Desain Grafis Indonesia
Ignatius Hermawan Tanzil from LeBoYe talks about design
YOUR CREATIVE LIFE
Around the World in 10 Interviews: Jakarta, Indonesia
Interview by Carmen Pease
Ever wonder what it’s like to be a designer in Barcelona or Buenos Aires, Kenya or Croatia, Australia or Indonesia? We interviewed creatives in ten countries to see what the state of design is like in their backyards.
To coincide with this year’s April International Design Annual, we decided to pull back the grid of latitude and longitude even further and hear, firsthand, what designers in these different countries have to say about design—how their location impacts their work, how clients embrace their creativity, what’s inspiring them and what kinds of projects keep them busy.
Here, Ignatius Hermawan Tanzil from LeBoYe talks about design in Indonesia’s capital.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
LeBoYe
Jakarta, Indonesia
> Where are you located, and why do you enjoy being there?
Indonesia is a large archipelago comprising more than 15,000 islands and spanning three time zones. As a major shipping crossroads in early history, this culturally diverse country is a unique blend of Arabic, Chinese, Malay and European influences, which are still evidenced today in Indonesia’s varied traditions and the diversity of its art forms.
> How would you describe your style?
My design style surely began with my place of birth, its local cultures and traditions, and my humble family background. Second, my formal education at the California College of the Arts was instrumental in helping me focus and refine my personal style.
> What kinds of design does your firm specialize in?
We are an interdisciplinary design firm specializing in creating image and branding identities, corporate communications, corporate brochures, packaging and other marketing collateral. Most of our clients selectively seek us to communicate their ideas in a visually strong and effective manner, with good Feng Shui.
> What’s a favorite project you’ve worked on?
I prefer projects that are developed from the very beginning from nothing, vis-à-vis projects that are half-baked elsewhere. I also have a preference towards book design. Because of the many elements involved, I regard book design much like directing a good play. Much thought has to be given to harmoniously blending the story, rhythm, character and details in one unique package.
> What things influence your work? Where do you get your inspiration?
I am inspired by everything that I experience, learn, read and see. My character, mood and beliefs also influence my work. As a human being from the East, my belief in the power and harmonious alliance of yin and yang has translated well into my works, which are characterized by contrasting colors, shapes and proportions. I often put an unexpected twist, such as a dash of humor, into my design, whenever it is permitted, to make my works more humane and alive.
> How do you think your community and clients view design?
Graphic design in Indonesia (vis-à-vis other, more developed countries) is virtually in its infancy. The creative economy is a relatively new concept in this country, and we are fortunate to be involved in helping the industry grow and improve.
> Do you think there’s anything that sets your location’s design aesthetic apart from other places?
Yes, Indonesia’s rich cultural heritage and tradition inevitably has a strong influence on the local industry’s design aesthetic. An example is evidenced in the traditional batik cloth. Each has its own distinctive design motifs, ornamentations and color combinations. Every intricate detail and design evolves from symbolisms rich in meaning and handed down over the ages, such as in the “Kawung” motif, which is a four-petalled blossom representing Buddhism’s four cardinal directions.
I would hope that every Indonesian graphic designer would also recognize the richness of our heritage and learn to innovatively incorporate it in their respective works. I firmly uphold to the belief that everyone should preserve and protect the uniqueness of their respective cultures. That would be our individual creative contributions against today’s tide of global mass culture and capitalism.
> Is there any cultural proverb or saying that you think influences the way you approach your work?
“Alah (kalah) beli menang memakai.” This is a vernacular version of the universal wisdom of “Making the most of what you’ve got.” Even if one starts out poorly, investing a lot of time and hard work in what you may have available will be eventually rewarded in the end. Another meaning is, to get something with quality, you have to pay the price.
> If you were a color, what color would you be?
Purple. I love purple.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Other interviews in the series
AUTUMN:01: Sydney, Australia
BLOK DESIGN: Mexico City, Mexico
Laboratorium: Zagreb, Croatia
LeBoYe: Jakarta, Indonesia
Steinbranding: Buenos Aires, Argentina
Third World Media: Nairobi, Kenya
Twopoints.net: Barcelona, Spain
weissraum.de(sign): Hamburg, Germany
Yellow Octopus Pte Ltd: Singapore
Zetalab: Milan, Italy
Carmen Pease is HOW’s associate editor. carmen.pease@fwpubs.com.
Source: HOW April 2007
comment (0) // trackback September 27th, 2007
Mencari kedekatan antara graphicdesign.edu dan graphicdesign.com
Tulisan ini merupakan kelanjutan dari materi seminar yang saya berikan pada acara Dies Natalis Universitas Tarumanegara tanggal 11 September 2007. Saat itu saya sampaikan kepada panitia seminar, bosan rasanya harus mengulas kisah klasik tentang sisi siap pakai mahasiswa dalam industri. Namun, kali ini rasanya ada sedikit titik pencerahan ketika Adgi mulai digairahkan lagi.
Saya sampaikan di awal pembicaraan seminar bahwa peran desainer grafis saat ini bukan lagi hanya mengandalkan tingkat kemahiran dalam skill saja, tetapi desainer grafis harus berupaya untuk merentangkan domain desain grafis selebar-lebarnya. Desainer grafis yang memiliki daya saing adalah mereka yang mampu bekerja dengan kelompok interdisiplin untuk membangun strategi komunikasi dan memberikan nilai tambah kepada proses itu sendiri.
Saat ini pihak perguruan tinggi sering dicap tidak mampu melahirkan sumber daya manusia siap pakai, itulah keluhan dari para praktisi desain atau periklanan. Memang, ini terjadi di segala disiplin dan bukan hanya di Indonesia saja. Namun, issue inipun sedikit berkembang, apakah menjadi tanggung jawab sebuah biro desain atau biro iklan untuk membimbing dan mendidik para lulusan untuk memiliki nilai tambah bagi client?
Jika melihat dari sisi bisnis, ‘nurturing’ para lulusan ini menjadi sebuah cost bukannya sebuah investasi bagi perusahaan. Mengapa? Lihat saja, begitu para desainer pemula sudah merasa pandai, maka loncatlah mereka ke biro yang lain, maka ‘yield’ merekapun naik dengan perpindahan tersebut. Namun, sebagian orang berpendapat ini sudah menjadi bagian perhitungan dari resiko usaha, termasuk juga di antaranya aku-mengaku karya dimana dulu dia bekerja. Ah, rasanya tidak benar ini!
Kehadiran Adgi saat ini dibutuhkan untuk memberikan wawasan profesional, baik dari profesional kepada profesional maupun dari profesional kepada mahasiswa. Mengingat pertumbuhan jumlah biro desain semakin meningkat dan jumlah lulusanpun ikut melonjak, walau tingkat kualitas dan kompetensi desainer grafis yang memiliki nilai tambah masih terbilang sedikit di negeri kita ini. Sungguh, pergerakannya agak lamban, orang-orang yang memiliki nilai tambah di medan industri masih yang itu-itu juga.
Adgi telah berupaya sebisa mungkin untuk menelurkan program-program yang bermanfaat. Salah satunya yang bernama ‘Zoom In’, sampai tulisan ini diturunkan telah dilaksanakan selama dua kali. Program ini dikhususkan bagi para praktisi profesional berupa sebuah presentasi bedah kasus dari berbagai biro desain. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan kampus, Adgi sedang menggodok program yang bernama ‘Designer EDGE (Educate, Develop, Grow, Empower). Tujuan program ini memberikan pengetahuan industri bagi para mahasiswa dan juga para pengajar, mulai dari studi kasus, entrepreneurship, methodologi desain/branding/advertising dalam industri, teknologi dan produksi hingga permasalahan HaKI. Diharapkan program ini mampu memberikan kedekatan antara dunia pendidikan dengan industri.
Seperti sebuah ungkapan “If we share the same pain, why don’t we share the same cure?”. Keberhasilan untuk mempermulus jalannya para lulusan untuk menjadi siap pakai dalam industri melibatkan peran para mahasiwa untuk berjuang ‘meminta’ lebih apa yang mereka dapat dari kampus, para pendidik untuk berkolaborasi dengan Adgi, para praktisi untuk memberikan supply ilmu pengetahuan dan juga birokrasi akademis yang harus membantu roda ini bergulir lebih cepat.
Kebersamaan dan attitude yang positif merupakan kunci untuk membangun integrasi ini menjadi prima dan jangan menunggu terlalu lama sebelum tembok antara pendidikan dan industri semakin tinggi dan menebal, kita semua juga nanti yang akan merugi.
Danton Sihombing, MFA.
- Managing Director Inkara Design
- Ketua Umum Adgi 2007-2010.
comment (4) // trackback September 25th, 2007
:output, international award for students in design
Works of any form of design carried out by students usually disappear into drawers after a presentation to a relatively small college audience.
There the work remains invisible to outside eyes.
We want to change that.
:output is the biggest international competition for students in design.
The works selected by the jury will be published in the yearbook :output 11.
Any work related to an area of Visual Communication, such as: Graphic Design, Product Design, Architecture, Photography, Illustration, Typeface Design, Installation Design, Multimedia, Moving Image and Television Graphics is eligible for submission.
The next call for entries will start in november 2007.
The Deadline for submission will be february 2008
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
THE :output STUDENT AWARD
:output organizes every year the biggest award for students in all fields of design worldwide.
In 2006 more than 700 students from 43 different countries have submitted projects to the competition. An international renowned jury selects the works to be published in the yearbook :output and gives gold, silver and bronze awards for the most outstanding projects.
With the competition the :output foundation …
… fosters young talents (also from countries which are usually not on the map of the international design community)
… becomes a radar for new ideas and developments in design
… creates a debate about the future of the design profession
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
THE TEAM
The editorial board of :output
Florian Pfeffer, Amsterdam
is the director of the :output foundation and member of the editorial board of :output. Florian is a partner of the design studio jung + pfeffer with offices in Amsterdam and Bremen. He also is a professor for communication design at the Hochschule für Gestaltung in Karlsruhe (Germany). He is a regular speaker at design conferences and has been teaching at universities in Germany, USA and Lebanon.
Friederike Lambers, Amsterdam
is member of the editorial board of :output and is responsible for the organisation of the :output competition and the yearbook :output. Friederike is a partner of the design studio jung + pfeffer with offices in Amsterdam and Bremen.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
:output CONTRIBUTING EDITORS
Jonathan Barnbrook, Designer, London, uk
Polly Bertram, La SUPSI, Lugano, ch
Irma Boom, Designer, Amsterdam, nl
Linda van Deurssen, Gerrit Rietveld Academie, Amsterdam, nl
Hans van Dijk, Rhode Island School of Design, us
Richard Doust, Royal College of Art, London, uk
Debra Drodvillo, University of Arts, Philadelphia, us
Gert Dumbar, Designer, Rotterdam, nl
Denise Gonzales Crisp, North Carolina State University, usa
Maria Gonzales de Cosio, Universidad de las Americas Puebla, mex
Neil Grant, Manchester Metropolitain University, uk
David Grossmann, Vital - Tel Aviv Center for Design Studies, is
Laurie Haycock Makela, art center college of design, pasadena, us
Steven Heller, School of Visual Arts, New York, us
Ken Hiebert, University of Arts, Philadelphia, usa
Werner Jeker, école Nat. Supérieure des Arts, Paris, f
Eckhard Jung, Hochschule für Künste, Bremen, d
Sadik Karamustafa, Mimar Sinar Üniversitesi, Istanbul, tr
Hanny Kardinata, Universitas Pelita Harapan, id
Andrzej Klimowski, Royal College of Art, London, uk
John Kortbawi, Notre Dame University, Beirut, lb
Sheila Levrant de Bretteville, Yale University School of Arts, New Haven, us
Bill Longhauser, University of Arts, Philadelphia, us
Victor Malsy, Fachhochschule Düsseldorf, d
Leila Musfy, American University of Beirut, lb
Kali Nikitas, Minneapolis College of Art and Design, us
Peter Rea, Hochschule für Künste, Bremen, d
Hans-Dieter Reichert, University of Reading, uk
Makoto Saito, Designer, Japan, jp
Louise Sandhaus, California Institute of the Arts, usa
Ahn Sang-Soo, Hong-Ik University, Seoul, kr
Marian Sauthoff, University of Pretoria, Pretoria, sa
Robyn Stacey, university of western sydney, aus
Serge Serov, High Acad. School of Graphic Design, Moscow, ru
Erik Spiekermann, Designer, Berlin, d
Felipe Taborda, Univercidade Ipanema, br
Kan Tai-Keung, Designer, Hong Kong, chn
Teal Triggs, London College of Printing, uk
Chris Vermaas, Designer, Amsterdam, nl
Omar Vulpinari, Fabrica, it
Xiao Yong, Central Academy of Fine Arts, Beijing, chn
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
THE YEARBOOK :output
:output is a yearbook publishing the works of the best students in design from all over the world covering communication design, architecture, products, interaction design, moving image and photography.
The book is a radar for future developments in design - both formally and conceptionally. It is a sourcebook for professionals as well as for students and educators. Promoting the idea of “design thinking”, :output fosters the development of projects with a social, economical, ecological, political or cultural relevance.
In practical terms, for many students a publication of their work in :output is an important stepping stone for their future careers.
For your copy of :output please contact our publishers:
Verlag Hermann Schmidt Mainz (Germany)
www.typografie.de
phone: +49.(0)6131.506030
:output ISBN 3-87439-684-3
BIS publishers
www.bispublishers.nl
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
comment (1) // trackback September 22nd, 2007
Artworks (2000-2009)
Richard Arifin, Artwork, “Coming too Close”, 2006
Richard Arifin: “Ini adalah yang saya lihat ketika saya datang terlalu dekat dengan imajinasi saya sendiri.”
•••
Richard Arifin, Artwork, “Forever”, 2006
Richard Arifin: “It’s my personal love story..”
•••
Richard Arifin, Artwork, “Wonderland part 1”, 2006
Richard Arifin, Artwork, “Wonderland part 2”, 2006
Richard Arifin, Artwork, “Wonderland part 3”, 2006
Richard Arifin: “Tempat yang tidak akan pernah ada selain di dalam imajinasi saya sendiri, garis2 dan bentuk bercampur menjadi satu menghasilkan euphoria antara jiwa dan visual.. Welcome to my wonderland.”
comment (4) // trackback September 21st, 2007
Richard Arifin
Richard Fang aka Richard Arifin was born in Jakarta in 1984. His love of arts led him to pursue original, and yet experimental artworks where he published and called “madeforyou” at www.madeforyoueveryday.com
Upon graduation from one the most prestigious design schools in Indonesia, Bina Nusantara University, Richard started his career as a young graphic designer at ThinkingRoom - a Jakarta based Ideation Company.
In just short years of his career, he is now an art director for the company, where he oversees major projects for multinational clients. Although, he is not forgetting his true passion for modern arts, alongside his busy schedule, he continues to produce more artworks.
As an artist, most of his artworks resemble vivid colors, cubes, and psychedelic forms. Everyday life is where his inspirations are coming from.
According to him, line is the beginning of all imaginations.
comment (0) // trackback September 21st, 2007
Poster tanpa Teriakan
oleh: Sanento Yuliman
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kata ringkas, kecil atau redam. Tetapi kaya akan retorika. Menghaluskan kekasaran promosi dagang. Poster-poster budaya, sosial, dan niaga di Ancol.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
SEKITAR 170 poster sosial, budaya, dan niaga, karya perancang grafis Jepang, dapat ditonton dalam Pameran Grafis Jepang-Indonesia, di Galeri Pasar Seni Ancol Jakarta, 9-15 Februari. Penyelenggaranya, Ikatan Perancang Grafis Indonesia, dengan kerja sama Japan Graphic Designers Association, dan Pusat Kebudayaan Jepang.
Karya dari tamu itu sekitar 35 poster dan sejumlah rancangan grafis buku, brosur, editorial majalah, kemasan, dan lain-lain. Poster Jepang tidak berteriak. Poster pertama-tama adalah gambar. Kata sedikit, atau kecil - tidak jarang terlalu kecil bagi kita yang terbiasa dengan kata besar dan huruf gajah. Atau, diredam: tak amat nyata.
Gambar, meski memenuhi bidang poster, umumnya tidak hiruk-pikuk. Kita terkesan oleh banyaknya gambar dengan latar lebar, samar-samar, atau kosong. Perhatian kita bulat terpusat pada sosok terpenting. Dan sekiranya boleh meminjam istilah dari retorika: poster Jepang banyak memakai “elipsis” - melenyapkan unsur kata atau gambar yang tak pokok bagi pemahaman.
Orang Jepang, yang mengenal dari dekat masyarakatnya, melihat sepotong kata Parco di sudut sebuah poster. Dan segera diketahuinya bahwa ia berhadapan dengan sebuah promosi toko serba ada (department store), “Kodansha Ltd.”, sebuah penerbit. Oleh rata-rata orang Indonesia yang menonton pameran ini, sandi budaya (cultural code) ini tidak dikenalnya, maka poster tidak berkomunikasi. Termasuk ke dalam sandi budaya ini adalah bahasa dan tulisan Jepang, yang terdapat pada hampir semua poster. Maklum, pada umumnya poster yang dipamerkan ini ditujukan kepada khalayak Jepang. Tulisan, meski berisi seruan, dalam poster Jepang bisa terbaca hanya pada jarak dekat. Misalnya dalam poster perdamaian JAGDA rancangan Takasumi Noda, Satoshi Watanabe, dan Miyuki Tsujii. Di situ ada seruan yang tak terbaca dari jauh: “Let us, peace jellybeans, besiege every war bullet!” (Marilah kita, gula-gula-agar perdamaian, mengepung setiap peluru peperangan!).
Kata atau huruf bisa terlindung di dalam kegelapan, pada suatu jarak. Misalnya dalam rancangan Masakazu Tabane, poster untuk pameran desain grafis, huruf tengah dalam kata “media”. Tetapi penonton yang terbiasa dengan kata itu akan tetap membaca “media”, meski mangkir satu huruf.
Kita telah menyebutkan “sandi budaya”. Maksudnya ialah diperlukan katalog yang menyediakan kunci agar poster-poster yang dipamerkan itu dapat kita nikmati dan hargai sebagai poster. Betapapun pentingnya gambar, sangat langka poster yang berkomunikasi dengan gambar melulu.
Amati, misalnya, poster Parco yang kita singgung di muka (perancang: Kuni Kizawa). Pada gambar, kita melihat sosok seorang wanita Jepang dari kepala hingga lutut mengenakan kimono. Riasnya tak nyata. Bahkan tampak alami dan bersahaja, dengan rambut teracak sedikit oleh angin. Di bawah tampak daun padi atau rumput, sedang latar belakang adalah langit berawan tipis putih.
Ini poster apa? Tetapi bila kita tahu bahwa Parco adalah sebuah toko serba ada, pikiran kita tersangkut pada gagasan yang tertentu. Bukankah poster ini menyajikan kejepangan, sifat wajar, dan alami, keakraban - sifat yang hendak diterapkan kepada sebuah toko besar sebagai “citra perusahaan”?
Atau amati poster rancangan U.G. Sato. Gambar memperlihatkan atap genting sebuah rumah. Poster perusahaan genting? Bukan. Ini poster perdamaian, menurut tulisan kecil yang tercetak di situ. Genting yang kuat, utuh, tersusun apik, menaungi kehidupan keluarga. Setiap genting membuat bayang-bayang yang mengingatkan raut siluet merpati.
Dalam kedua contoh itu, gambar digunakan tidak secara denotatif: yang dimaksud bukanlah obyek yang tergambar. Melainkan secara konotatif: yang dituju ialah asosiasi pikiran yang tergugah oleh obyek itu.
Demikianlah pula, misalnya, dalam Hiroshima Appeals (Hiroshima Mengimbau) 1987, rancangan Kazumasa Nagai. Kita melihat sebuah sayap merpati, putih, terkembang. Merpati bukan saja telah diasosiasikan dengan perdamaian, dalam simbolisme yang tersebar secara internasional sekarang. Ia juga unggas yang membangkitkan perasaan lembut bagi orang.
Dalam poster ini, kelembutan itu ditonjolkan dengan nuansa-nuansa atau nada-nada warna yang halus keputih-putihan. Dan dipakai bentuk retorika “antitesis”: sayap itu tertembak, bulu-bulu halus tertebar beterbangan (gagasan kekerasan).
Nyaris sejalan dengan itu adalah Hiroshima Appeals 1983 rancangan Yusaku Kamekura. Di sini sejumlah kupu-kupu, dengan sayap terbakar, berjatuhan di udara.
Pemakaian gambar seperti itu tidak mudah mengatakan, kapan kita berhadapan dengan perumpamaan dan kapan dengan metafora alias kias. Sebuah gambar sederhana, mirip piktogram, menyajikan citra tangan sedang memperbaiki kebulatan dunia, tentulah sebuah metafora dalam Hiroshima Appeals 1985 karya Shigo Fukuda.
Pengulangan juga bentuk retorika yang tampak pada sejumlah poster yang dipamerkan. Dalam beberapa poster, ini dipakai untuk mengungkap gagasan “sangat banyak” seperti dalam poster jellybeans Takasumi Noda tersebut di muka. Dalam poster 3-rd International Design Competition (Lomba Desain Internasional Ke-3), Osaka, 1987 (perancang: Kenny-Lui-Kam Yuan), motlf wajah patung Venus dalam bundaran diulang-ulang dengan variasi tampak terpiuh seperti bayangan dalam air. Dengan demikian, kita dibawa ke tema lomba desain itu: air.
Jalin-berjalinnya kata dan gambar secara canggih diperlihatkan oleh poster berikut. Gambar memperlihatkan, di sebelah kiri, menara penjagaan. Di kanan, sosok seorang lelaki, mengenakan mantel panjang, mengempit buku. Ia memegang kaca pembesar, yang didekatkan ke matanya agaknya ia seorang penyelidik. Tulisan Jepang di tengah, konon, berisi kata bansai (hiduplah) dan hansai (tangkaplah). Dua kata itu sangat mirip bunyinya, tetapi beda artinya. Tentu, orang yang menyelidiki dan mengetahui subtilitas kata-kata seperti itu adalah mereka yang mengenal pustaka. Di sudut bawah poster, tercetak kecil saja: Kodansha Ltd., nama sebuah badan penerbit. Poster promosi dagang yang halus ini dirancang oleh Shotaro Sakaguchi.
Tentu, dalam poster sejumlah tadi Anda dapat menemukan bermacam ragam cara ungkap, bermacam bentuk retorika, yang dapat Anda nikmati dan kagumi. Semua itu, juga didukung oleh fotografi dan percetakan yang jitu, mampu menampilkan nuansa seberapa halusnya pun. Sebagian karena faktor ini, maka poster promosi perusahaan, misalnya dari Dai Nippon Printing (rancangan Chieko Iwagaml) kehilangan kekasaran dagangnya. Poster memadukan reproduksi wajah Monalisa dan foto wajah patung Venus menampilkan nuansa dan rinci.
Kiranya pameran ini sangat berfaedah bagi para perancang grafis kita, dan bagi para penggemar seni rupa dan khalayak ramai pada umumnya. Bagi yang pertama, karena mereka dapat belajar banyak, terutama mengenai berbagai bentuk retorika poster yang tampaknya di negeri kita belum banyak dijelajahi dan dipelajari. Bagi golongan kedua, untuk memperluas apresiasi. Poster juga dapat dinikmati, bukan sebagai lukisan, melainkan sebagai poster. Menikmatl sebuah poster sebagai poster bisa juga berarti menikmati sebuah puisi.
Sayang, dalam pameran ini tidak ada katalog. Yang dibuat dan disebarkan IPGI adalah selipat berisi kata sambutan, sejumlah reproduksi karya yang dipamerkan, ucapan terima kasih, dan nama-nama perancang grafis. Belum katalog yang sebenarnya. Padahal, itu bisa memberi informasi dan mengantar para penonton memasuki belantara poster Jepang - kebanyakan gelap karena bahasa dan tulisannya.
IPGI didirikan pada 1980, dengan tujuan memberi wadah dan forum bagi profesi baru. Yaitu rancang grafis (desain grafis) yang merupakan pelengkap industri penerbitan, periklanan, penerbitan media massa cetak, hubungan masyarakat, kemasan, dan biro penerangan. Ia memperjuangkan agar profesi ini diberi tempat, perhatian, dan pembinaan dalam rancangan grafis Indonesia.
Penyelenggaraan pertama IPGI ini merupakan awal kerja sama dengan JAGDA. Maka, pameran seperti ini dapat kita harapkan berangkai.
Sumber: Majalah “Tempo”, 20 Februari 1988, halaman 74-75.
Yuzaku Kamekura, Poster, “World Design Exposition ‘89 “
UG Sato, Poster, “JAGDA Peace Poster Exhibition”
comment (1) // trackback September 21st, 2007
Pameran Desain Jepang-Indonesia: Jepang Agresif, Indonesia Mengalah
oleh: Agus Dermawan T
Di tengah bulan Februari ini Jakarta mendapat tamu seni rupa cantik-cantik. Yang pertama datang dari Jerman. Dengan menggotong nama Jugendstil atau Art Nouveau atau Modern Style, sang tamu menyodorkan puluhan reproduksi monumen-monumen desain seni terapan, yang lahir di sekitar akhir abad ke-l9 dan abad ke-20. Sebuah pameran yang menunjukkan, betapa kuasa desain yang ditokohi Henry van de Velde, Olbrich, Victor Horta dan lain-lain itu merambah segala rupa benda di Eropa, Amerika bahkan dunia.
Yang kedua ialah kehadiran tamu dari Jepang. Dan masih berkisar pada seni terapan, Jepang kali ini menampilkan desain-desain poster pilihan, yang dijumput dari koleksi Jagda (Japan Graphic Designers Association). Bila jugendstil dipamerkan di Gedung Pameran P dan K, poster Jepang di Galeri Pasar Seni Ancol, Jakarta. Dan apabila jugendstil menampakkan kekuasaan desain pada segala rupa benda di dunia, maka Jepang juga memperlihatkan betapa desain-desain poster, seniman negeri Matahari itu telah meruyak jagad. Sehingga lantas muncul, sebutan Jagda mungkin plesetan dari jagad, alam besar yang diam-diam digenggamnya. Pergelaran 196 poster Jepang itu dibarengi dengan puluhan desain grafis karya desainer Indonesia. Tak hanya dalam bentuk poster. Ada sejumlah leaflet, brosur, halaman majalah, logo dan sebagainva. Karena itu, pameran yang berlangsung tanggal 9 sampai 15 Februari ini harus dibilang penuh warna. Dan secara serta-merta memberikan kesadaran kepada banyak orang, bahwa karya-karya cetak yang selama ini hadir dalam kancah massal, merupakan suatu “seni tinggi” yang tak musti dilihat sepintas. Pameran itu memaksa kita untuk membuat penyimakan.
KICAU BURUNG BATU
Galeri Ancol yang dua susun disemaraki benda-benda cerlang itu. Dimulai dari lantai atas, pesona grafis poster Jagda yang umumnya berukuran besar-besar itu berbicara. Beragam tema muncul. Namun yang dominan nampaknya yang bercuap-cuap soal perdamaian. Dan mereka berhasil benar menutulkan sentuhan.
Poster karya Hiroshi Sato misalnya, Birds Sing Too “Peace”-”Peace”-”Peace”. Sebuah poster in door yang mengusik rasa puitis, dengan perwujudan potret patung-patung burung yang dibuat dari batu dan besi. Tiga burung simpel dan simbolik tersebut nampak murung di sela-sela kicaunya sendiri yang pendek dan terputus-putus. Peace peace peace… Sebuah poster imbauan, yang amat lembut dan karikatural.
Ini berbeda dengan yang ditampilkan Kazumasa Nagai dalam Hiroshima Appeals 1987. Sebuah kilatan cahaya membelah kegelapan. Dan dalam rupa, kilatan menyilaukan itu meledak mengguntur. Tapi coba perhatikan, kilatan cahaya itu ternyata ialah bayangan sayap merpati, yang luruh bulu-bulunya, dan patah tulangnya. Satu gambar yang mengidap provokasi amat estetik!
Ide, yang diimbuh oleh kekuatan sugesti lewat drama dan puisi, divisualisasikan seniman-seniman Jepang dengan tangkas. Hingga dari padanya lalu terlahir desain-desain poster yang tak cuma berpesan verbal, sloganistik dan dangkal. Seperti layaknya seni murni, poster-poster Jepang merayap menuju kedalaman dialog, melalui desain-desain gambar yang penuh metapor, simbol, atau idiom-idiom umum yang diolah kembali.
Pada poster-poster tentang produk, hal itu juga merebak. Desain poster Shiseido karya Mitsuhito Nishimura misalnya, ialah puisi rupa yang diupayakan oleh bangunan komposisi, antara closed up buku dan jajaran indah botol-botol kuteks. Dan sebagainya dan sebagainya.
Jagda memang mengumpulkan sejumlah besar karya desainer bergengsi Jepang. Dikumpulkan dalam sebuah paket terseleksi, karya-karya itu ditawarkan sebagai materi pameran di banyak negara. Dan tentu saja, dengan meyakini kreativitas serta kesungguhan plus kecanggihan teknologi grafis mereka, poster-poster itu merupakan kekaguman khusus. Merangsek karya-karya lain yang seharusnya juga dapat diacungi jempol bersama-sama. Dan hal itu, terjadi dalam pameran yang disponsori Japan Foundation, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB serta IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) itu.
Hiroshi Sato, Poster, “Birds sing too “Peace” “Peace” “Peace”
Kazumasa Nagai, Poster, “Hiroshima Appeals 1987 “
Mitsuhito Nishimura, Poster, “Nail Enamel”
SEPETAK KAPLING
Begitu kuatnya dominasi poster Jepang, tak hanya ruang atas saja yang diwajibkan memajang, tapi juga ruang bagian bawah galeri. Akibat dari semua itu ialah, terhimpitnya karya-karya desainer Indonesia, yang dari aspek ukuran dan jumlah sudah dari awal kalah. Maka, dengan jumlah kapling display yang cuma “sepotong”, kenikmatan menonton rancang grafis Indonesia jadi tinggal “sekadarnya”. Padahal yang tersaji adalah sejurnlah upaya maksimal anggota-anggota IPGI, yang tak harus terlesak di bawah bayang kekuasaan desain grafis Jepang.
Betapa pun Creatures of Paradise, Killed by Prestige, poster imbauan buah tangan Tjahjono Abdi bukanlah poster kelas dua dunia. Poster yang memanifestasikan kisah kepunahan itu (lewat kematian burung-burung), ialah suatu karya visual yang menawarkan renungan panjang. Desain iklan cat karya Vicky Gosal, poster sandiwara karya Harsono, logo Wagiono juga merupakan tawaran pemandangan desain grafis memikat.
Tjahjono Abdi, Poster, “Creatures of Paradise, Killed by Prestige”, 1988 (?)
Vicky Gosal, Print Ad, “Kami Kebal Terhadap Segala Cuaca”
FX Harsono, Poster, “Opera Kecoa”, 1985
Begitu pula sederet desain grafis majalah wanita yang ditangani oleh perancang-perancang perempuan, yang begitu memperlihatkan antusiasme merespon kemungkinan teknologi grafis di sini. Tapi sayang, karya-karya tersebut, dalam pameran ini tidak terhadir dalam posisi yang tegar meyakinkan. Sehingga dalam selintasan, pameran tersebut kelihatan milik poster Jepang, dengan karya-karya Indonesia muncul sebagai pendamping.
Padahal IPGI, sejak kelahirannya 1980 lalu sudah menapakkan langkah besar. Pameran besarnya di Jakarta 1983, bahkan sempat disinggahkan ke beberapa kota di Indonesia, merupakan proklamasi eksistensi kerja-seni yang relatif baru berkembang di sini itu. IPGI nampak terlampau mengalah.
Ada yang mengatakan bahwa, terlesaknya desain Indonesia dalam pameran ini hanyalah karena agresivitas Jepang yang tak bisa ditawar-tawar. Atau mungkin memang seperti yang dilukiskan dalam poster pameran itu? Begini. Di dalam sebuah kipas bertangkai pinsil, tergambar figur wayang (simbol desainer Indonesia) dengan wajah ketakutan. Di hadapannya, seorang pemuda Jepang yang tersenyum menang. Dan wayang Indonesia itu tangan kanannya dilukiskan memegang kuas. Sementara Jepang, memegang alat grafis, air brush, hanya dengan tangan kirinya. Ya, dilawan dengan tangan kiri saja, desainer kita sudah takut….
Desain poster Tjahjono Abdi itu, berita atau isyarat? Hayoooo.
Sumber: Harian “Kompas”, Minggu, 14 Februari 1988, halaman X.
comment (0) // trackback September 20th, 2007
MORE is MORE. Mengapa tidak?
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Proses lahirnya identitas dan total ekspresi Kampanye Samsung Beijing 2008 Worldwide Partner-diluncurkan resmi bulan Juli 2007 hingga musim panas 2008.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
oleh:
Henricus Kusbiantoro
art director, Kampanye Samsung Beijing 2008 Worldwide Partner.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Pada umumnya tampilan “logo partnership branding” atau kerja sama antara kedua merek atau logo memilih komposisi (logo signature) yang sangat sederhana, mengekor standar, to the point bahkan dalam visualisasi estetik kadang terlihat tidak menarik, generik, “not fun”, cenderung membosankan. Mungkin bagi desainer grafis lebih memandang proyek partnership branding ini sebagai “bread and butter” pemasok uang ketimbang sebuah koleksi portfolio grafis yang membanggakan.
Eksekusi grafis ini umumnya terjadi pada partnership branding dalam pesta akbar Olimpiade atau pesta olahraga dunia lainnya. Sebagai contoh, visualisasi partnership branding dari logo GE bersanding dengan logo Pesta Olimpiade Athena 2004 ditampilkan hanya dengan batas garis vertikal di antara kedua logo untuk menvisualisasikan citra kerjasama keduanya. Pada akhirnya tampilan logo partnership branding tersebut terlihat begitu sederhana, jernih, mudah dimengerti tetapi sekaligus kehilangan ekspresi nan unik, jauh dari provokatif dan tidak ada bedanya dengan partnership branding antara merek-merek lainnya. Sebuah “jalan yang aman” dan mudah dilupakan publik.
Di Pesta Akbar Olimpiade Beijing 2008, Samsung hadir sebagai official partnership branding dengan agenda yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Samsung menabuh genderang “design pitching invitation” dengan beberapa konsultan merek internasional di Bulan Mei 2006 dengan brief: Samsung membutuhkan sebuah logo partnership branding yang berbeda, tidak generik, “customized” dan menggarisbawahi citra moderen dan aktual dengan positioning sebagai teknologi komunikasi di Pesta Akbar Olahraga Musim Panas mendatang.
Samsung dengan tradisi kultur Asia yang kental menantang ahli strategi merek dan desainer grafis di konsultan merek untuk menghadirkan logo partnership brand yang bisa merangkul dua konsep kultur sekaligus. Konsep heritage Samsung sebagai salah satu perusahaan teknologi garda depan terkemuka dunia dipadu dengan karakter grafis unsur lokal kota Beijing-Cina sebagai penyelenggara Pesta Akbar Olahraga Dunia.
Sejujurnya, sebuah tantangan yang beresiko tinggi. Dalam kondisi ini, prinsip LESS is MORE tidaklah primadona. Umumnya tuntutan kultur Asia dan kerjasama bisnis antara Samsung dan komite Olimpiade Beijing secara tidak langsung menunjuk prinsip MORE is MORE sebagai jawaban visualisasi kampanye. Konsep kampanye yang mengkomunikasikan Samsung sebagai garda depan pendukung teknologi pesta olimpiade tidaklah cukup! Komite Olimpiade Beijing 2008 menuntut elemen grafis kultur lokal Cina dapat dipadukan dengan harmonis dengan ekspresi atau “spirit” teknologi Samsung.
Memadukan dua konsep filosofi dan grafis yang berbeda dalam satu citra totalitas merek sah-sah saja diimplementasikan. Yang menjadi pertanyaan besar adalah seberapa kadar atau level harmonis “sejoli” tersebut. Output ekspresi kampanye dapat berujung menjadi sosok “Frankenstein”, sekedar tempelan sana-sini atau kisah sejoli Cinderella. Happy Ending.
Samsung menjatuhkan pilihan dengan proses yang alot dan waktu yang melelahkan kepada Konsultan merek kantor pusat Landor Associates, San Francisco setelah bergulirnya ide besar Kampanye yang memadukan visualisasi heritage struktur oval Samsung sebagai “cincin energi” perlambang “sport and technology passion” dengan elemen grafis tradisional kota Beijing yang mewakili bentuk dekoratif awan sebagai lambang kekuasaan yaitu otoritas dan kesempatan yaitu kota Beijing itu sendiri.
Melalui proses desain yang panjang selama setahun penuh, tim desainer Landor untuk Kampanye Samsung Beijing 2008 ikut merasakan sebuah proses unik dari pemikiran MORE is MORE yaitu dua konsep besar visual yang berbeda, kini hidup bersama, berpadu bahkan kini diharapkan tampil menyatu tanpa menjadi “chaotic”. Suksesnya sebuah kampanye grafis “cross-heritage business and culture” seperti Samsung tidak berbeda dengan perumpamaan ukuran keberhasilan sebuah negara “melting pot” seperti Indonesia. Dibutuhkan pengorbanan dan keterbukaan untuk saling menerima, berpadu mencapai harmonisasi. Pengorbanan bagi desainer grafis untuk melupakan ego gaya grafis yang dianggap baik olehnya untuk mencapai target komunikasi yang berhasil dan problem solving.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Samsung Beijing 2008 Worldwide Partner
Brand Agency/ Landor Associates-San Francisco
Ad Agency/ JWT Seoul, Cheil Communications Inc.
Creative Director/ John Besford
Art Director/ Henricus Kusbiantoro
Identity Designer/ Henricus Kusbiantoro
Copywriter/ John Besford, Henricus Kusbiantoro
Designer/ Henricus Kusbiantoro, Laura Mango
Illustrator/ Henricus Kusbiantoro, Renee Solorzano
Project Director/ Emily Miller, Thom Wyatt
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
NOTE: Kampanye Samsung Beijing 2008 Worldwide Partner sudah dimplementasikan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Kampanye ini bisa dilihat melalui link web banner di Kompas online, Detik online atau langsung ke situs Samsung Indonesia.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Henricus Kusbiantoro MFA
Saat ini bekerja sebagai senior art director di Landor Headquarter Brand Consultant San Francisco dan pengajar di program master desain grafis Academy of Art University. Henricus yang juga alumnus Wolff Olins Brand Consultant New York (2002-06) memulai karier desain grafis di LeBoYe Jakarta (1996) sebelum akhirnya hijrah ke New York dan bekerja di biro legendaris Pushpin Studio dan Chermayeff Geismar New York. Jebolan desain grafis ITB Bandung dan Pratt Institute New York kini menetap di San Francisco bersama Yuliana dan Theo.
comment (6) // trackback September 16th, 2007
Aspiring designers compete for $100,000 in scholarships at International Academy of Design & Technology
Aspiring designers have a chance to win full graphic design scholarships worth more than $100,000 towards an online education at the International Academy of Design & Technology (IADT).
The IADT Online Design Your Future scholarship contest, co-sponsored by Adobe Systems Incorporated, a leading provider of creative software solutions, opens today at IADT Online’s new social networking community, VisualDiner (www.VisualDiner.com). Anyone interested in pursuing a design degree can enter the contest and try for the prizes which include a graphic design scholarship towards an Associate Degree, a scholarship towards a Bachelor’s Degree, and a variety of other great prizes from Adobe Systems, Wacom Technology, and lynda.com.
To be eligible for the design scholarship competition, entrants must submit a single image that showcases their design potential, as well as a brief essay explaining why they want to pursue a design education, by Friday, September 28, 2007. The top ten finalists will be announced on Friday, October 12, 2007 and the final winners will be announced on Friday, October 26, 2007 after two rounds of judging.
• Round One: IADT faculty and staff will select 10 finalists from among the entries.
• Round Two: A panel of prominent judges will evaluate each finalist’s entry to determine the winners of the competition.
The competition’s prizes include design scholarships as well as software and hardware.
• First place will receive a scholarship towards a Bachelor of Fine Arts degree in Graphic Design at IADT Online that is worth nearly $70,000.
• Second place will receive a scholarship towards an Associate of Science degree in Graphic Design at IADT Online that is worth nearly $35,000.
• Other winners will receive prizes from among a group that includes Adobe’s CS3 suite of design and production software, digitizing tablets from Wacom, and subscriptions to the lynda.com Online Training Library, a leader in design tutorials.
A high demand for online education is what sparked IADT, well known as a degree-granting institution that specializes in providing high quality design education, to add a virtual campus to its on-ground operations. Students searching for IADT’s career-focused education now are able to pursue associate or bachelor’s level degrees in graphic design, an associate degree in web design, or a bachelor’s degree in web development – all at their own pace and with a flexible schedule. IADT Online will blend the school’s knowledge and expertise in design education with innovative methods developed at IADT’s two sister schools – major online universities that have extensive experience delivering advanced education through online delivery channels.
“IADT Online is equipped with the experience in design and technology education, a highly-dedicated faculty, and a student-friendly Virtual Campus,” said Sunny Sharma, Executive Director of IADT Online. “Tomorrow’s designers looking for a flexible way to acquire a great education have found a solution in IADT Online.”
“Raw design talent isn’t enough today – formal education and real-world training are essential components for success in the fields of design and, by giving the gift of education to winners of IADT’s Design Your Future contest, we hope to cultivate a new generation of leading designers,” said Mark Page, Managing Director of the International Academy of Design & Technology.
As a complementary resource to the IADT Online virtual campus, the school has also launched VisualDiner.com, a new social-gathering and networking Web space for artists and designers to gather, post their work, share their vision, and meet their peers. “The Diner” – home to the IADT Design your Future scholarship contest, co-sponsored by Adobe Systems – is open to design professionals, students, and anyone else interested in the world of design.
For information on IADT Online, please call 1-888-247-IADT (4238) or visit www.iadtonline.com. For additional information about the IADT Design Your Future scholarship contest, or on VisualDiner, please visit (www.VisualDiner.com).
•••
About IADT
The International Academy of Design & Technology, founded in the 1970s with a single location, is a vibrant and growing college committed to providing students with an education that delivers today’s technology into the classroom and tomorrow’s creative professionals into the workforce. Today, IADT has 11 physical locations in the United States and Canada and continues to grow.
About IADT Tampa and IADT Online
IADT Tampa, established in 1984, is a degree-granting institution that offers courses through its physical campus as well as through its virtual channel – IADT Online, the flexible way to earn a degree without the limitations of geography. Combining the technological expertise of two sister schools, major online universities that have provided education to thousands of satisfied alumni, with decades of its own experience delivering a design education that matters in the real-world, IADT provides an education that is both accessible and flexible, and that employers can trust.
The International Academy of Design and Technology is accredited by the Accrediting Council for Independent Colleges and Schools to award associate, bachelor’s, and master’s degrees. The Accrediting Council for Independent Colleges and Schools is listed as a nationally recognized accrediting agency by the United States Department of Education and is recognized by the Council for Higher Education Accreditation.
Career College Central is the definitive voice of the career college sector of higher education. Career College Central offers direct access to career college news, press releases, sector-related blogs, poscasts, videocasts and more.
comment (0) // trackback September 14th, 2007
Communication Arts Design Competition
2008 Graphic Design Annual
Juried by nine top design professionals and attracting entries from 20 countries, each year’s Design Annual features 250 pages of the best work in posters, brochures, packaging, trademarks, corporate identity, annual reports, catalogs, letterheads and signage, and is fully indexed for reference.
Published each November, 70,000 copies of the Design Annual will be distributed worldwide, assuring important exposure to the creators of this outstanding work.
The Design Annual incorporates special reproduction techniques developed by CA, including quality 175-line color separation and printing on premium 80 lb. coated paper by one of the finest printers in the United States. Everything that was originally in color is reproduced in color at a size that allows the concept to be understood.
Of the 9,286 entries to the 2007 Design Annual, 249 were accepted, making the Design Annual the most exclusive major graphic design competition in the world.
_________________________________________________________________________________
Entry Requirements
Design Annual Categories/Fees
These categories are judged by the graphic design jury and will appear in the 2008 Design Annual:
Audio/Visual Packaging: $35 single entry/$70 series
Packaging/Labeling: $35 single entry/$70 series
Identity: $35 single entry/$70 series
Integrated Branding Program: $250
Letterhead: $35 single entry/$70 series
Company Literature: $35 single entry/$70 series
Poster/Design: $35 single entry/$70 series
Editorial: $35 single entry/$70 series
Books & Jackets: $35 single entry/$70 series
Self-Promotion: $35 single print entry/$70 print series/$90 single video entry/$180 video series
Motion Graphics: $90 single entry/$180 series
Public Service: $35 single print entry/$70 print series/$90 single video entry/$180 video series
Environmental Graphics: $70 series
Miscellaneous/Design: $35 single print entry/$70 print series/$90 single video entry/$180 video series
Eligibility
All work must have been printed, published or aired for the first time between June 3, 2007 and June 1, 2008. Publication means an ad appeared in a form of mass media exposed to a substantial audience. Entries may originate from any country, but we need an English translation for the jurors. Submission of entries acknowledges the right of Communication Arts to use them for publication and exhibition.
Preparation of Audio/Visual Entries
Submit motion graphics on 3/4″ U-matic NTSC, Beta SP NTSC, DVD NTSC (viewable on a standard dvd player) or CD-ROM. Include 10 seconds of black, no slates or bars. Single entries must be on individual cassettes/disks. Series should be edited together on one cassette/disk with 4 seconds of black between each entry. Computer-based formats such as Quicktime or Flash should have a maximum screen size of 1024 x 768. Tape Form B to the outside of each disk/video case.
Preparation of Print Entries
Submit ad tearsheets or proofs, unmounted and trimmed as they appeared. Do not tape series together. Send annual reports, brochures, folders, books, catalogs, etc., in bound form. For posters over 18″ x 24,” packaging, displays, signage, submit JPG files with a resolution of 1024(H) x 768(V) on CD-ROM. Trademarks must be centered on an 81/2″ x 11″ sheet. Place the company name and nature of the business next to the mark.
Preparation of Packages
Address packages to Communication Arts Design Annual 2008. Non-United States contestants should mark each package “Materials for Contest Entry. No Commercial Value.” No provision will be made by CA for U.S. Customs or airport pickup. International entries should be sent by post or international courier. All entries must be received by June 2, 2008.
Accepted Entries
Only accepted entries will be notified on or before September 12, 2008. Complete credits and any necessary material for the best possible reproduction in the Annuals will be requested at that time. Award of Excellence certificates for firms, individuals and clients will be mailed in January 2008.
How the Judging Takes Place
The nine jurors work in screening teams of three. Judges are not permitted to vote on work they were directly involved in. Each category is distributed into three parts so each group screens one-third of the entries.
Print entries are spread out on tables by category. Most categories require several room setups. Each juror views the entries independently. Any juror can put an entry into the final voting by picking it up from the table. Digital entries are selected by checking an “in” or “out” column on prepared scoring sheets.
For finals, all nine jurors work as a single team. In one hall, print entries are again spread out on tables by category. Two paper cups, one white and one red, with slots cut in the bottom, are placed upside down to the right of each entry. White cups are for “in” votes, red cups for “out.” Each juror votes with different colored ceramic tiles by putting his or her tile in the appropriate cup.
After all the jurors finish voting on print, they move to another hall for digital files. Again, voting is done by each juror checking the “in” or “out” column on scoring sheets.
Meanwhile, in the print hall, if the votes do not total nine, a check of the tile colors tells the Communication Arts staff which juror has inadvertently missed that piece and he or she is called back to vote.
After the judges make their selections, their votes are tallied. A simple majority is usually required to place a finalist into the Annual.
_________________________________________________________________________________
Design Annual FAQs/Frequently Asked Questions about applications and file formats.
• When is the deadline?
Deadline: June 2, 2008.
• Will there be an extension?
Log onto our Web site the day before the due date to see if we have decided to extend the deadline.
• Do you offer a cash prize?
We do not offer a cash prize. The winners are featured in one of our annuals and over 70,000 copies are distributed worldwide.
• Can I submit my work via e-mail and just include a credit card number with it?
No work can be submitted by e-mail, fax or FTP. Credit card information can be filled out at the bottom of the A Form.
• Will you confirm receipt of my package(s)?
The best way for you to track your package(s) is to contact your carrier. We are unable to acknowledge receipt of your package(s) until your submission(s) has/have been processed. At that time you will receive an e-mail confirming that your package(s) has/have been received, along with your assigned entry number(s).
• Will my entries be returned?
Because of the number of entries we receive, it is not possible for us to return any of them.
• I have already sent in my submission, can I still make a change?
No, we are unable to locate individual pieces. If you want to submit additional entries, please submit a new package.
• Can we send actual packaging instead of JPGs?
Yes, if it is not too large, or if it is necessary to communicate the entire design.
• Can I enter one project into two separate categories?
Yes, just make sure to submit a duplicate entry for each of the categories you are entering and attach a separate B Form on each submission.
• Can I enter my work as a series?
Yes, but all work in a series must be part of the same campaign. When works are submitted as a series they are judged together as a group. The overall strength of the series depends on each individual piece and its function within the campaign.
• If my entry is accepted, what will you use for reproduction?
If your work is accepted we will request necessary reproduction materials at that time.
• How do you want trademarks/logos presented?
Send an unmounted output with the trademark/logo(maximum of 4” square) centered on a 8-1/2” x 11” sheet. Text with the client name and nature of the business should appear under the mark for the judges’ information.
• Where do we put creative credits?
All we need is the contact information of the person submitting the work along with the name of the design firm or agency. The name on the A Form and B Form must be the same. Creative credits will be requested if your work is chosen for inclusion in the magazine.
• I have a poster bigger than 18” x 24”, can I send it in a mailing tube?
We don’t recommend it; mailing tubes (and the posters inside them) usually arrive damaged. If you must send a poster, send it in a flat package or submit JPG files with a resolution of 1024(H) x 768(V) on CD-ROM.
• I’m entering a series, do I pay $70.00 for each piece in the series or $70.00 for the whole thing?
$70.00 for the complete series.
• We’re waiting on the check from our accounting department. Can we have an extension?
Can we have an extension? Please send your entries now, with a note saying that the check is coming under separate cover. Or simply pay by credit card. We accept Visa, MasterCard and American Express.
• When will we know if our entry was chosen?
If your entry is chosen we will notify you on or before September 12th. Because of the number of entries we receive, we can only notify people whose work is accepted.
• I don’t know which category to put my piece in?
Choose the category that you feel best fits your submission. If we feel another category is more appropriate, we will move it; your work will not be penalized or disqualified.
• Do you accept work on disk?
Online design must be submitted on CD-ROM. If the ad consists of multiple files such as SWFs, please embed the project in one HTML document. Tape a B Form to the outside of each disk case. Web sites submitted as part of an integrated branding program (7C) should be submitted as a maximum of five hard-copy printouts. For posters over 18” x 24,” packaging, displays, signage, submit JPG files with a resolution of 1024(H) x 768(V) on CD-ROM. Digital files will be projected for the judges. Digital images with a vertical format must have a height no greater than 768 pixels.
If your work is a multimedia project you may want to submit it to our Interactive Design competition (the deadline is January 12th).
• Can I submit multiple entries on one CD?
Yes. Make sure to submit one B-form for every entry and reference the file name on the B-form. If you are submitting a series please end all file names with sequential numbers (example: myImage1.jpg, myImage2.jpg, myImage3.jpg) and enclose each series in its own folder.
• How do I enter a Web site?
If you would like your project judged for its visual design, submit it as a series of captured screenshots and submit it in the 20H category of the Design Competition. If the Web site is part of an integrated branding program (7C) or integrated advertising campaign (19C), include captured screen shots and the URL along with all of the other components of the campaign.
If it is only the Web site you want judged, enter it in our Interactive Design competition by January 11, 2008. More information on this competition will be available on our Web site later in the year.
• Is there a category for student work?
Student work is accepted as long as it was created for an actual client, and not a school project. The Illustration and Photography competitions both have Unpublished categories for student work, but the Design competition does not.
• Is there a category for Illustration, Photography and Interactive Media in the Design Competition?
No. Work in these categories should be submitted to the Illustration Annual, Photography Annual and Interactive Design Annual, which are separate juried competitions published in July, August and September.
Visit the site: www.commarts.com/CA/ to learn more.
_________________________________________________________________________________
Entry forms for 2008 are not yet available.
comment (0) // trackback September 11th, 2007
Tanya Jawab Bersama Henricus Kusbiantoro
oleh: Indra Triwahyudy/publikasi BAJIGUR!
Senin, 27 Agustus 2007
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Interview ini dipublikasikan saat Festival Iklan Pinasthika 2007 di Jogjakarta.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
> PERTANYAAN: LAGI MENGERJAKAN KAMPANYE APA SAAT INI MAS?
Samsung Worldwide Partner in Beijing 2008. Baru launch bulan Juli kemarin, kampanye ini dimulai di Beijing dan menyebar ke belahan dunia lain hingga d-day.
> KAPAN AWAL TERBERSIT TERJUN KE DUNIA BRANDING?
Saya sendiri kurang mengerti apa itu branding saat kuliah dulu di desain grafis ITB Bandung. Sejak kuliah di Trisakti tahun 1992 dan ITB tahun 1993 saya sudah menyukai logo. Bahkan terlalu fokus ke arah corporate identity. Sedangkan teman-teman kuliah kebanyakan menyukai advertising, ilustrasi dan komik! Jarang sekali yang sibuk ngurusin logo atau branding. Passion ini berlanjut hingga ke dunia kerja.
> SEBAGAI ORANG KREATIF, BAGAIMANA PERILAKU KREATIF DALAM HIDUP MAS?
Saya sendiri bingung apa itu batasan kreativitas. Banyak yang bilang perilaku kreatif saya sedikit banyak menyusahkan orang lain terutama istri saya. Saya suka eksperimen memasak…output-nya dapur berantakan. Dunia kreatif saya agak sempit karena selalu bicara petualangan alam, dunia desain, sejarah dan hunting makanan dan museum. Membosankan bagi lulusan MBA.
> BAGAIMANA MEMULAI HARI DI SETIAP PAGI, ADA RITUAL KHUSUS NGGAK?
Berdoa bersama istri sebelum makan pagi. Doa itu penting agar hidup kita fokus.
> APA PENGALAMAN BERHARGA BAGI MAS ICUS DALAM MENDESAIN?
Membuat kartu penghiburan bagi pelayat untuk Nenek saya tercinta yang meninggal di usia 88 tahun. Nenek saya sempat tinggal di apartemen kami selama setengah tahun. Saya tidak menyangka kepergian-nya sangat cepat dan ini sangat menyentuh hidup saya. Bagi saya, tidak ada yang pekerjaan yang lebih berharga daripada merancang sebuah desain kartu bagi pribadi yang membekas di hidup anda.
> DAN APAKAH DESAIN YANG PALING MENG-INSPIRASI MAS ICUS DALAM MENDESAIN..?
Desain yang “honest”. Desain yang dirancang untuk problem solving mustilah stand out dan bukan untuk ego desainer. Walau kadang apa yang “tidak jujur” bagi saya, di mata klien bisa berarti sebaliknya. Desain yang sukses sama saja dengan “orgasme yang berhasil”. Kedua pihak selayaknya merasa puas.
Saya menyukai design approach Tibor Kalman.
> MAS ICUS, KITA TAU KALO MAS SUDAH BANYAK MEMBICARAKAN TENTANG BRANDING DAN MENANGANI LANGSUNG BRAND-BRAND BESAR BAHKAN HINGGA MERAIH BEBERAPA PENGHARGAAN, NAH BAGAIMANAKAN MEMBERI GARIS LURUS ANTARA KEPENTINGAN KLIEN DENGAN STANDAR PENGHARGAAN?
Banyak kita sering mendengar: klien tidak peduli dengan penghargaan dan hanya mementingkan profit plus marketing. Jawabannya: benar.
Banyak kita sering mendengar: klien datang khusus meminta jasa biro desain tertentu karena biro tsb. banyak memperoleh penghargaan. Jawabannya: juga benar.
> KLIEN ADALAH RAJA, BAGAIMANA MAS ICUS MENANGGAPI PERNYATAAN ITU?
Dan desainer itulah… penasehat raja.
Penting sekali untuk menjalin relationship dan bertukar pikiran dengan klien. Sudah cerita klasik bila ide brilian datangnya justru dari klien.
> KINI BANYAK KALANGAN DESAIN YANG MENYUARAKAN DESAIN UNTUK KEMANUSIAAN DAN DUNIA YANG LEBIH BAIK, DIMANA PERANNYA SECARA JELAS?
Tidak ada yang lebih penting daripada peran desainer grafis dalam aksi-aksi demonstrasi di berbagai belahan dunia. Bahkan di negara dunia ketiga sekalipun. Sebagai contoh, peran desainer informasi The New York Times tidaklah kalah berpengaruh dalam memberi informasi grafis yang akurat dan mudah dipahami bagi tragedi atau kejadian bersejarah abad manusia. Desainer grafis dan informasi memiliki peran setimpal dgn penulis kaliber Malcolm Gladwell sekalipun.
> APA SAJA GEBRAKAN DESAIN YANG SUDAH MERUBAH DUNIA? SEKEREN “OBEY” GITU DEH…
Antara NAZI, United Colors of Benetton hingga Injil.
> DESAINER GRAFIS, ART DIRECTOR DAN CREATIVE DIRECTOR MENURUT MAS ADALAH JENJANG KARIR ATAU PILIHAN? MENGAPA?
Idealnya: bukan keduanya. Desainer Grafis yang haus belajar seharusnya juga memposisikan diri dan mentalnya juga sebagai Creative Director dan Art Director. Desainer grafis terpanggil untuk merancang dan memecahkan masalah bukan untuk dirinya sendiri tetapi bertujuan persuasi terhadap klien. Bila rantai ini terputus, passion desainer grafis tersebut hanyalah semu dan ini menyedihkan. Sekedar mengagumi diri sendiri. Saya jujur mengalami masa-masa tsb.
> PERNAH KERJA JADI FREELANCER NGGAK? MENURUT MAS JADI FREELANCER TOTAL DI INDONESIA BISA HIDUP NGGAK? KALO DITANYA TETANGGA “MAS KERJANYA APA” TERUS JAWABNYA GIMANA ENAKNYA?
Pernah. Kini juga masih selain full time job. …Tentu saja freelancer bisa hidup dan berbangga di Indonesia. Nanti Freelancer and Co Jakarta nggak terima lo. Peduli amat kata tetangga. Kita nggak curi ayam kok.
> APA BRANDING ANDA TERHADAP DIRI ANDA SENDIRI?
Amazing Grace by John Newton
> ADAKAH KEINGINAN PULANG KE INDONESIA DAN BEKERJA DI INDONESIA?
Indonesia adalah love and hate relationship. Love.. karena saya bangga sebagai orang Indonesia. Hate… karena perspektif nasionalisme seringkali dibatasi oleh saya sendiri dan banyak teman2x di Indonesia. Sampai saya sadar bahwa tidaklah menjadi masalah untuk tinggal di manapun, negara manapun, bila berbicara mengenai kesempatan, petualangan dan pengalaman. Mungkin Shanghai, Berlin, Afrika Selatan dan Dubai adalah kesempatan emas. Saya sendiri belum juga menemukan kesempatan paling tepat di Indonesia.
> KALO SEANDAINYA MAS DITAKDIRKAN SEBAGAI PEGAWAI PEMDA DI KANTOR KELURAHAN, APA YANG BAKAL MAS LAKUKAN UNTUK TETAP KREATIF?
Bila ditakdirkan sebagai pemda, tentu saja saya bukan orang yang tergolong kreatif tetapi hiper kreatif! Masuk kantor telat plus ngopi dan baca koran dulu saja masih bisa survive. Pasti kreatif.
Banyak desain kampanye yang bisa dilakukan pegawai pemda dari penyuluhan “dampak menikah muda” sampai dengan larangan ber-poligami.
> PESAN UNTUK MAHASISWA INDONESIA, APA SESUNGGUHNYA BEKAL YANG PERLU DIBAWA UNTUK MENJADI DESAINER GRAFIS SEJATI DISAMPING KEAHLIAN TEKNIS?
Pekerjaan desain yang ada di hadapan anda sekarang adalah kesempatan terbaik yang bisa dimiliki! Jangan pandang remeh dengan pekerjaan kecil sekalipun. Beri yang terbaik! Kesempatan demi kesempatan itulah yang akan mendewasakan kita menjadi desainer grafis yang baik. Jangan sia-siakan.
•••
Henricus Kusbiantoro MFA
Saat ini bekerja sebagai senior art director di Landor Headquarter Brand Consultant San Francisco dan pengajar di program master desain grafis Academy of Art University. Henricus yang juga alumnus Wolff Olins Brand Consultant New York (2002-06) memulai karier desain grafis di LeBoYe Jakarta (1996) sebelum akhirnya hijrah ke New York dan bekerja di biro legendaris Pushpin Studio dan Chermayeff Geismar New York. Jebolan desain grafis ITB Bandung dan Pratt Institute New York kini menetap di San Francisco bersama Yuliana dan Theo.
comment (3) // trackback September 8th, 2007
Divina Natalia
Co-Founder, DesignLab
Memulai karir sebagai desainer grafis pada tahun 1996 dengan bekerja di CNN interactive Atlanta, kemudian bekerja pada beberapa perusahaan desain di Atlanta dan di Jakarta dengan klien antara lain: CocaCola, Bank Pos, dll. Pada tahun 1998 mendirikan DesignLab bersama beberapa teman dan sampai sekarang masih aktif menyumbangkan idenya di DesignLab.
Mengenyam pendidikan Desain Grafis di American College and Portfolio Center Atlanta, lulus pada tahun 1996 dengan award “with honour”. Pernah aktif mengajar Desain Komunikasi Visual di Universitas Paramadina (2001-2003) dan Universitas Bina Nusantara (2004–2005).
Ikut aktif di Adgi sejak pembentukan Adgi yang baru.
comment (0) // trackback September 7th, 2007
Ismiaji Cahyono
Ismiaji Cahyono adalah desainer grafis dan pengajar DKV di Universitas Bina Nusantara (Binus) dan Universitas Pelita Harapan (UPH). Ia baru saja kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan studi S2-nya di bidang Visual and Critical Studies dari School of the Art Institute of Chicago atas beasiswa penuh dari yayasan Fulbright. Ia sedang merintis usaha freelancenya bersama rekannya Citra Lestari di Jakarta.
Ismiaji lahir pada 18 Oktober 1976 dan dibesarkan di Jakarta. Di tahun 1985 ayahnya mendapatkan beasiswa untuk studi S3 di Amerika Serikat sehingga memindahkan seluruh keluarganya ke sana. Ismiaji lulus Cum Laude dari DKV ITB pada tahun 2001. Tiga minggu setelah lulus Ismiaji dipanggil oleh LeBoYe Design untuk kerja full-time di perusahaan itu sebagai desainer grafis. Dalam tiga tahun Ismiaji menjabat sebagai Art Director/Assistant Creative Director. Karya-karyanya dari LeBoYe berhasil mendapat penghargaan di sayembara grafis seperti Bubu Awards, dan juga How magazine. Prestasinya meyakinkan Hermawan Tanzil untuk mempercayakan perancangan ulang logo LeBoYe kepadanya.
Selain sibuk membantu kegiatan organisasi FDGI yang mengekspos kinerja dan interaksi desain grafis dengan industri dan potensi sosial dan politiknya, Ismiaji juga menulis dua artikel untuk majalah Concept, berjudul “Perancangan Grafis dan Masyarakat” dan “Dialektika Komunikasi Visual di Indonesia.” dan pernah menjadi instruktur workshop di “Seminar dan Lokakarya Nasional Graphic Surprise” di Universitas Kristen Petra Surabaya. Ismiaji berpengalaman sebagai moderator seminar Henricus Kusbiantoro, Ian Perkins dan Fabio Gherardi di kampus Binus dan merupakan salah satu panitia kunci pameran poster internasional “Light of Hope for Indonesia” di tahun 2005.
comment (1) // trackback September 7th, 2007
Jerry Aurum
Founder, Jerry Aurum Design Company
Jerry Aurum mendirikan Jerry Aurum Design Company dan Jerry Aurum Photography pada tahun 2000, beberapa bulan setelah menyelesaikan studinya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat cum laude. Dalam perjalanan karir profesionalnya selama 7 tahun, Jerry telah mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang desainer dan fotografer yang diperhitungkan di kancah internasional. Karya-karya dan kisah suksesnya telah dimuat di berbagai media cetak dan elektronik di Indonesia dan negara-negara tetangga.
comment (1) // trackback September 7th, 2007
Peserta Pameran Grafis Jepang Indonesia-1988
Dari Jepang:
Akira Yamada
Asaba Design Co. Ltd.
Atsushi Ebina
Ayako Otsuka
Fujio Mizutani
Fumihiko Enokido
Heikichi Kodama
Hideaki Takabayashi
Hideya Kawakita
Hirokatsu Hijikata
Hiromi Naganu
Hiroshi Kojitani
Hiroshi Sano
Hiroshi Sato
Hiroshi Takahara
Hiroshi Takemura
Hiroyuki Takahashi
Ikko Tanaka
Iku Akiyama
Ikuo Amano
Iwao Matsuura
Jiro Yoshida
Jutaro Itoh
Kan Akita
Kanako Otomo
Kanesato Ando
Kaoru Kasai
Katsu Asano
Katsuhiko Shibuya
Katsumi Asaba
Katsumi Yutani
Kazumasa Nagai
Kazuo Kishimoto
Kazuo Miyano
Kazuo Suzuki
Keiichi Tanaami
Keiji Sugita
Keijiro Ozumi
Keisuke Konishi
Keisuke Nagatomo
Keizo Matsui
Kensuke Irie
Kentaro Asanuma
Kijuro Yahagi
Kiyoshi Awazu
Kiyoshi Ohmori
Koichi Sato
Koji Iwagami
Koji Mizutani
Kotaro Hirano
Kuni Kizawa
Kyaji Kotani
Makoto Nakamura
Makoto Saito
Masaaki Hiromura
Masaaki Kojima
Masahisa Nakamura
Masakazu Taniguchi
Masaki Hisatani
Masaru Sakaguchi
Masato Tsukamoto
Masatoshi Toda
Masayoshi Koide
Masmeru Aoba
Michio Miyabayashi
Minoru Nijima
Minoru Tabuchi
Mitsuhiro Nishimura
Mitsuo Katsui
Naohisa Harayama
Nobuhiko Sugaya
Ryohei Kojima
Ryosuke Matsuki
Satoshi Hatakeyama
Shigeo Fukuda
Shigeo Ohashi
Shigeo Okamoto
Shigeru Nakajo
Shin Ikeda
Shin Matsunaga
Shoichi Yabu
Shozo Muraze
Shuichi Kanamori
Shunichi Nakajima
Shunyo Yamauchi
Shuzo Kato
Sachiho Takakita
Sogen Orashi
Sumio Kobayashi
Syunichi Nakajima
Tadanori Itakura
Takaharu Hara
Takahisa Kamijo
Takanori Aiba
Takashi Nomura
Takeo Michinobu
Takeshi Ohtaka
Tateo Yagi
Tetsu Goto
Tetsu Nakanishi
Tetsuo Nishikawa
Tomohiko Nagakura
Toshiko Kawakami
Toshine Ishihara
Toshio Katagiri
Toyo Yagami
Toyosugu Itoh
Tsuneya Tanaka
Tsutomu So
U.G. Sato
WataruKajita
Yasuyuki Uno
Yoshifumi Nakashima
Yoshio Akimoto
Yoshio Hayakawa
Yoshio Kato
Yoshio Sato
Yoshiro Kato
Yuji Baba
Yukio Ikoma
Yusaku Tomoeda
Dari Indonesia:
Ade Rastiardi-Polygon
Agoes Joesoef-Polygon
Antonius Bambang Bargowo-Matari Inc.
Arianty Triutomo-Citra Indonesia
Deddy Budiman-GGI
Deni Purnama-Polygon
Dicky Mulyadi-GGI
Erwin CH-Matari Inc.
FX Harsono-Gugus Grafis
Gauri Nasution-GUA
Gendut Riyanto-Matari Inc.
Hanny Kardinata-Citra Indonesia
Harris Purnama-Matari lnc.
Ibnoe W-GUA
Iding Sunadi-Matari Inc.
Ita Oog-GUA
Johanes BW-Vision
Kis Prabowo-Matari Inc.
Lessy Sebastian-GGI
Priyanto S
Rien Edith-GGI
Soni Ahmad Saleh-Polygon
Stephanus Setiawan-Matari Inc.
Tjahjono Abdi-Matari Inc.
Tonny Parhansyah-Croc Design
Totok Novianto-Matari Inc.
Vicky Gosal-Citra Lintas
Wagiono-GGI
Wicky Martakusuma-Polygon
Yahya Ramali
Sumber: Katalog Pameran Grafis Jepang Indonesia 1988 yang diselenggrakan oleh Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) atas bantuan dan kerjasama dengan Japan Graphic Designers Association (JAGDA), Japan Foundation dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, di Galeri Ancol, Pasar Seni Ancol, Jakarta, tanggal 9-15 Februari 1988 dan di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha 10, Bandung, tanggal 26 Februari-5 Maret 1988.
comment (0) // trackback September 7th, 2007



