRA cabang Yogyakarta yang penulis pimpin, agar kebutuhannya terpenuhi. Untuk itu penulis mempunyai seorang ahli “woodcutter” dalam biro, di mana ahli itu tidak hanya pandai menangani kayu saja, tetapi juga bahan seperti logam dan tanduk/gading. Khususnya yang berkaitan dengan bahan tanduk, yang pada Zaman Pendudukan Jepang, banyak orang Indonesia yang latah meniru kebiasaan serdadu-serdadu dan bangsa Jepang yang selalu membawa cap/stempel pribadinya berbentuk seperti tabung lipstick dengan berisi tinta merah di dalamnya. Tiap surat apapun sifat surat itu, selalu dibubuhi dengan cap pribadi, menunjukkan akan keabsahan atau autentiknya lembaran itu.
Tentang gambar di harian dan majalah pada umumnya memakai lijn, raster cliche atau kombinasi dari lijn dan raster. Gambar-gambar produk yang diadpertensikan masih banyak yang menggunakan teknik “digambar” secara “lijn”, yang nantinya akan menjadi “lijn-cliche”. Hanya sebagian kecil yang menggunakan “raster cliche” dikarenakan faktor teknis, seperti: kalau digambar, penggambarannya sendiri adalah masalah, setelah tercetak belum tentu terang/jelas atau bersih disebabkan rasternya terhadap jenis kertas, tinta cetaknya sendiri, dan lain sebagainya. Teknik lain untuk mendapatkan gradasi bidang, tetapi jenis clichenya tetap jenis “lijn”, ialah dengan teknik “arsiran”, titik (dots), “scraper board” atau “skretchboard”, atau menggunakan aplikasi dengan “film”, yang bisa dibeli di toko alat-alat tulis menulis dan perusahaan cliche. Kurang seringnya pemakaian cliche dengan raster untuk adpertensi, disebabkan pada masa itu masalah “FOTO” (film dan alat potretnya) masih langka dan dianggap “lux” sekali. Oleh karena pemakaian “lijn-cliche” lebih banyak dari pada dengan “raster”, padahal bahan baku 1embaran zincum baik yang 2 maupun 3 mm tebalnya merupakan komoditi import, maka penulis sering mendatangi percetakan-percetakan baik di Yogyakarta sendiri maupun di luar (Magelang, Solo, Semarang) untuk membeli cliche-ciiche, “raster” bekas secara kiloan. Setelah cliche bekas itu dilepas dari kayunya, bagian belakang yang tidak ada rasternya (gambarnya) digosok dengan ampelas besi sampai rata dan dengan cara demikian maka biro telah mempunyai persediaan “stock” bahan untuk cliche.
Apabila suatu adpertensi dengan gambar (cliche) yang harus dimuat pada beberapa harian, di kota-kota besar di Indonesia, maka cara yang dipakai adalah dengan membuatkan di percetakan beberapa “matrijs”, hasil afdruk dari cliche zinco sebagai induknya.
Karena “matrijs” ini ringan (terbuat dari karton bercampur bahan asbes, sehingga tidak mudah terbakar), lagi murah ongkos “afdruk”nya, maka penyampaiannya ke harian lebih praktis dengan cukup memasukkan “matrijs” tersebut ke dalam amplop surat biasa. Sesampainya di harian yang dituju, maka “matrijs” itu dituangi cairan timah hitam (lood) yang kemudian menghasilkan cliche persis seperti cliche induknya, hanya sekarang “cliche stype” ini jauh lebih berat. Sekiranya adpertensinya sudah tidak akan dimuat lagi, maka “cliche stype” ini dilebur kembali.
Adanya perusahaan-perusahaan pembuatan cliche secara sederhana itu merupakan partnership yang baik bagi penerbit dan biro iklan, meskipun bagi perusahaan cliche sendiri cukup merepotkan untuk bisa mendapatkan bahan-bahan kimianya, zincumnya dan berusaha keras untuk menemukan cara-cara pelaksanaan yang lebih praktis, mengingat semua serba sulit didapat.
Adpertensi dengan dasar warna hitam dan huruf putih (kertasnya), merupakan suatu hal yang “istimewa”; bukan karena menyangkut segi “strategi optis” dalam reklame, tetapi lebih ditekankan pada segi “teknis pelaksanaan, sarana dan beaya”, mengingat situasi dan kondisi pada waktu itu. Lebih-lebih apabila ukurannya relatif besar. Maju dan tidaknya suatu harian atau majalah, tercermin dari halaman-halaman adpertensinya. Pada penerbitan-penerbitan yang pada halaman-halaman adpertensinya terdapat bidang-bidang segi panjang bertepi garis dan di dalamnya tercetak kata “VACANT” (kosong), mencerminkan betapa gersangnya lahan adpertensi pada penerbitan itu.
KEDUDUKAN BIRO-BIRO
Pada masa itu ada 3 macam Biro, ialah pertama: BIRO REKLAME (Reclame Bureau) yang merencanakan, melaksanakan pembuatan media dan sampai pula melaksanakan pemasangannya. Kedua: BIRO ADPERTENSI (Advertentie Bureau) yang merupakan rekan kerja bagi Penerbit-penerbit dalam usaha turut memasukkan adpertensi-adpertensi di dalam penerbitannya dengan mendapatkan komisi yang besarnya disesuaikan dengan “bobot” usaha jasa itu sendiri.
Ketiga: BIRO REKLAME dan ADPERTENSI (Reclame dan Advertentie Bureau) yang di dalam aktivitas kerjanya merupakan gabungan dari dua BIRO tersebut terdahulu.
Di zaman 2 dan 3, seingat penulis, ada beberapa nama BIRO, seperti di:
JAKARTA:
1. “KORRA”, singkatan dari Kantor Oeroesan Rumah, Reklame dan Adpertensi beralamat di Jalan Molenvliet Barat 7 (lantai I); sebelah selatan jalan Alaydrus, di bawah pimpinan R.M. SOEJADI HADIKOESOEMO, tempat di mana penulis untuk pertama kali bekerja dalam dunia reklame dan adpertensi tahun 1943-1944.
2. “IRAB”, bergerak hanya dalam bidang adpertensi dan beralamat di jalan Sawah Besar.
3. “TANDJOENG”, bergerak dalam bidang adpertensi.
4. “UNILEVER”, mengurusi reklame dan adpertensi produk-produk yang menjadi tanggung jawabnya sebagai perusahaan dagang yang besar dan sebagai “grossier” untuk Indonesia. Perancang-perancang reklamenya di bawah pimpinan Art Director B. HURKIE, seorang Belanda.
BANDUNG:
“BOEDI KSATRIA” bergerak dalam bidang reklame dan terutama adpertensi.
SEMARANG:
1. Studio Reklame “SRI MOERTONO”, di bawah pimpinan Sri Moertono (alm) dan mengutamakan pembuatan poster besar perjuangan Republik Indonesia beralamat di Jalan Bodjong, muka gedung BPM (Pertamina).
2. “KORRA” cabang dari Jakarta, pimpinan dirangkap oleh pimpinan Jakarta. Beralamat di: Jalan Djoernatan (dekat Gereja Blendoek) kompleks Perusahaan/Kongsi Dagang/Bank.
YOGYAKARTA:
l. “KORRA” cabang Jakarta; dibuka tahun 1944 di bawah pimpinan penulis sendiri, beralamat di Jalan Gondolayu No. 14, telp. 275 (lantai 1), sekarang: Jalan Jendral Soedirman. Bergerak dalam bidang reklame dan adpertensi dengan 13 orang terdiri dari staf dan karyawan.
2. “CARARA” bergerak di bidang reklame dan adpertensi di bawah pimpinan Pak BROTO dengan perancang grafisnya: KENTARDJO. Beralamat di sudut Jalan Perwakilan (sekarang) sebelah Barat.
BIRO ADPERTENSI sebagai suatu usaha jasa dan partner penerbit, mendapatkan “KOMISI” sebagai imbalan. Besar kecilnya komisi berkisar antara 10 sampai dengan 20%. Bagi biro yang dipandang dan dianggap “bonafide” oleh penerbit baik dari segi “correct dan perfect”nya cara bekerja, terutama yang menyangkut moral dan tanggung jawab finansial Biro bersangkutan, mendapatkan penuh 20%.
Pembayaran jumlah adpertensi yang dimuat dalam jangka waktu satu bulan, pelunasannya dilaksanakan pada setiap tanggal 5 bulan berikutnya setelah dipotong komisinya. Bahaya yang selalu mengancam dalam usaha jasa ini terletak pada kecermatan cara bekerjanya, terutama yang menyangkut “isi” adpertensi. Kasus “kesalahan” penulisan isi merupakan “momok”.
Di samping biro sebagai pelaksana jasa COLPORTAGE, maka surat Kabar/majalah dan biro mempunyai colporteurnya masing-masing; bedanya: yang pertama orangnya sebagai colporteur lepas, tidak digaji oleh mass media, tetapi mendapatkan kartu identitas SEBAGAI COLPORTEUR. Sedangkan yang kedua, merupakan karyawan dari biro yang tugasnya terutama sebagai COLPORTEUR dan digaji tetap oleh biro.
Perusahaan, Produsen, Lembaga/Kantor, Perorangan dan lain sebagainya, sebagai “pemasang langsung” ke surat kabar/majalah, seingat penulis tidak mendapatkan komisi dari Penerbit; dan mengenai beaya pemasangannya harus langsung dibayar sete1ah dimuat. Oleh karena itu mereka lebih suka menyerahkan hal ini kepada biro saja; lebih efisien. Seeara tidak langsung “policy” penerbit ini memberikan kesempatan lapangan kerja bagi mereka yang berprofesi dan meningkatkannya demi manfaat bagi kedua belah fihak.
Untuk setiap adpertensi yang dimuat melalui suatu biro, oleh penerbit diberi kode Inisial sesuai nama bironya, seperti: K untuk KORRA, dilengkapi nomor urut adpertensi; I untuk IRAB; T untuk TANDJOENG, dan seterusnya. Demikian pula pada setiap ILUSTRASI atau GAMBAR dalam adpertensi, diberi kode nama bironya sebagai hak cipta biro.
MEDIA REKLAME
Terutama di zaman 2 dan 3, di mana keadaan bidang perdagangan dan usaha produksi menjadi tidak bergairah dikarenakan kehidupan masih diliputi suasana perang, menyebabkan lesunya penggunaan media reklame oleh para produsen dan pengusaha.
Kalau ada umumnya terbatas hanya pada media seperti:
a. PAPAN REKLAME (Reclame Borden) yang berintikan nama, visualisasi produknya dan sedikit pesan. Berukuran lembaran seng dan dipasang di kedua belah tepi jembatan yang menghubungkan Jalan Molenvliet Barat dengan Molenvliet Timur Jakarta (sekarang: Jalan Gadjah Mada dan Hayam Wuruk). Ukuran yang lebih kecil dipasang di TRAM LISTRIK Jakarta pada semua lijn (jalur) di bagian luar gerbongnya; sedangkan di dalam dipasang poster cetakan. Kalau ada yang berukuran lebih besar dan lebih baik mutu bahannya, maka itu adalah Papan Propaganda dari Pemerintah sebagai Penguasa.
b. PAPAN NAMA (Naambord), pada umumnya dibuat agak bersifat permanen, tetapi hanya bisa dibaca/dilihat pada siang hari, mengingat pada malam hari suasana diluar rumah harus gelap sesuai instruksi/perintah fihak penguasa agar tidak kecolongan oleh pesawat tempur musuh untuk menjatuhkan bomnya. Suasana ini terasa pada Zaman Pendudukan Jepang dan Zaman Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia, terutama di daerah “REPUBLIK”.
c. POSTER “out-door” maupun “in-door” dengan teknik cetak tinggi di atas kertas pada umumnya berukuran folio atau lebih besar sedikit mengingat sukarnya mendapatkan bahan-bahannya (kertas, tinta cetak, clichenya, warna dan sebagainya) sedangkan perizinan (sensop) merupakan kendala yang terasa sangat mengganjal.
d. PLAKAAT sebagai benda tempel umumnya ada yang tercetak, tetapi banyak pula yang dengan sistim “schablon” (bukan screenprint) yang tradisionil dengan menggunakan pola dan alat semprot untuk mewarnainya. Sebagian isi plakaat ada yang ditulis tangan atau digambar, terbuat dari kertas sederhana dan kadang-kadang kertas merang, bersifat agak insidentil misalnya untuk publikasi suatu pertunjukan sandiwara (contoh: Pertunjukan Panggung “MISS T]ITJIH”, “MISS RIBUT”, “DARDANELLA” (Jakarta); Sandiwara “BINTANG SOERABAYA”, BINTANG TIMUR”, atau KElOPRAK dan DAGELAN MATARAM (Yogyakarta).
e. SPANDOEK (Banner):
Tidak banyak dipergunakan untuk mempromosikan produk/jasa, tetapi banyak untuk keperluan Propaganda Politik, seperti akan adanya rapat raksasa, pernyataan dukungan ini/itu, ajakan-ajakan yang menggebu-gebu dan agitatif. Ini umum berlaku terutama di daerah “REPUBLIK”. Terbuat dari bagor ber”kwalitas” halus, sedang atau kasar dengan cat minyak kalengan produk dalam negeri yang setelah dicatkan catnya tidak mau kering dan warnanya seperti darah. Kalau ada yang terbuat dari bahan kain “blatjo”, “mreki” atau mori kasar, setelah spandoeknya pagi terpasang rapih, untuk target selama 3 hari atau lebih, maka malamnya barang itu sudah lenyap secara misterius. Mungkin sudah “menjelma” menjadi beberapa potong celana pendek. Lumayan!
f. PEMBUNGKUS (Packaging):
Tentang pembungkus di zaman 2 dan 3 keadaannya sangat “zielig” (memelas) kata orang Tempo Doeloe. Pada umumnya bahannya dari kertas karton kasar, kertas HVS, kertas merang untuk barang ukuran kecil, sedang untuk barang-barang yang dipandang agak “LUX”, masih ditambahkan dengan lapisan kertas cellophaan (kertas kaca). Bahan lainnya: gelas, kaleng, kayu triplex. Cetakan pada pembungkus umumnya teknik cetak tinggi, termasuk hanya di-CAP (di-STEMPEL) satu per satu dengan tangan. Kalau ada yang berwarna, maka pada umumnya cetakannya “mringis”, atau meleset. Fungsi pembungkus di sini hanya sebagai pembungkus dalam arti yang sebenarnya, tanpa dilandasi strategi psychologis terhadap isi yang ada di dalamnya. Ini disebabkan situasi dan kondisi waktu itu yang serba sulit dan susah.
g. ETALASE (Pajangan, Window Display)
Untuk kota Jakarta dan Bandung masih dapat disebut lumayan, tetapi apa yang terdapat di daerah “REPUBLIK” menurut penulis, sangat jauh berbeda. Di kota perjuangan Yogyakarta terdapat banyak etalase yang berbentuk seperti “gudang”, karena hampir semua barang yang tersedia di dalam toko itu, dipajang dalam etalasenya. Akibatnya ruang sempit itu menjadi penuh sesak. Bahan dekorasinya sangat minim; untuk memberikan warna yang atraktif dipergunakan “Kertas CREPE” (Kertas Klobot) yang sangat sukar mendapatkannya. Tidak perlu memikirkan jenis lampunya, karena malam hari praktis tidak berfungsi dan bahkan bagian ini ditutup dan hanya pintu masuk/keluar yang dibuka.
h. LICHTBAK (Neon-sign):
Praktis tidak berfungsi, karena larangan fihak penguasa akan bahaya serangan udara malam hari oleh pesawat musuh dan penghematan stroom listrik. Media ini berbentuk kotak pipih, berkerangka besi atau kayu dan berdinding kaca, di mana di dalamnya terpasang lampu T.L. (Tube Lamp), atau lampu “boog lamp” (bulb, plentong), sedangkan dasar dari pada bidang tulisan/gambar pada umumnya gelap pekat. Bentuk huruf-huruf yang terlihat memberikan kesan huruf neon (silindris), oleh karena itu secara umum masyarakat menamakan “Reklame NEON”.
i. SLIDE di Gedung Bioskop:
Masih cukup banyak pengusaha yang memanfaatkan medium ini, karena beberapa hal: relatif murah, secara visual lebih memfokus, suasana pengamatan lebih menyenangkan dan relax, frequensi pemunculannya lebih besar. Dibuat dengan sistim “plaat kering” (film berukuran 6 x 6 cm - hitam/putih) dan “plaat basah” (salah satu tahapan proses pembuatan negatif kaca dalam zincografie). Pewarnaan dilakukan secara “manual” dengan “KODAK Transparant Water Colour” berbentuk lembaran berwarna. Biro dan Produsen masing-masing mendapat karcis masuk gratis dari pengusaha Bioskop selama jangka waktu pemasangan.
j. MEDIA LAIN seperti:
DEALERHELP hanya terdapat pada toko-toko tertentu seperti Apotik, Toko Kacamata, Toko alat-alat olah raga dan sebagainya.
MERCHANDIZER agak jarang, kalau ada di toko alat-alat tulis dan kantor.
VITRINE, di toko “Klontong” yang agak besar khususnya di bagian Parfumurien/cosmetics.
STICKER, belum model dan belum ada kertas khususnya.
TAS, belum banyak dilakukan, hanya oleh toko-toko besar dan terkenal saja.
PAMFLET (Selebaran)
Digunakan oleh Pengusaha Bioskop, Sandiwara, Organisasi Politik; agak jarang untuk tujuan pemasaran produk.
POSTRECLAME (Direct Mail Adv.)
Dilakukan oleh perusahaan besar, lengkap dengan sample produknya untuk dicoba. Ada yang hanya berisikan informasi lengkap tentang produk yang sedang dikampanyekan. Sumber alamatnya mereka ambil dari “Buku Alamat, Buku Alamat Dagang, Buku Telepon dan informasi langsung dari kenalan.
FOLDER:
Agak jarang ada, karena faktor bahan, teknis dan biaya.
MOBILE DESIGN (Reklame Gantung):
Belum menjadi mode.
INLEGGER (Sisipan dalam penerbitan):
Sering ada juga yang mempergunakan sebagai “kejutan” pada pembacanya; terutama ditrapkan pada harian. Kertasnya berwarna.
Bentuk SAYEMBARA:
Ada yang dengan cara menebak, menjawab beberapa pertanyaan, menguji ketrampilan masing-masing peserta dengan mewarnai suatu gambar pemandangan dan dikirim kembali ke toko atau pabriknya (Sabun mandi LUX). Tiap minggu pemenangnya diumumkan melalui adpertensi di mass media.
SANDWICH MAN:
Meskipun dunia usaha di daerah “REPUBLIK” sangat lesu, namun di kota Yogyakarta penulis sempat menjumpai beberapa kali bentuk reklame ini; ialah seorang berjalan dari perempatan Tugu sampai Kantor Pos Besar melalui Malioboro dengan bagian depan dan belakang orang tersebut digantungi papan bertuliskan “pesan” dari suatu publikasi produk/jasa tertentu. Untuk kamuflase, pelakunya memakai topi, berkacamata hitam, jenggot dan kumis palsu; atau menggunakan topeng sebagai kamuflase total.
Media lain yang tidak kalah uniknya adalah BENDE (gong dalam bentuk kecil). Dipergunakan sebagai “pemberitahuan” akan adanya PELELANGAN barang-barang, atau PERTUNJUKAN yang akan datang.
Sebagai KOMUNIKATOR nya adalah si pemukul bende itu sendiri, sedang pada SANDWICHMAN orangnya diam seribu bahasa.
5PONSORSHIP
Belum banyak dilakukan; bila ada, masih dalam batas-batas yang tidak mencolok sekali.
Itulah antara lain media yang pernah muncul dalam pengamatan penulis selama masa itu.
BAHAN DAN PERALATAN:
Setelah pendudukan Jepang di Indonesia, maka bahan-bahan pada umumnya dan bahan yang dapat dipergunakan sebagai bahan untuk pembuatan media reklame pada khususnya stocknya makin lama makin menipis dan akibatnya cara untuk mendapatkannya dengan cara “kucing-kucingan” dan “tutup mulut”. Lembaran seng, besi, kuningan, tembaga, asbest, eterniet bisa didapat dengan “bisik-bisik” dan harga tinggi, sedangkan lembaran alumunium dianggap bahan “lux” dan langka.
Bahan dari kayu, seperti: TRIPLEX, MULTIPLEX, HARD dan SOFTBOARD, KACA, sama saja sukar mendapatkannya.
CAT MINYAK (kaleng) dan CAT TEMBOK (dalam bentuk bubuk) yang dianggap terbaik adalah dari pabrik cat P.A. REGNAULT dan mendapatkan sebutan masyarakat sebagai CAT “PAR”, yang di Zaman Revolusi Kemerdekaan Indonesia setelah pabriknya dinasionalisasi menjadi “PATNA”. Cat dengan merk lain yang bersifat umum adalah Tjap “KLOMPEN”.
Cat minyak dan cat air, untuk menggambar didominir oleh merk: “TALENS”, “GIMBORN”, “PELIKAAN”, “REMBRANDT” (produk asing), sedangkan dari dalam negeri untuk tinta cetak dari “TJEMANI”.
Jenis KERTAS terbatas sekali jenisnya.
Untuk jenis kertas gambar yang dianggap baik adalah merk “De BIJLTJES” (Kapak), baik dalam bentuk lembaran maupun gulungan.
Jenis lain adalah kertas: PADALARANG, MANILA, KALKIR, CREPE, CELLOPHAAN, KRAFT, BOTERHAM, GRENJENG, PILOS atau MINYAK, PAYUNG, MARMER dan MARMER POLOS, LINNEN, KUNSTDRUK, AQUAREL dan lain-lain.
Sebagai bahan untuk kerangka ataupun tiang papan reklame yang besar-besar, masih banyak yang mempergunakan KAYU JATI, kadang-kadang saja ada yang dengan lonjoran besi siku bentuk V atau U.
Dari apa yang pernah penulis lihat dan alami selama masa itu dan kemudian dibandingkan dengan suasana serta keadaan yang ada sekarang, mendorong pada diri penulis untuk memilih judul tulisan ini sebagai suatu bahan perbandingan dan pemikiran guna memacu pada perkembangan bidang reklame dan adpertensi (periklanan) di Indonesia yang kaya ini, khususnya bagi mereka-mereka yang merasa terpanggil dalam bidang profesinya untuk menjadi insan INDONESIA yang PROFESIONAL.
Semoga.
DAFTAR PUSTAKA:
1. W.H. van BAARLE en F.E. HOLLANDER. RECLAMEKUNDE. Leiden: H.E. Steinfert Kroese’s Uitgevers-Mij N.V. 1946
2. KAREL SARTORY. STRATEGIE DER RECLAME. Baarn: Uitgeverij Schuyt N.V. 1947
3. GEORG SCHEDER. PERIHAL CETAK MENCETAK. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1976
4. C.H. SANDAGE, Ph.D. ADVERTISING Theory and Practice. Chicago: Richard D. Irwin, Inc. 1945
5. RUSSEL LAKER. ANATOMY OF LETTERING. London and New York: The Studio Publications. 1946
6. ANDREW LOOMIS. CREATIVE ILLUSTRATION. New York: The Viking Press. 1947
7. H.K. NIXON. PINCIPLES OF ADYERTISING. New York: 1937
Sumber: Buku ”Simposium Disain Grafis” Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia- Yogyakarta, dalam rangka Purna Bakti drs. R. Soetopo sebagai tenaga pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, yang diselenggarakan pada tanggal 4 April 1989.
comment (2) // trackback June 9th, 2007
R. Soetopo Mangkoediredjo (alm.)
Lahir: 8 Januari 19.. di Lamongan (Jawa Timur)
Alamat: Jalan Cik Di Tiro 32 A, Telp. 5529 Yogyakarta
Pekerjaan:
• Mantan Dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Program Studi Disain Komunikasi Visual.
• Anggota Senat Institut.
• Dosen Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.
Pendidikan:
Tahun 1931 masuk Frabel School
Tahun 1939 diterima di HIS mld Bijbel Magelang.
Tahun 1942 masuk “Princes Beatrix School Chistely ke MULO-C-Afdeeling.
Tahun 1950 masuk Akademi Seni Rupa Indonesia bagian seni lukis, merangkap seni reklame, dekorasi, ilustrasi dan grafik.
Tabun 1955 lulus dengan ijasah I bagian reklame.
Pada tahun 1962 menjadi asisten tetap di jurusan seni reklame.
Bersama-sama dengan 14 pejabat P dan K, pada tahun 1972, drs. Soetopo dikirim ke Jepang untuk mempelajari pendidikan kesenirupaan.
Pada tahun 1978, lulus sarjana (S-1) STSRI “ASRI” Yogyakarta.
Pengalaman kerja:
Pada tahun 1943 bekerja di Biro Iklan “KORRA” (Kantor Oeroesan Roemah, Reklame dan Advertensi) Jakarta.
Tahun 1945 dipercaya memimpin “KORRA” cabang Yogyakarta, dan pada tahun 1949 diperbantukan pada “KORRA” cabang Semarang.
Ketika masih mahasiswa drs. Soetopo “nyambi” mengajar di:
SMA A1 dan II, SMA C1 dan II, SMEA Negeri I, Sekolah Persiapan PTAN (sekarang IAIN) Yogyakarta dan ASRI bagian seni kerajinan.
Pada tahun 1980 terpilih sebagai Dosen Teladan pada “Akademi Teknologi Kulit” Yogyakarta.
Pada tanggal 16 Desember 1987 menerima “Anugerah Pariwara” Indonesia yang pertama dari
Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia Pusat, yang disampaikan oleh Menteri Penerangan Republik Indonesia, H. Harmoko.
Tanggal 1 Februari 1989, menjalani masa pensiun setelah 32 tahun 2 bulan mengabdi negara
sebagai pendidik.
Karya-karya:
• Pada tabun 1945 mendapat hadiah ke II Lomba Poster yang diselenggarakan Dinas Penerangan/Propaganda DAI NIPPON.
• Pada tahun 1947 merancang logo (brand name) Kedaulatan Rakyat yang masih dipakai hingga sekarang.
• Pada tahun 1951 memenangkan lomba desain perangko Asian Games di New Delhi.
• Tahun 1952 memenangkan Sayembara Coklat “Ten Wilde” Jakarta.
• Tabun 1962-tabun 1964 membuat BUL (ijasah doktor HC) dengan gambar tangan dari Universitas Gadjah Mada, IAIN Yogyakarta dan Jakarta, untuk Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Prof. Syeh Saltut dari Kairo, Raja Bhumibol Adandhet, Pangeran Norodom Sihanouk, Drs. R. Soemardi, Dr. Klokke dari Nederland dan Ki Hadjar Dewantoro.
• Tahun 1964, membuat beberapa tunggul dari Angkatan Udara Rl, untuk Pangkalan Udara Maospati (Madiun), Pangkalan Udara Malang, Pangkalan Udara Panasan Solo dan Duaja Akademi Angkatan Udara di Yogyakarta.
• Tahun 1969 membuat desain packaging untuk beberapa produk dari PT Sari Husada (SGM, SNM, VITALAC), dari PT Mirota (KSM dan Lactona).
• Tahun 1970 membuat piala untuk pemenang Ratu Pariwisata Nasional tahun 1970.
comment (2) // trackback June 8th, 2007
Pameran Grafis ‘80: Karcis Parkir, Uang Kertas sampai Karung Semen
Leonardo
Apa itu seni? - tanya seorang mahasiswa
Dalam sejarah seni rupa, barangkali baru kali ini yang namanya karcis sebuah pertunjukan, atau karcis masuk sebuah taman hiburan, atau sebuah karcis kendaraan, dipamerkan. Aneh memang. Tetapi memikat dan agaknya menyiratkan suatu manfaat bagi penikmatnya. Kenapa musti dipamerkan? Itulah. Ada kisahnya sendiri. Dan rupanya tak hanya karcis-karcis saja yang ada di situ, di dalam Pameran Grafis 80′ yang berlangsung tanggal 24 sampai 30 September tersebut. Banyak yang lain-lain, yang unik dan mengundang satu kesimpulan: ternyata barang-barang seperti itu sah juga untuk digelarkan dan dijadikan suatu pertunjukan. Misalnya: kotak obat atau dos-dos tempat makanan. Bukan kotak atau dosnya yang musti kita simak, tetapi keindahan dari kotak atau dos itu. Ada juga uang-uang atau perangko-perangko. Eh, maksudnya desain uang dan perangko. Rancangan bentuk benda-benda tersebut sebelum muncul sebagai barang yang memiliki nilai standar. Dari situ kita lantas tahu, oo, ternyata begitu tho “mentahannya” uang itu, atau sebesar itu tho gambar asli sebuah perangko sebelum dicetak kecil dan digebuki gagang stempel pak pos. Di sana juga terpajang kwitansi, sampul kaset, dan sebagainya. Pokoknya semua benda yang dicetak dan disebarkan dalam jumlah banyak.
Memang sebuah pameran yang unik.
“Apakah ini juga termasuk seni mas?” tanya seorang mahasiswa. Masih dan memang termasuk seni. Pertanyaan yang nampaknya “naif” tersebut muncul justru dari suatu kewajaran. Benda-benda yang dipamerkan itu adalah benda-benda yang sudah amat dekat dengan kehidupan kita. Sementara pada umumnya yang dianggap seni (karena kesalahan dialektis) selalu yang berada agak terpisah dari kehidupan kita. Ada jarak. Sesuatu itu bisa dianggap tinggi, eksotis, atau bahkan yang eksentrik. Yang amat dekat, dan melibat dengan kita, biasanya lantas dilupakan nilai-nilai seninya.
Seseorang pasti tak sadar bahwa setiap hari ia sebenarnya mengantongi benda seni di sakunya. Benda itu adalah uang. Uang itu seni, karena sebelum ia keluar dari bank, ia dirancang dahulu oleh seorang seniman. Di Jakarta, setiap hari disebarkan jutaan barang seni. Barang itu adalah; karcis bis. Siapa sadar bahwa benda itu seni?
Pameran yang menampilkan 47 perancang grafis itu seolah menyadarkan kita bahwa: seni tak hanya yang bisa kita tonton dalam pertunjukan formal saja. Tapi juga pada yang melekat dalam kehidupan sehari-hari kita.
DUA MISI
Ada dua misi yang ingin disampaikan dalam pameran ini, demikian keterangan panitia pelaksana dan koordinator Bidang Pameran, Harsono. Pertama, memperkenalkan Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) sebagai sebuah wadah orgarnisasi para perancang grafis di Indonesia yang baru diresmikan pada hari pembukaan pameran Grafis ‘80 24 September 1980. Kedua, memperkenalkan bidang perancangan grafis secara luas, baik karya konsumtif komersil seperti iklan, ataupun yang non-komersil seperti uang kertas, perangko, sampul buku, majalah dan kaset sampai pada poster instansi pemerintah maupun swasta dan usahawan.
Drs. Wagiono, Ketua Ikatan, yang juga dikenal sebagai salah seorang pengajar di LPKJ maupun Trisakti, mengatakan bahwa IPGI mempunyai misi jangka panjang untuk memperjelas kedudukan seorang perancang grafis di hadapan masyarakat yang menjadi konsumennya. Mengapa harus demikian? Bukankah perancang grafis sudah diketahui banyak orang - mereka bekerja di penerbit, percetakan, studio grafis, perusahaan periklanan dan ada yang bekerja bebas?
Seni grafis tidak sama dengan, rancangan grafis, dan rancangan grafis juga bukan bidang grafika. Itu jawabnya. Seorang seniman seni grafis tidak perlu menunggu pesanan, seorang ahli grafIka hanya memikirkan soal teknis percetakan dan permesinan. Tetapi dari seorang perancang grafis dituntut lebih banyak. Dia berdiri di antara dua tuntutan lingkungannya. Di satu pihak adalah pemesan yang kadangkala mempunyai selera yang sulit dimengerti dan diterima untuk dilemparkan ke pemasaran, sementara di lain pihak si perancang dituntut memberikan input yang sehat dan segar bagi konsumen dan masyarakat.
Jawaban ini tampak begitu njelimet, barangkali. Tetapi persoalannya sudah jelas. Seorang perancang grafis adalah seorang perencana dan pembuat gambaran (visualizer) permintaan sebuah pihak untuk diantarkan dan disampaikan kepada pihak lain, dan sebelum mencapai tujuan, karyanya masih harus melalui meja seorang ahli grafika sebagai pihak pembuat realisasi tekniknya.
Gebrakan IPGl ini rupanya tidak sia-sia. Sejak awal tahun ini mereka berusaha menyusun sebuah program yang harus segera bisa direalisir. Tanggal 25 April 1980 mereka mengukuhkan susunan pengurus sementara. Target pertama adalah sebuah pameran rancangan grafis yang diusahakan selengkap mungkin dan mempunyai rnisi informatif. Sasaran publiknya adalah mahasiswa, pengusaha penerbitan, percetakan dan periklanan, serta masyarakat luas terbatas.
Tanggal 24 September 1980, dengan mengambil tempat di Lingkar Mitra Budaya Jakarta, mereka meresmikan ikatan ini dan membuka pameran Grafis ‘80.
Yang dipamerkan cukup lengkap seperti yang telah disebutkan di atas, dan banyak yang baru disadari oleh pengunjung bahwa karya itu termasuk bidang perancangan grafis. Seperti misalnya logo atau lambang, typography, kartu ucapan, iklan, poster, perlengkapan kantor dalam bentuk kop surat, kartu nama, kwitansi, buku faktur, tanda parkir Istana dalam Perayaan 17 Agustus, tanda dada, buku dan sampulnya, ilustrasi untuk itu, brosur, kartun dan karikatur untuk tata letak penerbitan, animasi, perencana sampul kaset, penyusunan surat kabar dan majalah dan lain-lain.
Praktis tiga buah ruangan dipenuhi dengan panil-panil yang memperlihatkan karya-karya yang sehari-hari sering kita pegang dan jamah.
HASIL RISET
Ibu Pia Alisjahbana pimpinan redaksi majalah kesayangan kalian ini berkata: ”Sebuah tim kerjasama yang ketat dan kompak merupakan salah satu keunggulan hasil kerja para perancang grafis untuk mencapai hasil maksimal”. Agaknya pesan ini bukan cuma sekedar pesan atau komentar biasa - pengalaman banyak memberikan hasil nyata untuk suatu hasil yang baik.
Coba perhatikan GADIS yang kalian pegang sekarang ini, pandang baik-baik dari halaman termuka (sampul) sampai pada halaman terakhir. Ini adalah salah sebuah karya seorang perancang grafis. Bagaimana photo sampul itu direncanakan, merupakan hasil kerjasama tim artistik dan photographernya. Bagaimana huruf judul rubrik dibuat, itu adalah kerja para artis ruang perancangan grafis. Untuk apa si Jon membuat kartun menghiasi judul rubrik? Itu kebutuhan rancangan grafis. Mengapa nama GADIS sendiri di kulit majalah begitu sederhana tetapi anggun? Itu (mungkin) hasil riset para perancang grafis GADIS - bahwa seorang gadis Indonesia mempunyai ‘wajah’ sederhana tetapi anggun.
Apa untungnya mengetahui itu semua bagi kita? Rancangan grafis menyampaikan pesan seseorang kepada kita, bagaimana sifatnya, apa maunya dan apa isi pesan itu sendiri. Sebuah kartu nama yang mungil berwarna putih dengan huruf biru berukuran mungil pula, tampaknya memberikan kesan bagi kita bahwa si pemilik kartu nama itu mempunyai sifat yang sederhana dan penuh kedamaian - ini kalau memang dirancang dengan teliti dan baik. Tetapi sebuah poster PLN yang menampilkan ilustrasi kartun karya Pramono (Sinar Harapan) tampaknya memberikan kita kesan bagaimana sebenarnya kita harus menyadarkan diri kita sendiri untuk membayar kwintansi listrik dengan baik. Atau goresan tangan Hanny Kardinata untuk dua surat kabar pagelaran Guruh Sukarno Putra dan Swara Maharddhika-nya, cukup mewakili gaya pagelaran itu sendiri. Bagaimana keanggunan dan ‘wajah’ Indonesia ditampilkan di sana melalui goresan tangan yang halus.
Paling tidak, pameran GRAFIS ‘80 ini sudah mencoba dan berusaha untuk memperlihatkan kepada kita bahwa bidang perancangan grafis tidak mempunyai dunia yang sempit, bahkan sebaliknya luas sekali. Hampir semua kebutuhan kita sehari-hari selalu ada rancangan grafisnya.
LOMBA
Dari Koordinator Bidang Pameran dan beberapa pihak IPGI didengar sebuah rencana untuk menyelenggarakan sebuah lomba rancangan grafis bagi mahasiswa atau pelajar di tahun 1981 mendatang. Thema dan kriterianya belum jelas. Bahkan direncanakan pula bahwa IPGI akan mengadakan beberapa workshop mengenai beberapa hal bidang perancangan grafis, serta penerbitan sebuah bulletin bagi para anggota dan simpatisan. Besar sekali kemungkinan media tersebut bisa dijadikan jembatan komunikasi dengan para mahasiswa dan pelajar yang berminat.
Grafis ‘80 agaknya mencatat kejadian ini dengan suatu nafas lega. Satu langkah sudah dikerjakan dan di muka mereka masih menunggu banyak tugas demi kukuhnya profesi rancangan grafis dikehidupan ini, serta menempatkan profesi itu sejajar dengan profesi karya ilmiah lainnya.
Kita tunggu apa yang mereka perlihatkan tahun depan.
Sumber: Majalah Gadis, 30 Oktober-9 November 1980, halaman 60, 62-63.
comment (2) // trackback June 7th, 2007
Langkah Pertama Para Perancang
Bungkus kue, sampul buku, karcis bioskop, kop surat, tak dibuat asal-asalan. Ada satu profesi yang khusus mendukung. Dan sekarang para penggarap itu bersatu. Gebrakan pertama.
Para perancang grafis telah bangkit. Diawali dengan pertemuan awal tahun ini terbentuklah IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia), diresmikan 24 September lalu dengan sebuah pameran rancangan grafis di Mitra Budaya, jalan Tanjung, Jakarta.
Dari tangan 40-an peserta dihadirkan bermacam rancangan grafis: logo, kop surat, kalender, karcis pertunjukan, kulit majalah atau buku, sampai rencana wadah barang dan uang kertas.
“Meneguhkan profesi perancang grafis,” kata J. Leonardo, Sekretaris II IPGI, menjelaskan tujuan ikatan ini. “Meski selama ini karya perancang grafis telah berkembang, si perancang sendiri seperti dilupakan.”
Mungkin Leo agak mendramatisir. Tapi biasanya orang memang tak peduli siapa si pembuat - ketika ia tertarik pada sampul buku, bungkus rokok, prangko, apalagi inisial nama perusahaan yang tercetak pada kertas surat atau, gambar uang kertas. Ah - sama saja dengan lagu: orang senang menerimanya, menggemari penyanyinya, tapi tak tahu siapa yang menggubahnya. Lain dengan lukisan - biasanya ada pertanyaan: “Karya siapa ini?”
Tapi berkembangnya rancangan grafis memang belum lama - praktis baru di zaman yang disebut Orde Baru ini. Bisa dipaham. Pekerjaan merancang segala hal yang berhubungan dengan pencetakan tentu saja tergantung perkembangan percetakan sendiri. Dan baru awal 70-an di sini dikenal cetak offset.
Meningkatnya pesanan rancangan grafis juga bisa dilihat dari meningkatnya jumlah berbagai perusahaan, sehubungan dengan masuknya modal asing. Tentu saja terutama yang berhubungan dengan rancangan iklan.
Etik Sosial
Dilihat dari dua aspek tersebut, wajar bila rancangan grafis dianggap hanya sebagai pelengkap. “Perancang grafis sebetulnya selama ini berada di urutan belakang saja,” kata Wagiono, 31 tahun, Ketua IPGI. Sebagai seni pakai (applied art), apa boleh buat, rancangan grafis - kecuali terikat oleh tujuan - juga oleh pemesan. Ini terutama dirasakan oleh kalangan grafis iklan.
Itulah salah satu hal yang menyebabkan pameran ini praktis hanya menyuguhkan rancangan grafis non-iklan. Menurut Leonardo, para perancang grafis iklan agak ragu-ragu ikut serta - karena hak karya itu telah ada pada pemesan. “Padahal selama ini belum jelas benar masalah hak karya itu, “ kata Leonardo. “Dan salah satu tujuan dibentuknya IPGI ialah untuk menjelaskannya,” Sudah ada konsep yang disusun IPGI tentang kode etik perancang grafis. Antara lain menyangkut masalah standar honorarium, etik sosial dan semacamnya.
Tapi absennya rancangan iklan (dalam program ini hanya ada dua-tiga, dan tak menyolok), memberi kesan yang menguntungkan. Bau konsumtif yang biasanya ditawarkan iklan tak terasa. Pameran ini terasa ‘bersih’: lebih menawarkan grafisnya, daripada barangnya. Sebagian besarnya, kecuali menggarap segi artistiknya dengan pas, juga terasa punya semangat mencari kekhasan.
Nama-nama seperti T. Sutanto, Wagiono, Priyanto S., Karnadi, Hanny, S. Prinka - untuk menyebut beberapa saja - agaknya memang mencoba menyuguhkan rancangan grafis yang, yah, Indonesia, begitu. T. Sutanto misalnya, yang banyak membuat kulit buku terbitan LP3ES. Profil orang yang digambarkannya biasanya memang memberi asosiasi “orang kita”. Tentu, masalah Indonesia atau bukan memang tak sederhana. Dan itu sangat “tergantung pada pribadi perancang iklan masing-masing,” kata Wagiono pula.
Masalahnya menjadi jelas bila menyinggung rancangan grafis jenis iklan. Misalnya, mengapa satu iklan perusahaan batik atau obat selalu memakai potret orang Barat. Juga iklan barang keramik - tak terasa lagi menawarkan barangnya tapi menawarkan satu gaya hidup. “Yang digarap perancang grafis biasanya terbatas masalah visualnya saja. Bagaimana membuat huruf yang baik, gambar yang efektif, agar yang dituju tercapai,” kata Ketua IPGI. Jadi bukan yang lain-lain itu.
Adakah IPGI berkeinginan meniupkan semangat keindonesiaan? Baik Wagiono, Karnadi atau Leonardo, mengatakan sulit. Meski mereka setuju: lewat pameran ini diharapkan ada dialog antar perancang grafis mengenai masalah-masalah itu. Tentu dengan mengingat bahwa rancangan grafis - terutama yang berhubungan dengan periklanan - memang hanya bagian dari satu dunia bisnis.
Sumber: Majalah Tempo, 4 Oktober 1980, halaman 37.
comment (0) // trackback June 6th, 2007
Pameran Rancangan Grafis: Lahir karena Digasak Mesin
Agus Dermawan T.
Gedung Lingkar Mitra Budaya Jakarta sejak tanggal 24 September sampai 30 September ini sempat menongolkan wajah lain. Jika biasanya kehadirannya mirip sebuah galeri yang menyimpan berpuluh lukisan atau patung, kali ini wajahnya lebih dekat dengan sebuah toko serba ada. Di satu sisi memajangkan berbagai buku, di sisi lain berserakan dos-dos yang menonjolkan aneka warna kemasan. Sementara di bagian lain nampak tergantung puluhan macam kartu ucapan selamat, juga kartu undangan, dan kartu nama. Bahkan, yang membuatnya lebih unik, di sana juga tertempel sejumlah uang kertas yang dikeluarkan sekitar tahun 60 an lampau. Bukan cuma uang kertasnya, tetapi juga disain, atau gambar aslinya sebelum uang tersebut dicetak. Dan sebagainya.
Pemandangan demikian memang belum pernah terjadi dalam sejarah seni rupa Indonesia. Pemandangan yang begitu komplit menyentuh segala sisi sektor kehidupan kita. Pemandangan yang sebenarnya sudah kita kenali, tetapi belum sempat benar-benar disimaki. Panorama tersebut bisa dilihat dalam pameran rancangan grafis pertama yang diselenggarakan oleh IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) yang baru dibentuk bulan April yang lalu.
Terlampau akrab
Pameran semacam memang bukan yang pertama terjadi di Jakarta. Bulan Juni yang lalu 3 perancang grafis telah pula memamerkan karya-karyanya. Tetapi begitu tokh jauh dari lengkap. Karena biar bagaimanapun perancang grafis juga tertangkap oleh spesialisasi. Ada yang ahli atau spesialis membuat logo atau lambang, ada pula yang kretifitasnya merasuk ke soal tipografi atau penciptaan huruf-huruf. Atau yang sengaja mengkonsentrasikan aktifitasnya ke soal animasi dan kartun atau ilustrasi-ilustrasi umum. Karena itulah pameran IPGI yang menampilkan 43 nama itu boleh dianggap sebuah pemandangan lengkap.
Di sana muncul karya Sadjirun, seorang perancang mata uang RI kawakan. Karya asli S. Prinka yang sering menghiasi majalah berita Tempo. Ilustrasi asli cover buku Kusni Kasdut karya Dwi Koendoro. Gambar Guruh Sukarnoputra karya Hanny Kardinata yang dipakai untuk cover pagelarannya baru-baru ini. Juga karikatur Pramono dan GM. Sudarta serta kop-kop rubrik karya Harsono atau poster garapan Cahyono Abdi. Bahkan di situ terpajang pula disain-disain perangko.
Menatap karya-karya asli, artinya belum tereproduksi dalam bentuk di mana karya itu disasarkan, tentulah sangat menarik. Apalagi di sana ada beberapa yang menyertakan proses pembuatannya. Bagaimana sebuah sampul kaset yang bagus bisa terjadi. Bagaimana sebuah kotak obat yang memikat bisa terbentuk. Dan bagaimana film kartun untuk iklan terbuat dengan menarik. Itulah. Dan semuanya tergolong rancangan grafis. Seni yang disiapkan untuk dipasarkan ke hadapan orang banyak, dengan beban memesankan sesuatu kepada khalayak. Entah itu pesan yang sifatnya promotif, himbauan, slogan atau agitatif. Satu karya seni yang hampir-hampir tak diindahkan orang nilainya, justru karena terlampau akrab keterlibatannya. Karena sudah tak ada jarak pandang.
Namun yang patut dipertanyakan, mengapa justru pada abad modern ini istilah ‘rancangan grafis’ atau ‘perancang grafis’ muncul? Dan bukan pada masa-masa sebelumnya?
Cetakan rakam
Pada abad 19 orang membagi 4 cara dalam mengolah seni grafis. Yang pertama cetak rakam, kemudian cetak timbul, cetak bidang dan terakhir cetak sablon. Empat cara itu adalah hasil pengelompokan tehnis kerja etsa, litografi, woodcut, linografi, serigrafi, sablon dan sebagainya.
Meninjau sedikit mengenai cetak rakam. Cetak ini menempuh cara mengukirkan suatu bentuk ke atas sebuah bidang datar. Setelah ukiran dianggap selesai baru tinta cetak dilumurkan di atasnya. Kemudian kertas lunak atau barang apapun yang datar dan tak keras dicapkan di situ. Hasilnya gampang dibayangkan. Tinta cetak yang masuk dalam ukiran, diserap oleh kertas yang dicapkan. Gambar terbentuk. Untuk jenis ini, etsa bisa diambil sebagai contohnya.
Cetak timbul lebih sederhana. Bidang datar ditatah, hingga subyek yang mau ditampilkan (gambar atau tulisan) nongol. Baru kertas atau sebangsanya ditindaskan, setelah tentu saja bidang tertatah itu dibubuhi tinta terlebih dulu. Contoh paling simpel: stempel.
Cetak bidang sedikit lebih rumit, karena ia menuntut pengetahuan kimia yang agak mendalam. Sebagai contoh adalah litografi. Orang mencetak atau menulis di atas batu. Kemudian batu diproses dengan zat-zat kimia hingga terkikis seperlunya, sesuai dengan yang dicoretkan seniman di atas batu tersebut. Usai itu baru kertas dicetakkannya.
Jenis yang terakhir adalah cetak sablon. Cetak ini telah dilakukan orang sejak ratusan tahun yang lalu dengan cara mengerat-ngerat kertas untuk cetakan. Tehnik yang sederhana ini memang membawa akibat kecil: tidak diakui sebagai kerja seni. Tetapi pendapat itu berubah pada pertengahan abad 20. Pada tahun 1930 an diketemukan sarangan (saring). Dan pada masa sesudah Perang Dunia II cetak sablon ini sangat populer dan banyak dikerjakan orang.
Direbut mesin
Empat dasar kerja di atas lantas membuahi ide para ahli untuk terus membiakkan seni grafis. Bukan hanya segi estetiknya saja yang berusaha diangkat, tetapi juga segi tehnis atau pelaksanaannya. Sementara yang namanya etsa, litografi dan sejenisnya masih bertahan dan masih dikerjakan orang (sebagai seni murni) dengan tehnik yang boleh dikatakan tradisional, tehnologi cetak melesat terus ke depan. Cetak timbul melahirkan mesin handpress, atau cetak tindas. Dan tehnik-tehnik lain mengilhami kelahiran mesin-mesin semisal offset, anak tehnologi grafis mutakhir yang sekarang banyak dipakai. Yang luncur dan lancar. Yang menyebabkan seorang seniman tak lagi terlibat secara langsung dalam proses terjadinya hasil final sebuah karya grafis. Namun hanya terlibat dalam penyusunan, pengorganisasian segala sesuatu elemen grafis.
Jika dahulu Henri Touluse Lautrec mencipta poster-posternya dengan sekaligus mengerjakan acuan grafisnya, seniman rancang grafis sekarang tidak. Paul Bruhwiler atau Pellegrini dari Swiss menerima total bahwa ia hanya mendisain posternya. Sementara kualitas berikutnya diserahkan kepada percetakan di Zurich. Begitu juga ketika Thomas Rowlandson menyebarkan karikaturnya pertama kali, tehnik reproduksinya (dengan etsa) dikerjakan sendiri pada awal abad 19.
Dan itu berbeda dengan GM Sudarta yang menyerahkan pencetakan karikaturnya pada sebuah mesin offset. Sudarta hanya mencipta gambarnya saja.
Di sinilah lantas terlahir istilah “perancang grafis”, atau “graphic designer”. Dengan serta merta ia terpisah dari sebutan “pelaksana grafis”. Sebab pelaksanaannya telah direbut oleh mesin-mesin.
Dan yang masuk dalam kotak kategori akhirnya bukan cuma poster, karikatur atau berbagai macam bentuk yang berhubungan dengan penerbitan atau percetakan, namun lebih meluas lagi. Sesuatu yang membutuhkan kecekatan dan kreatifitas dalam pengorganisasian elemen seni rupa, seperti iklan, kemasan, film atau televisi dan lain-lain juga perlu penanganan rancang grafis. Dan nampak, akhirnya semua sektor kehidupan tersentuh. Kehidupan memang perlu keindahan. Rancangan grafis dari awalnya memang menawarkan keindahan.
Sumber: Harian Kompas, Senin, 29 September 1980, halaman VI.
comment (2) // trackback June 5th, 2007
Desain Grafis Indonesia Periode ‘70 an: Komentar-komentar
• Joop Ave, pengguna dan pemerhati rancangan grafis.
Menilai perkembangan bidang perancangan grafis di Indonesia tidaklah mudah, karena terlalu banyak aspek yang harus dipahami, mengingat bahwa bidang ini bukan suatu kegiatan yang berdiri sendiri.
Observasi ini, timbul dari minat dan kecintaan saya pada bidang ini, serta pengalaman-pengalaman pribadi didalam menyelesaikan usaha-penerbitan beberapa buku tentang kegiatan seni dan budaya di Indonesia.
Perkenalan dan hubungan kerja dengan banyak perancang grafis yang cukup lama, memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang dunia mereka dan hasil-hasil karya mereka.
Berdasarkan pengalaman ini, ada beberapa hal yang dapat dicatat, yaitu:
1. Kreativitas dapat dikatakan “lumayan”. Hambatan utama perkembangan kreativitas, adalah kurangnya pengetahuan bahan, serta kurangnya bahan itu sendiri dl Indonesia.
2. Sering kita jumpai karya yang berbau “textbook”.
3. Keberanian didalam melontarkan ide-ide, kurang, mungkin karena terlalu ikut sertanya pemesan atau pemberi proyek, didalam hal-hal yang estetis.
4. Keberanian didalam mempergunakan warna, juga kurang, warna yang dipilih itu-itu juga. Ini menghasilkan karya-karya yang terlihat “Amateurism”
Memang, hal-hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekurangan atau keterbatasan didalam masyarakat itu sendiri secara umum. Misalnya kecenderungan, nilai-nilai orientasi, bahan dan teknik cetak, faktor pemesan dan pemberi order, juga faktor anggaran yang pasti memainkan peranan penting.
Kekurangan atau keterbatasan ini, hendaklah menjadi dorongan, untuk lebih giat bereksperimen dan kreatif, serta lebih memupuk keberanian mencipta dan mengajukan pendapat. Dengan berdirinya IPGI, yang merupakan suatu wadah komunikasi antar perancang, dialog-dialog yang terjadi didalamnya harus dapat meningkatkan kreativitas maupun mutu. Saya menganggap, pameran ini adalah suatu langkah pertama yang penting, dan saya yakin, dunia perancang grafis mempunvai masa depan yang cerah.
•••
• Dhanni Dachlan, peragawati/foto model.
“Saya sering menemui bungkus rokok ‘made in Indonesia’ yang sama sekali tidak menarik - dari bungkusnya. Mengapa bila beberapa merk rokok luar negeri bisa memberikan kreasi lain dalam membuat bungkusaya, misalnya bulat. Demikian juga halnya dengan perangko-perangko Indonesia, mengapa selalu begitu saja bentuknya? Saya tidak melihat suatu kreasi ‘lain’ yang baru, segar, menarik, lain daripada yang biasa. Barangkali belum waktunya?”
•••
• Nani Sakri, peragawati/foto model.
(Pernah studi di jurusan Seni Grafis ITB, tabun 67-71).
Rancangan Grafis adalah seni terpakai, tapi di Indonesia orang masih belum begitu mengenal grafis ini. Dan rancangan grafis di Indonesia belum berkembang, bisa dilihat huruf dari judul film-film (titling) kita, ilustrasi-ilustrasi di majalah-majalah dan lain-lainnya, pokoknya masih kurang deh!”
Sumber: Brosur Pameran Pertama Ikatan Perancang Grafis Indonesia “Grafis ‘80”, 24 September-10 Oktober 1980 di Wisma Seni Lingkar Mitra Budaya.
comment (1) // trackback June 4th, 2007
“Yang Penting Kerja Sama yang Erat dan Ketat!”
(Wawancara dengan Ibu Pia Alisjahbana, Pemred GADIS)
Dengan beberapa majalah GADIS dan FEMINA dihadapannya, Pemimpin Redaksi majalah remaja puteri ini menjelaskan pandangannya tentang dunia perancangan grafis, khususnya dari pengalamannya sendiri berhadapan dengan kesibukan penerbitan majalah, buku dan kehidupan disekelilingnya.
Dan inilah komentarnya:
Memang saya melihat adanya majalah yang seakan-akan tidak memperdulikan wajahnya. Bagi saya, saya percaya bahwa rancangan grafis dan isi majalah itu sendiri harus saling berkaitan, integrated satu dengan yang lain. Keduanya (isi dalam bentuk tulisan, maupun perwajahannya) sampul maupun isi, tetap saling membutuhkan dan sama pentingnya. Mungkin saya sendiri kurang ahli dalam hal ini, karena kebetulan rancangan grafis bukan bidang dan dunia saya, tetapi saya percaya bahwa rancangan grafis atau barangkali istilahnya disini bagian layout, para artis yang mengerjakannya disana, apapun itu namanya - pekeriaan itu tetap saja saya anggap mempunyai daya tarik tersendiri untuk kehidupan sebuah majalah
Rancangan grafis secara total, benar-benar involve dengan kehidupan sebuah majalah - bagaimana susunan foto, bentuk huruf dan warna mengapa tidak begitu, saya percaya para artis itulah yang tahu mengapa harus demikian dan mengapa bukan yang lain. Sudah tentu ini kami bicarakan dalam rapat redaksi yang selalu membahas setiap isi penerbitan dan edisi atau nomor. Layout inilah yang bisa melahirkan imaji-imaji bagi yang melihatnya. Mereka jadi tertarik untuk membeli, membaca dan menyimpan majalah ini, bukan cuma karena isinya saja atau karena gambar-gambar yang indah saja, tetapi juga karena tata letak gambar, bentuk huruf, gambar sampul, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya mengapa saya katakan rancangan grafis mempunyai peranan yang penting di dalam kehidupan sebuah majalah, sama pentingnya dengan penulis, redaksi, fotografer, illustrator dan lain-lain - kesemuanya menjadi satu di dalam sebuah teamwork yang harus ketat!
Kalau kita menengok ke belakang, tahun-tahun disekitar 50-an boleh disebut sebagai dekade suram bagi penerbitan, dan masa itu, semua penerbitan masih mempergunakan warna hitam putih, seperti Star Weekly misalnya. Tahun 60-an bisa dikatakan sebagai awal bangunnya dunia
permajalahan di Indonesia. Mereka bergerak, berusaha sekeras mungkin untuk bisa menarik pembacanya. Ditambah lagi dengan perkembangan percetakan, dengan adanya offset dan lain-lain; kesemuanya ini membantu kemungkinan-kemungkinan yang direncanakan para artis itu sendiri. Jadi secara garis besar perkembangan bidang perancangan grafis tampaknya bersamaan dengan majunya bidang grafika atau cetak mencetak sendiri - itulah sebabnya mengapa mungkin disaat itulah banyak gagasan para artis mulai bisa dilaksanakan di Indonesia, karena sarana dan teknis nya sudah bisa dikerjakan.
Tahun 70-an saya rasa bisa disebut sebagai dekade permajalahan, dan sejak itulah seorang graphic designer memegang peranan penting dalam sebuah majalah. Di luar negeri, bahkan untuk itu - maksud saya di deretan nama redaksi sebuah majalah, harus ada seorang art director khusus - dan hal itu tampaknya belum banyak dikerjakan di Indonesia sini.
Berbicara tentang minat para remaja putri pada bidang Merancang Grafis saya percaya bahwa seseorang juga harus sudah mempunyai bakat. Bakat menggambar merupakan dasar pertama bidang seni rupa atau penjabaran bentuk melalui media pendidikan kearah sana. Kemudian sekolah-sekolah menjadi tempat menempa bakat tersebut dengan baik, sebab disinilah mereka ditempa untuk bisa menempatkan diri di dalam masyarakat.
Di dalam sebuah kelompok kerja dalam sebuah majalah seorang graphic designer harus juga memperhatikan estetikanya, agar apa yang disajikan harus bisa menarik dengan benar dan baik.
Kalau anda sebutkan koleksi F&G kami, mungkin benar bahwa T-shirts koleksi kami itu juga mempunyai unsur grafis. Tetapi semuanya memang berdasarkan kreativitas artis kami disini. Dan itu memang kami berikan kesempatan untuk dikembangkan sebaik mungkin. Tetapi kalau anda tanyakan bagaimana selera yang paling baik diantara remaja, wah sulit. Mereka-reka selera remaja tidak mudah. Barangkali bisa diambil kesimpulan, bahwa kalau ada T-shirt yang laku keras maka itu merupakan salah satu selera remaja pembeli dan pemakainya, tetapi itu belum tentu merupakan jaminan mutunya.
Kesulitan selalu ada, dan kebanyakan karena masalah teknis. Misalnya ada gagasan brillian dari artis kami, tetapi ternyata setelah dicetak hasilnya agak mengecewakan. Barangkali, karena itulah mereka belajar dari pengalaman. Dan mereka semua maju dengan pesat. Atau katakan belajar dari kesalahan yang sudah-sudah.
Saya fikir, ada baiknya apabila pendidikan rancangan grafis yang sudah ada juga mengumpulkan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi pada prakteknya, dan kesalahan-kesalahan ini bisa diberikan dalam kurikulum pendidikan sebagai bahan pengolahan para mahasiswanya. Juga tentang perubahan-perubahan warna diatas berbagai kertas.
Sebab satu hal yang saya fikir penting… bidang rancangan grafis luas sekali dan cukup vital dalam memainkan sebuah teamwork yang ketat merupakan satu cara yang paling ampuh untuk memberikan hasil maksimal.
Sumber: Brosur Pameran Pertama Ikatan Perancang Grafis Indonesia “Grafis ‘80”, 24 September-10 Oktober 1980 di Wisma Seni Lingkar Mitra Budaya.
comment (0) // trackback June 4th, 2007
“Pemesan Juga Harus Dididik!”
(Ringkasan wawancara dengan Bapak Nuradi, INTER-VISTA)
Rancangan grafis mempunyai pengaruh yang besar dalam periklanan, bahkan bisa dikatakan sebagai bagian yang sangat besar integrasinya dengan advertising business. Periklanan banyak sekali mempunyai dan memakai unsur grafika dan grafis. Bahkan dalam printed advertising, kedua hal itu tidak bisa dilepaskan begitu saja. Dan mungkin saya bisa mengatakan bahwa sifatnya lebih fundamentil daripada berbicara soal bahan bakunya.
Dalam film iklan, grafis memegang peranan sangat penting misalnya dalam titling, meskipun tentunya rancangan grafis disini buk