Desain Grafis Indonesia
Brochures (1980-1989)
Tjahjono Abdi, Brochure “Laras Antar Bangsa”, 1982
Perancang Busana: Ghea Sukasah.
Penata Musik & Gerak: Guruh Sukarno Putra.
Penata Rias & Rambut: Puspita Martha.
Perancang Grafis: Tjahjono Abdi untuk Citra Indonesia.
Ilustrator: Tjahjono Abdi untuk Citra Indonesia.
Fotografer: Bagus Yoga Nandhita.
Januari 1982.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1982, di Paris sebagai pusat budaya busana dunia, kini muncul trend yang menitik beratkan pada gaya feminin. Begitulah paling tidak gaung yang telah menyebar keseluruh pelosok dunia. Namun pada sisi lain banyak komentar yang bernada keluhan bahwa trend yang muncul di tabun 1982 ini tak bisa dijadikan pegangan. Tentu saja ini masih bisa mengundang debat.
Bahwa budaya busana belakangan ini tentu tak lepas dari kebudayaan setiap bangsa. Ditengah-tengah kesibukan industri busana internasional dan juga perubahan keadaan dunia, menjadikan dunia ini terasa semakin sempit. Sepertinya orang tak diberi kesempatan lagi untuk berteriak mengatakan bahwa ini adalah budaya miliknya. Apakah ini merupakan gejala bahwa hasil budi daya milik seluruh insan?
Jawabnya adalah; saling mempengaruhi antar sesama bangsa, dan juga saling mengisi, melahirkan kebudayaan yang campur aduk. Barangkali! Tapi pada kenyataannya kita tak bisa menghindar.
Untuk itu malam ini orang yang mahir dalam bidangnya masing-masing ingin memperlihatkan hasil pikirannya melalui pentas. Guruh Sukarno yang menata gerak dan musik, Ghea Sukasah yang merancang dalam busana.
Tanpa lupa mengucapkan terima kasih banyak kepada yang bersedia meluangkan waktu untuk menyaksikan acara peragaan busana ini, kami hanya bisa mengungkapkan bahwa fashion adalah apa yang tepat dan cocok bagi anda sesuai dengan segala hal yang meliputi diri anda.
Sumber: Kata pendahuluan pada brosur peragaan busana “Laras Antar Bangsa”, 1982.
•••
comment (0) // trackback October 8th, 2007
Books (1980-1989)
Tjahjono Abdi, Book “Museum Indonesia”, 1980
Photographers: Toky Yohari, Perry Pieter.
Graphic Designer: Tjahjono Abdi.
Graphic Advisor: Wagiono.
•••
Tjahjono Abdi, Book “Koleksi Keramik Adam Malik/The Adam Malik Ceramic Collection”, 1980
Editor: Sumarah Adhyatman.
Graphic Designer: Tjahjono Abdi.
•••
Tjahjono Abdi, Book “Baluwarti, Relief Perjuangan Bangsa Indonesia”, 1981
Executive Editors:
Chairman: Joop Ave.
Member: Bambang Sastromuldjono, Soedarmadji JH Damais.
Writers: But Muchtar, Ratna P Judiharso.
Editor: Achjadi AS.
Translator: Judi Achjadi.
Illustrations: Sutisna Sumantri, Koes Surono.
Photographers: Eddy H Waluyo, Anas Siregar.
Graphic Designer: Tjahjono Abdi for Citra Indonesia.
Printer: Jayakarta Agung Offset.
•••
Tjahjono Abdi, Book “Koleksi Lukisan Ikon Adam Malik/The Adam Malik Icon Collection”, 1982
Graphic Designer: Tjahjono Abdi for Citra Indonesia.
Photographer: Toky Yohari.
•••
Writer: CM Hsu.
Editor: Sumarah Adhyatman.
Graphic Designer: Tjahjono Abdi for Citra Indonesia.
Photographer: Toky Yohari.
Chinese Ink Paintings: Garretta Lamore.
Publisher: Yayasan Derita Cita.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
LUKISAN ADALAH SYAIR, DAN SEBALIKNYA
C.M. Hsu dan Sumarah Adbyatman, Koleksi Lukisan Cina Adam Malik, (Jakarta: Yayasan Derita Cita, 1983), 198 halaman.
oleh Agus Dermawan T.
Di bawah pohon pinus yang berdiri di sebuah bidang menghampar tanpa batas, nampak seorang tua duduk dengan arif. Ditemani seorang wanita, orang tua tersebut sedang menerima seseorang yang berlutut di depannya. “Mohon Panjang Umur,” begitu lukisan tersebut berjudul dan berkisah. Sebuah cerita klasik yang biasa dilukiskan dalam taferil-taferil Tiongkok kuno. Dan lukisan karya Zhao Yi di atas memang benar-benar kuno. Ia digarap pada zaman dinasti Liang terakhir (907-921), di zaman Lima Dinasti.
“Mohon Panjang Umur” itu sekarang jadi koleksi Adam Malik, dan tercantum sebagai lukisan pertama dalam buku “Koleksi Lukisan Cina Adam Malik” yang terbit baru-baru ini.
Lukisan terkuno dari seluruh koleksi pak Adam ini sungguh menarik. Tak sekedar pada kualitas gambarnya, tetapi juga pada kepepatan sejarahnya. Lukisan tersebut penuh dengan cap (21 buah) yang dibuat oleh para kolektor dan ahli seni yang pernah menyimpannya. Di antaranya dari kerajaan Xuanhe dengan kaisarnya Huizong (1119-1125). Dari putera ke-11 Kaisar Gaozong masa kerajaan Qianlong (1736-1795) dan lain-lain. Yang belum nampak capnya di sana justru adalah kolektor terakhirnya, Adam Malik sendiri.
Hadirnya lukisan Zhao Yi dalam kitab ini, agaknya cukup memberikan isarat kepada kita, bagaimana tingkat keseriusan seorang Adam Malik sebagai kolektor seni rupa. Dan bagaimana tingkat kemantaban buku ini untuk disimak dan dinikmati.
Lukisan Cina adalah lukisan-lukisan yang bisa bercerita amat panjang. Serba naratif, bahkan verbal dengan sentuhan-sentuhan kalimat puitis yang biasanya tercantum.
Su Shi (1036-1101), seorang sastrawan dan pelukis zaman dinasti Song, ketika membicarakan lukisan dan syair Wang Wei sempat memformulasikan gejala lukisan Cina itu dengan kalimat: “lukisan adalah syair dengan gambaran, dan syair adalah lukisan dengan perkataan.” Maka hadirlah lukisan-lukisan yang selain bisa kita lihat, juga kita baca
Kekhasan yang ditunjukkan itu, dalam sejarah lukisan Cina banyak disimpan cerita-cerita yang unik. C.M. Hsu, penyusun buku ini mengisahkan bahwa gejala masuknya syair dalam lukisan Cina dimulai ketika Kaisar Huizong yang hidup pada zaman dinasti Song (960-1279) mendirikan Akademi Senilukis Kerajaan. Kaisar Huizong mempertemukan gaya Utara dan Selatan, yang kemudian percampuran gaya itu disebut aliran Akademi Kaligrafi, entah itu sekedar catatan atau syair lantas sah tercantum dalam taferil lukisan Cina. Dan memang perpaduannya membuat lukisan Cina amat khas dan menawarkan imaji yang meluas lebar.
Lukisan adalah syair dengan gambaran, dibuktikan ketika siswa-siswa Akademi Senilukis Kerajaan itu menghadapi ujian. Mereka diharapkan melukiskan sajak yang diantaranya berbunyi begini: “Setelah pulang, menginjak bunga. Menjadi harum si kaki kuda.” Tak ada dalam pikiran kita bahwa lukisan yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian itu berbentuk: seekor kuda berlari dengan kaki depan yang selalu diiringi sepasang kupu-kupu. Dalam lukisan tersebut, tak tergambar sekuntum bunga pun!
Delapanpuluhenam lukisan Cina koleksi Adam Malik dalam buku ini, hampir seluruhnya mengajak kita berbahagia lewat mata dan bersenandung lewat syair, yang umumnya berisikan kebijakan.
Dalam lukisan “Sepasang Rusa” (hal. 80) karya Li Tingliang (hidup pada zaman dinasti Qing, 1644-1911) terdapat kalimat yang berbunyi begini: “Seratus kali kemurahan hati, untuk mana saya berterima kasih.” Kita tak tahu, apa hubungan sepasang rusa dengan terimakasih atas segala kemurahan hati. Tapi di sana kita merasakan adanya keterlibatan perasaan pelukis dengan isi alam semesta yang jadi obyek lukisannya. Semacam rasa syukur.
Lukisan Li Xia, (hal. 80) yang sezaman dengan Li Tingliang bergambar seorang tua sedang berdialog dengan anak kecil menunggang kerbau. Di dalam lukisan tersebut terbaca inskripsi: “Bolehkah saya tanya, nak, dimana ada kedai arak?/Penggembala menunjuk ke sebuah dusun dengan pohon aberikos.”
Menikmati lukisan-lukisan Cina kita sekaligus belajar melihat diri kita sendiri di tengah kesemestaan alam. Bahwa kita adalah bagian yang amat kecil dari bumi dan langit. Bahwa kita akan menjadi berarti bila kita telah bersenyawa dengan jagad lebar ini. Lukisan Wang Xianzhao, (hal. 97) juga dari dinasti Qing berkisah tentang itu dengan sangat unik dan mengharukan. Lukisan tersebut berbentuk komposisi alam luas, pohon, gunung-gunung dan beberapa rumah yang tersembunyi. Dan tak nampak figur manusia samasekali. Namun, bacalah inskripsi lukisan itu: “Ide serta goresan ngarai musim gugur tenang tanpa getaran, Adalah rahasia alam bila asap membayang tanpa kecualian/Tampak seorang tua menutup bukunya dan mengagumi sekitarnya/Kedua-duanya serasi antara alam dan manusianya.”
Kemenarikan isi buku Adam Malik tersebut tak hanya di situ. Di halaman 127 ada lukisan Cina yang menggambarkan adegan Ramayana. Dan di atas gambar Rama dan Sinta gaya “wayang wong” itu, termaktub pula kaligrafi atau inskripsi yang berupa syair. Ini karya Jiang Yudi yang dilukis tahun-tahun terakhir ini. Di halaman 140 bisa kita lihat pemandangan gunung dan sungai (seperti) di Tiongkok melatari rumah-rumah Batak. Lukisan Shi Zhongan itu juga lahir pada zaman orde baru.
Mendasarkan konsep lukisan pada falsafah kesemestaan alam, maka segala upaya adaptasi yang dilakukan oleh pelukis-pelukis Cina itu terasa sah sekali adanya. Semua bisa terjadi. Sebab, hubungan mesra antara manusia dan jagad luas ini di mana-mana harus bisa terjalin.
Dan agaknya tak hanya reproduksi berwarna serta segala terjemahan inskripsi (dalam bahasa Indonesia dan Inggris) yang bisa kita simak di sana, tapi juga gambar-gambar perlambang beserta penjelasannya.
Ragam hias sekaligus perlambang itu dilukis kembali oleh Garretta Lamore, seorang pelukis Amerika yang memang dipesan untuk itu.
Alhasil, buku Adam Malik ini lantas lahir sebagai buku senirupa paling menarik dibanding buku-buku tentang koleksinya yang lain. Bahkan termasuk paling sedap dinikmati di antara deretan porsi buku seni rupa Indonesia yang pernah lahir. Sebab di dalamnya tak hanya keindahan yang dinampakkan, tetapi juga moral. Dan keindahan itu memang moral.
(Agus Dermawan T)
Sumber: Harian “Kompas” (waktu penerbitan tidak tercatat).
•••
Hanny Kardinata, Book “Art et Culture/Seni Budaya Batak”, 1985
(This photo was taken by Rechy A Rachim).
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Writer: Dr. Jamaludin S Hasibuan.
Graphic Designer: Hanny Kardinata for Citra Indonesia.
•••
Hanny Kardinata, Book “Affandi”, 1987
(This photo was taken by Rechy A Rachim).
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Writer: Raka Sumichan, Umar Kayam.
Graphic Designer: Hanny Kardinata for Citra Indonesia.
Photographer: Toky Yohari.
•••
comment (0) // trackback October 5th, 2007
Illustrations (1980-1989)
Tjahjono Abdi, Illustration for Grafis ‘83 Exhibition, Color, 1983
Tjahjono Abdi, Illustration for Grafis ‘83 Exhibition, B/W, 1983
Kedua ilustrasi tersebut di atas adalah karya Tjahjono Abdi yang dipergunakan sebagai visual theme pameran IPGI ke-2 Grafis ‘83. Versi yang berwarna dicetak sebagai ilustrasi pada poster dan sampul katalog pameran, sementara yang versi hitam-putih dicetak pada buku kalender acara Pusat Kesenian Jakarta “Taman Ismail Marzuki”, Jakarta.
•••
Noor Wulan, Illustration for “Kartini” Magazine-1, 1986/7
Noor Wulan, Illustration for “Kartini” Magazine-2, 1986/7
Kedua ilustrasi di atas ini dibuat oleh Noor Wulan sekitar tahun 1986/7 untuk cerpen-cerpen karya Mira W, atas permintaan Motinggo Busye, redaktur majalah Kartini ketika itu.
•••
comment (0) // trackback August 28th, 2007
Posters (1980-1989)
Priyanto Sunarto, Poster “Konser Musik Kamar”, 1982
Hanny Kardinata, Poster “Indonesian Product Campaign”, 1987
Seluruh elemen desain (dasi kupu-kupu, tas belanja dengan label “Buatan Indonesia”, warna merah-putih dan hitam) dimaksudkan menggambarkan citra wanita kelas atas yang berdasarkan analisa psikologis ketika itu (tahun 1980-an):
a. Merupakan golongan yang gemar mengkonsumsi barang-barang bermerk produksi luar negeri.
b. Mode bergerak dari atas ke bawah. Kalau anjuran ditujukan ke kalangan atas, yang di bawah (kelas menengah) akan mengikutinya. Anjuran menggunakan produk dalam negeri jelas bukan ditujukan ke kalangan bawah.
Poster ini memenangkan hadiah pertama lomba poster yang diselenggarakan oleh Kementerian UP3DN (Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri), ITB (Institut Teknologi Bandung) dan P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia).
comment (0) // trackback May 23rd, 2007
Logos and Trademarks (1980-1989)
Hanny Kardinata, Logo “Taman Gandaria Valley Estate”, 1983
Priyanto Sunarto, Logo “Indonesia Pavilion Expo ‘86 Vancouver”, 1986
comment (0) // trackback May 20th, 2007
